by

Merawat Ciliwung Sebagai Wisata Urat Nadi Istana

-Opini-47 views

Jika kita mengunjungi Kebun Raya Bogor (KRB), nampak jelas gurat aliran sungai yang menjadi nadi aliran air bagi ekosistem di lahan seluas 87 hektare di Jantung Kota Bogor. Namanya, Sungai Ciliwung. Ciliwung adalah salah satu sungai yang menyimpan sejarah penting bagi masyarakat di Bumi Pasundan. Wilayah yang dilintasi sungai meliputi empat kawasan metropolis yakni Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Depok dan DKI Jakarta.

Hulu sungai ini berada di dataran tinggi yang terletak di perbatasan Kabupaten Bogor dan Kabupaten Cianjur atau tepatnya di Gunung Gede, Gunung Pangrango dan Kawasan Puncak pada umumnya. Meski keberadaannya sangat vital, kondisi ironis dialami Ciliwung. Sungai ini bisa disebut sangat memprihatinkan. Tumpukan sampah, ranting pohon hingga limbah domestik (rumah tangga) kerap kita temui di sepanjang sungai.

Rendahnya kesadaran masyarakat Bogor dan Depok untuk menjaga dan melestarikan Ciliwung sebagai kawasan konservasi bagi kesediaan air belum tumbuh baik. Lantas, bagaimana kita merawat Ciliwung? Kepedulian masyarakat sebenarnya bukan nihil adanya. Sejumlah komunitas sebenarnya sudah turun merawat Ciliwung, seperti apa yang dilakukan Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) Bogor.

Sebagai komunitas yang tumbuh dari kesadaran, KPC melakukan aksi bersih sampah di sepanjang Ciliwung pada kurun tahun 5 tahun belakangan ini. Tujuan mereka mendirikan komunitas ini awalnya adalah untuk menyindir masyarakat Kota Bogor bahwa mereka harus lebih peka terhadap sungai mereka sendiri dan jangan membuang sampah sembarangan. A

ksi awal ketika mereka berdiri yaitu memulung sampah di sungai Ciliwung, dan kegiatan memulung ini masih rutin dilakukan hingga sekarang setiap minggunya. KPC dalam ikhtiarnya memang tidak ditujukan untuk membersihkan sungai tetapi bagaimana mereka bisa menyadarkan masyarakat untuk menjaga sungai mereka bersih. Jika berkata soal apa yang bisa mereka perbuat untuk banjir di Jakarta, tidak ada dampak langsung yang mereka hasilkan jika dilihat dari kompleksnya masalah.

Namun, hasil usaha mereka selama beberapa tahun cukuplah signifikan. Sudah banyak pihak yang tertarik dari level pemerintah maupun swasta. Angin segar kemudian datang di Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor. Bima Arya Sugiarto sebagai Wali Kota Bogor di periode kepemimpinannya yang pertama yakni 2013-2018 mulai menggalakkan dan menggerakkan satuan perangkat kerjanya untuk membantu memulung sampah di Ciliwung.

Berangkat dari sinilah, perlahan gerakan ‘mulung sampah’ di Ciliwung mulai dilakukan masyarakat sekitar bantaran sungai. Meski belum optimal, namun ikhtiar ini dinilai mampu menekan kebiasaan warga membuang sampah di sungai.

Gagasan Wisata Air
Salah satu program jangka panjang yang tengah digarap Pemkot Bogor adalah mewujudkan wisata air di sepanjang Sungai Ciliwung, khususnya urat sungai yang melintasi kawasan Kebun Raya Bogor (KRB). Wali Kota Bogor, Bima Arya, tak sekali dua kali menegaskan komitmennya untuk menyadarkan masyarakat Kota Bogor agar bersama-sama merawat dan menjaga Ciliwung.

Satu proposal dan agenda penting Bima Arya tersebut dimatangkan dengan menyuduhkan kawasan pertamanan di sepanjang Ciliwung. Ini terbukti membuahkan hasil. Kawasan pertamanan yang berdampingan dengan Taman Sempur tersebut kini riuh dengan muda-mudi dan warga yang ingin mencari udara segar saat sore tiba. Ikhtiar Bogor sebagai Kota Ramah Keluarga terbukti bukan sekedar slogan. Lantas, apakah cukup dengan ini?

Tentu tidak. Sebagai nadi perairan yang membelah kebun raya, Ciliwung sedianya bisa digali lagi kebermanfaatannya. Pemkot Bogor bisa berkolaborasi dengan Pemerintah Pusat (dalam hal ini LIPI dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan) untuk mengubah wajah Ciliwung, jauh lebih cantik dari yang nampak saat ini.

Kita bisa bercermin dari eksistensi wisata air Venesia, Italia. Bukan mustahil jika kawasan Ciliwung dipermak menjadi semacam Venesia-nya Indonesia. Tentu dengan perencanaan dan pengembangan yang matang. Selain kota air, Venesia juga mendapatkan julukan sebagai kota cinta. Karena nuansa dan suasana romantis sangat terpancar di kota ini. Keahlian penduduk kota Vanesia pun merupakan salah satu magnet untuk para wisatawan berkunjung ketempat ini.

Venezia merupakan kota yang sangat terjangkau dari berbagai kota yang berada di Italia, baik dengan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum seperti bus atau kereta. Tak jauh berbeda dengan kondisi historis dan geografis Kota Bogor. Kawasan wisata Kebun Raya Bogor (KRB) juga tak sulit untuk dijangkau masyarakat dari berbagai wilayah di Indonesia. Akses kereta dan transportasi massal yang mudah diakses menuju Kota Bogor tentu menjadi point plusnya.

Pekerjaan beratnya kemudian adalah, sanggupkah Bima Arya meyakinkan Pemerintah Pusat untuk mempercantik Ciliwung? Mengingat, tak akan cukup membiayai pengembangan wisata air Ciliwung jika bergantung dari APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah) yang hanya merangkak di angka Rp1-2 Triliun setiap tahunnya.

Keuntungan lain yang sangat potensional dimanfaatkan Bima Arya adalah eksistensi Jokowi yang lebih betah tinggal di Istana Bogor. Jelas, jika proposal mengubah Ciliwung sebagai kawasan wisata air dimatangkan dengan baik, bukan hal yang sulit bagi Jokowi untuk mengabulkan ikhtiar Pemkot Bogor melahirkan wisata air baru serupa Venesia. Mari merawat Ciliwung! (*)

Yuska Apitya Aji Iswanto
Penulis merupakan Pegiat Ilmu Hukum Tata Negara Universitas Pamulang (Unpam) Tangerang Selatan, Peneliti Politik.**)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed