by

Menghitung Economic Damage Pandemi Corona

Hampir seluruh negara sedang berjuang melawan Covid 19. Virus yang berasal dari China ini tidak hanya merusak paru-paru manusia, tetapi juga perekonomian dunia. Economic damage atau kerugian ekonomi akibat pandemi ini diprediksi akan menjadi yang terparah sepanjang sejarah epidemi dalam abad ke-20, mengalahkan Ebola (2013), Flu Babi (2009), Flu Burung (2006), dan Sars (2003). Bahkan Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial PBB (UN-DESA) yang dilansir Antara pada Kamis (2/4/2020) menyebutkan Ekonomi global dapat menyusut hingga satu persen pada 2020 karena pandemi Virus Corona baru atau COVID-19, dan dapat berkontraksi lebih jauh jika pembatasan kegiatan ekonomi diperpanjang tanpa respons fiskal memadai.

Sejumlah pakar memperkirakan wabah virus korona akan berdampak ekonomi lebih besar daripada wabah SARS. Penyebabnya ialah ekonomi Tiongkok saat ini sudah berada dalam tren moderasi dan ekonomi Tiongkok sudah lebih terintegrasi dengan global. Apa yang terjadi di Tiongkok akan dirasakan negara lain. (Media Indonesia, Senin 16 Maret 2020). Sebuah riset dari Lars Jonung dan Werner Roeger pada tahun 2006 yang berjudul The Macroeconomic effect of a pandemic in Europe mengidenfitikasi kerugian rata-rata akibat suatu pandemi adalah kehilangan GDP sebesar 2 hingga 4 persen. Riset tersebut juga memprediksi economic damage oleh pandemi di masa yang akan datang bahkan dapat menghasilkan resesi. Prediksi ini bukan isapan jempol semata, sebab hasil riset ini menggunakan basis data epidemi flu burung serta Sars yang penyebarannya cenderung jauh lebih sedikit ketimbang Covid 19. Apabila mengacu pada GDP Indonesia tahun 2019 yang sebesar 15.883 triliun rupiah, maka kerugian GDP 4% akibat pandemi ini sebesar 635 triliun rupiah.

Apabila nilai ini dibagi jumlah penduduk, maka PDB per-kapita setiap orangnya akan turun sebesar 2,44 juta rupiah pertahun. Meski demikian, pada kenyataanya mungkin tidak sesederhana itu. Sebab, para pekerja sektor informal tergolong mendapatkan dampak yang lebih besar. Pedagang di pasar-pasar menjadi sepi, penjual makanan banyak yang harus tutup, bahkan tukang cukur pun terpaksa melamun dulu. Hal ini menunjukan bahwa yang paling terdampak dari Covid 19 ini adalah 2 masyarakat lapisan bawah yang mayoritas bekerja dalam sektor informal. Kondisi seperti ini tentu dapat memperlebar angka kesenjangan.

Kondisi inilah yang mungkin menjadi pertimbangan pemerintah untuk tidak melakukan Lockdown. Pemerintah cenderung ‘bermain aman’, sambil menjaga daya beli masyarakat kelas bawah dengan menambah subsidi dan menangguhkan angsuran perbankan. Bermain aman karena tentu pemerintah tidak memiliki kemampuan finansial untuk menanggung segenap kebutuhan masyarakat semasa lockdown. Kebijakan menangguhkan angsuran perbankan, meskipun disambut baik masyarakat, namun tentu ‘melukai’ pasar modal. Terbukti, saham BBCA yang notabene tergolong sebagai saham yang powerfull sekalipun sempat ambruk hingga ke angka 23.000 rupiah per-lembar (per- 19 Maret 2020). Kondisi seperti ini mengindikasikan kondisi bursa yang memprihatinkan.

Namun tidak hanya di Indonesia, lesunya pasar modal dan perekonomian juga melanda hampir seluruh negara, meskipun tentunya damage effect- nya berbeda-beda, tergantung kebijakan ekonomi yang diambil serta kondisi masyarakatnya. Kebijakan relaksasi pajak yang juga diambil pemerintah bukanlah tanpa resiko. Relaksasi pajak tersebut memastikan bahwa penerimaan negara tahun 2020 dipastikan akan turun, sehingga pemerintah relatif mengalami keterbatasan dalam mengambil kebijakan ekonomi yang baik dalam tahun berikutnya. Tak ayal, menteri Keuangan Sri Mulyani harus memutar otak sehingga wajar jika ia mengincar pajak zoom dan netflix.

Sebaik-baiknya kebijakan ekonomi pasti memiliki resiko. Terdapat plus-minus dalam setiap pengambilan keputusan. Lantas apa yang harus dilakukan?. Masyarakatlah yang saat ini berperan penting. Utamanya kalangan dan para pemilik modal, diharapkan untuk dapat mendistribusikan sumber dayanya kepada masyarakat. Baik itu dalam bentuk bantuan, maupun pembukaan lapangan kerja baru yang bersifat padat karya. Di samping itu, masyarakat harus tetap tenang, menjaga kesehatan dan tetap produktif meskipun dari rumah. Bekerja dirumah ataupun belajar dirumah adalah cara yang paling baik dalam memutus mata rantai penyebaran virus ini. Para pedagang kecil diharapkan dapat mulai memaksimalkan platform online. Tetap berlakukan social distancing, dan jangan sekali-kali meremehkan Covid 19. Semoga pandemi ini akan segera berakhir ditengah kehidupan kita seiring dengan kehadiran bulan suci Ramadhan. Sehingga kita dapat melaksanakan kegiatan dan beribadah dengan baik. ***

Penulis :

Iin Rosini

Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Pamulang (Unpam) Tangerang Selatan.***)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed