by

Politik Bisnis dan Bisnis Politik

Meski zaman berganti zaman, dunia bisnis dan usaha tak lepas dengan apa yang dinamakan Filsafat Bisnis. Kode profetik bisnis bukan sekedar merk yang menjalankan aktivitas badan dan jasa semata. Ada aspek kontinuitas (keberlanjutan) yang menjadi hal dasar dan perlu dilakukan pebisnis. Kesalahan terbesar pebisnis-pebisnis baru adalah mereka bersemangat di awal lalu loyo dan lesu seiring dengan minimnya income (pendapatan), atau faktor prospek yang tak cerah. Padahal, tantangan besar dalam membuka usaha pada hakikatnya adalah mengenai mental. Aspek mental inilah yang membuat gagal banyak pengusaha-pengusaha baru melanjutkan usahanya. Migrasi mental profesi dari pegawai menjadi pengusaha bukan persoalan mudah. Mengubah mental pegawai yang cenderung berpikir in the boox menuju mental out of the boox bukan hal mudah, tentu ini butuh ilmu dan filsafat bisnis.

Bisnis pada dasarnya adalah urusan khas manusia yang memerlukan kesabaran dan mental kuat. Butuh inovasi dan kreatifitas serta relasi (networking) yang kuat untuk mendukung aspek kontinuitas sebuah usaha. Mengelola bisnis berbeda dengan mengelola organisasi politik. Bisnis tak melibatkan ideologi, sementara fatsun organisasi adalah ideologi dan kesamaan visi. Ideologi bisnis bukan saja soal kebersamaan dan kekompakan, tetapi lebih kepada target dan laba. Kekompakan tanpa target laba, juga mengancam keberlangsungan bisnis. Target laba tanpa kekompakan, juga akan mengancam keberlangsungan bisnis. Artinya, filsafat bisnis utama yang harus dianut pengusaha pemula adalah menjaga kekompakan untuk menentukan target laba yang harus dicapai, baik jangka pendek atau jangka panjang.

Bisnis Politik

Berbicara bisnis di Indonesia, tak terlepas dari kepentingan politik. Hubungan antara politik dan bisnis di Indonesia memang sangat erat lazimnya saudara kandung. Tak sedikit politisi yang dilahirkan dari dunia bisnis. Sebut saja, Harry Tanoe Soedibjo, Surya Paloh, Aburizal Bakrie, Bambang Soesatyo, hingga nama beken sekelas Jusuf Kalla (JK). Mereka bisa saya katakan sebagai politisi yang telah selesai dengan dirinya sendiri. Tak perlu mencari-cari makan atau imbalan gaji dari dunia politik.

Namun, seiring demokrasi berjalan, politik bisa dikatakan sebagai salah satu bisnis. Saya sebut bisnis karena politik pada perkembangannya melahirkan potensi bisnis baru. Konsultan politik, penasihat politik hingga yang terbaru adalah buzzer politik, adalah janin-janin usaha baru yang lahir dari dunia politik. (*)

Penulis : 

Yuska Apitya Aji 

Analis Media, Pegiat Ilmu Hukum dan Peneliti Politik. **)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed