by

PNS, Pelayan Negeri Sipil

Beberapa hari belakangan, konsentrasi pegawai swasta, khususnya yang menyandang status milenial, dibikin tak karuan. Memikirkan bertahan di perusahaan tempat ia bekerja, atau mencoba peruntungan dengan mendaftar seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Harus diakui, pegawai negeri menjadi pekerjaan idaman bagi hampir seluruh out put perguruan tinggi di Indonesia. Terlalu naif, jika lulusan perguruan tinggi tak meng-iyakan dogmatisme itu.  Bekerja di zona nyaman, tak terbelenggu dengan jerat kontrak kerja yang sewaktu-waktu mengancam.

Tak mengangetkan, jika setiap pembukaan lowongan CPNS, jutaan mahasiswa berjubel dan mengantre mendaftar. Mereka rela merangkak, lesehan di aula tunggu hingga berdesak-desakan melihat hasil pengumuman tes. Hingga begadang menunggu antrean internet yang kadang lelet. Para pendaftar rela melakukan ini demi mendapat sebuah pengakuan, dan tentunya pekerjaan. Pegawai negeri memang dipandang pekerjaan paling aman. Dapat tunjangan bulanan, gaji tetap hingga tunjangan pensiunan. Sedikit mungkin, yang berfikiran bahwa pada menjadi PNS semata-mata adalah untuk mewakafkan diri menjadi abdi masyarakat, apalagi abdi bagi negaranya. Nyaris sangat sedikit sekali.  

Baru-baru ini, saya dibuat tertegun saat membaca hasil kajian Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pengembangan (OECD). Dalam kajiannya, menyebutkan, Indonesia bakal menjadi negara dengan jumlah sarjana muda terbanyak kelima di masa depan. Situasi ini bakal terwujud paling lambat pada 2020 mendatang. Dua tahun lalu, Indonesia menyumbang empat persen sarjana berusia 25-34 dari 129 juta mahasiswa di seluruh negara anggota G-20.

Pada 2020, OECD memperkirakan jumlah itu bakal bertambah menjadi 6 persen.Sehingga, Indonesia sekaligus mengalahkan Inggris, Jerman, dan Spanyol, sebagai negara penyumbang sarjana muda terbanyak. Bahkan pada masa-masa itu kemungkinan besar jumlah sarjana terdidik negara ini tiga kali lebih banyak dibanding Perancis.

Selepas Perang Dunia II, kemajuan sebuah negara diukur dari berapa banyak lulusan perguruan tinggi setiap tahun. Jumlah mahasiswa S1-S3 yang terserap di pasar kerja menentukan perkembangan ekonomi bangsa itu pula. Amerika Serikat yang selama ini berada di posisi teratas dengan menyumbang 17 persen sarjana muda ke pasar dunia, kini kalah jauh dibanding China, dan jatuh ke urutan tiga daftar berisi prediksi ini. Tren negatif itu diikuti universitas-universitas Eropa yang tidak lagi banyak menghasilkan sarjana. Negeri Tirai Bambu sekarang hingga 12 tahun lagi digadang-gadang tetap nomor satu dalam urusan menyumbang jumlah sarjana ke pasar dunia. Perkembangan pengetahuan pun diramal bergeser ke Asia, sebab setelah China, berturut-turut menguntit India di urutan kedua, Rusia posisi keempat, lalu Indonesia. Meski demikian penyerapan sarjana Indonesia ke dunia kerja masih terhitung lambat, di beberapa bidang populer seperti IT tidak sampai 10 persen per tahun.

Jelas, fenomena ini sangat menakutkan bagi masa depan generasi Indonesia. Out put sarjana di indonesia makin tak terkontrol. Syahwat 3/4 dari lulusan perguruan tinggi berpacu mengejar pekerjaan sebagai PNS. Sementara 1/4 sisanya, memilih bekerja swasta lantaran menilai menjadi PNS adalah pekerjaan yang kurang tantangan.

Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 1975 Tentang Sumpah/Janji Pegawai negeri Sipil semestinya dipikirkan matang-matang oleh calon pegawai negeri. Mereka yang ingin menjadi PNS seyogyanya bisa bercermin, begitu beratnya beban moral menjadi seorang PNS. Badan, otak dan raga mereka dikontrak total oleh negara untuk menjadi pelayan masyarakat, abdi negara dan menjalankan amanah UU. Mari belajar dari filosofi pelayan, sebelum menyandang status pegawai negeri sipil. (**)

Penulis : 

Yuska Apitya Aji Iswanto

Analis Media Massa, Pegiat Ilmu Hukum, Peneliti Politik. **)

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed