by

Tidak Semua Pembelaan Terpaksa Lepas dari Pidana

Masih ingatkah kita pada sebuah kasus yang terjadi di Malang. Dimana ada seorang Laki- laki berinisial ZA yang melakukan pembelaan diri terhadap pembegal yang hendak merampas harta benda miliknya, selain itu juga ZA melakukan pembelaan diri karena pembegal ingin memperkosa teman dekatnya.ZA yang saat itu terpojok karena pembegal berjumlah 4 orang, kemudian mengambil pisau yang menurutnya dibawa karena untuk praktik di sekolah, dan menusukannya ke dada M, salah satu pembegal, yang pada akhirnya menyebabkan Meinnggal.

Muncul pertanyaan kemudian, apakah kejadian seperti ini dikatakan pembelaan diri dan lepas dari segala tindakan hukum?
Perlu diketahui bersama bahwa ada tindakan lain di dalam kasus tersebut, yaitu hilangnya nyawa seseorang, yang kemudian di kategorikan sebagai tindakan penganiayaan yang menyebabkan hilangnya nyawa. Penganiayaan sendiri diatur dalam Pasal 351 Ayat 1 KUHP, yang berbunyi "Penganiayaan diancam dengan hukuman penjara paling lama dua tahun hukuman
penjara atau penjara denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah." Merujuk kembali kepada kasus diatas yang menyebabkan M mati, berarti dikenakan Pasal 351 ayat 3 " dan diancam dengan hukuman penjara paling lama tujuh tahun." Tetapi disini, ZA juga sebagai korban yang melakukan pembelaan diri karena mempertahankan hartanya dan kehormatan kekasihnya. Pembelaan diri tersebut juga diatur dalam hukum kita, yaitu Pasal 49 KUHP. Pasal ini termasuk kedalam alasan penghapusan pidana, yang dibagi menjadi alasan pembenar dan alasan pemaaf. Perbedaan keduanya alasan
pembenar yaitu alasan yang menghapus sifat melawan hukum suatu tindak pidana. Sedangkan alasan pemaaf yaitu alasan yang menghapuskan kesalahan dari pelaku tindak pidana. Kita lihat bersama bunyi Pasal 49 Ayat 1 KUHP "Tidak dipidana, barang siapa yang melakukan perbuatan pembelaan terpaksa untuk diri sendiri maupun untuk orang lain, kehormatan kesusilaan atau harta benda sendiri maupun orang lain, karena ada serangan atau ancaman serangan yang sangat dekat pada saat itu yang melawan hukum". Jika di kaji lebih dalam, terdapat syarat yang harus dipenuhi oleh seseorang sebelum dia dikatakan bebas dari tanggungjawab hukum. Syarat yang pertama adalah "perbuatan tersebut harus terpaksa".

Terpaksa disini adalah tidak ada jalan lain selain tindakan yang melawan hukum. Contohnya ketika kita di pukul 1 kali, lantas kita balas memukul berkali-kali, meskipun orang tersebut sudah jatuh tersungkur tetap kita pukul terus sampai dia mati, itu tidak dikatakan pembelaan diri, karena sudah berlebihan. Syarat yang pertama ini harus ada keseimbangan antara serangan
dengan pembelaan dirinya, tidak boleh berlebihan. Syarat selanjutnya adalan "Hanya untuk mempertahankan: Badan/nyawa, kehormatan, harta benda". Kehormatan yang dimaksud disini berhubungan dengan kesusilaan. Bukan
penghinaan/kita di pukul. Tetapi lebih kepada kehormatan kesusilaan (kehormatan wanita)
contoh wanita tersebut hendak diperkosa, kita wajib membelanya. Syarat terakhir adalah, "harus serangan yang melawan hak dengan sekonyong-konyong (saat itu juga)" maksudnya adalah ada serangan kepada kita, kita memukul balik, kemudian dia mati. Itu dinamakan pembelaan diri, tidak sengaja.

Kemudian muncul pertanyaan lain, mengapa orang yang melakukan pembelaan diri masih di proses hukum? Karena disini ada tugas Polisi sebagai penegak hukum untuk melakukan penyidikan, apakah perbuatan yang dilakukan orang tersebut membela diri atau bukan. Pengadilanlah nanti yang memutuskan, tentu saja berdasarkan saksi dan kejadian yang tertulis dalam surat dakwaan. Kalau ternyata dari hasil tersebut perbuatannya termasuk pembelaan diri, pasti di bebaskan. Jika pembelaan diri itu wajar. Sebaliknya, jika pembelaan diri tersebut dilakukan karena seseorang memukul secara membabi buta, lalu merasa melakukan pembelaan diri, itu tidak termasuk kategori pembelaan diri, dan malah dapat di pidana. Kemudian kembali lagi pada kasus diatas, merujuk kepada Pasal yang disebutkan diatas, maka dapat katakan bahwa ZA dapat dikatakan melakukan perbuatan pembelaan diri, karena mempertahankan harta bendanya serta membela kesusilaan orang lain. Tetapi lain cerita jika pisau yang di bawa oleh ZA kala itu memang dipersiapkan terlebih dahulu untuk melakukan suatu tindak pidana.

Intinya kita kembali lagi kepada pengadilan sebagai penentu, untuk memutuskan apakah ZA dapat bebas dari segala tuntutan hukum atau dapat dipidana karena perbuatannya tidak termasuk kedalam perbuatan pembelaan diri. Sebagai masyarakat kita harus tahu bahwa hukum di negara kita melindungi harta benda, kesusilaan, dan nyawa kita sebagai warga negaranya, jadi bijaklah dalam bersikap dan bertindak sebab didalamnya terdapat tanggungjawab yang besar untuk melaksanakan kewajiban hukum. (*)

Penulis : 

Nursolihi Insani

Dosen Fakultas Hukum Universitas Pamulang Tangerang Selatan.**)

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 comment