by

Ternyata! Banten Hadapi Inflasi Oktober Lalu

BANTEN – Data Badan Pusat Statistik menyebutkan tingkat pengangguran Banten tertinggi di Indonesia. Sebelum itu, ternyata Banten juga menghadapi inflasi pada Oktober lalu.

Disebutkan BPS, Provinsi Banten mengalami inflasi 0,13 persen pada bulan Oktober. Tercermin dari perubahan angka Indeks Harga Konsumen(IHK) dari 146,91 menjadi 147,10.

Penyumbang terbesar inflasi pada bulan tersebut adalah daging ayam ras, es, kontrak rumah, sewa rumah, minyak goreng dan soto, kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Banten Adhi Wiriana di Serang. Dari 228 komoditas yang mengalami perubahan harga, 156 komoditas terjadi kenaikan harga, dan sisanya 72 komoditas mengalami penurunan harga.

Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga cukup tinggi antara lain komoditas es, tarif prkir, labu siam/jipang, daster, jagung manis, ketimun, dan pengharum cucian/pelembut. Sementara komoditas yang mengalami penurunan harga paling banyak diantaranya cabe merah, sawi putih, jengkol, pir, buncis, melon, kacang panjang dan sabun mandi.

Pada kolompok bahan makanan, dari 109 komoditas, sebanyak 103 komoditas mengalami perubahan harga. 35 jenis komoditas harganya turun, tetapi 65 komoditas lainnya mengalami kenaikan harga.

“Yang dominan menyumbang inflasi antara lain, daging ayam ras sebesar 0,05 persen, minyak goreng 0,02 persen, jeruk, bawang putih, jagung manis dan mie kering instan masing-masing 0,01 persen. Sementara deflasi terjadi pada cabe merah (-0,17 persen), telur ayam ras (-0,03 persen), melon (-0,02 persen), jengkol dan kacang panjang (-0,01 persen), sawi putih, pir dan cabe hijau masing-masing kurang dari 0,01 persen.

Di kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau, penyumbang inflasi terbesar adalah es sebesar 0,04 persen, soto 0,02 persen, makanan ringan/snack, rokok kretek dan ayam bakar masing-masing 0,01 persen, sementara biskuit, sirop, kembang gula, coklat batang dan bubur kacang hijau menyumbang deflasi kurang dari -0,01 persen.

Wiriana juga menyebutkan secara keseluruhan kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar memberikan andil inflasi sebesar 0,08 persen. Komoditas terbesar yang menyumbang andil inflasi pada kelompok ini adalah kontrak rumah 0,08 persen, sewa rumah 0,03 persen, genteng, pengharum cucian/pelembut masing-masing 0,01 persen, panci, pembasmi nyamuk cair dan batu bata/batu tela memberikan andil kurang dari 0,01 persen.

Pada kelompok sandang, pembalut wanita menumbang inflasi 0,01 persen, daster, baju muslim, baju kaos/t-shirt dan kemeja pendek katu memberikan andil inflasi kurang dari 0,01 persen.

Dari 38 komoditas yang ada pada kelompok kesehatan, kata Wiriana, 21 komoditas diantaranya mengalami perubahan harga. Deflasi terjadi pada komoditas shampo, parfum, sabun mandi cair dan pembersih/penyegar sebesar kurang dari -0,01 persen, sementara inflasi terjadi pada pasta gigi, deodorant, kapas, tarif puskesmas dan sabun wajah masing-masing kurang dari 0,01 persen.

Kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga terjadi deflasi pada buku tulis bergaris, flash disk, laptop/notebook, TV dan pulpen/bollpoint kurang dari 0,01 persen, sedangkan personal komputer/desktop, kamera, akademi perguruan tinggi dan tiket masuk kolam renang terjadi inflasi kurang dari 0,01 persen.

Pada kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan terjadi inflasiĀ  pada tarif parkir sebesar 0,02 persen. Sementara ban luar motor, sepeda, tarif sewa motor dan ban luar mobil mengalami inflasi kurang dari 0,01 persen. Sedangkan angkutan udara, telepon seluler, busi, accu dan angkutan antar kota masing-masing memberikan andil deflasi kurang dari 0,01 persen.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed