Bantentoday – Sebanyak 298 ribu santri di Banten belum mengikuti program wajib belajar pendidikan dasar (Wajar dikdas) 9 tahun. Saat ini jumlah santri yang mengikuti angkatan belajar di Banten ini terdapat 600 ribu santri, sedangkan yang baru tertampung dalam program wajar dikdas 9 tahun ini baru menampung sebanyak 302 ribu santri.

Kepala Bidang (Kabid) Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam (Pakis) Kanwil Kemenag Provinsi Banten Mahfudin mengatakan, ke depan Pondok Pesantren ingin dijadikan sebagai penyangga dalam kontek tuntas wajar dikdas. Untuk menampung ke 298 santri yang belum mengikuti wajar dikdas sembilan tahun tersebut, maka Kanwil Kemenag Provinsi Banten telah menerapkan program wajar dikdas ula wushta diselenggarakan pondok pesantren di Banten. Program ini merupakan program penyetaraan untuk Pesantren Salafiyah di bawah naungan Kemenag dan Kementerian Pendidikan Nasional, pelaksanaannya diawasi oleh dua kementerian tersebut.

“Jadi melalui program wajar dikdas ula wustha bisa menyangga sebanyak 298 ribu anak-anak yang belum mengikuti wajar dikdas tersebut,” katanya saat membuka acara di aula kanwil Kemenag Provinsi Banten, Kamis, (30/5).

Menurut Mahfudin, melalui program wajar dikdas ula wustha ini para santri bisa mengikuti program kesetaraaan paket A, B, dan C yang digelar di pondok pesantren. Namun, untuk sistem pola pembelajarannya dan kurikulumnya diserahkan oleh masing-masing pondok pesantren. Ini dilakukan agar tidak mengurangi kekhasan pembelajaran di pondok pesantren, maka sistem pembelajarannya menggunakan modul.

“Karena rata-rata para santri yang masuk program ksetaraan ini banyak aktivitas lain, maka pola pembelajarannya menggunakan sistem modul, seperti kuliah sore,” ujarnya.

Dijelaskan Mahfudin, mata pelajaran yang dibakukan dalam kurikulum Pendidikan Nasional untuk program wajar dikdas ula wustha ada lima pelajaran yang dipelajari yang akan diuji nasionalkan, yakni IPA, Bahasa Inggris, PPKN, Bahasa Indonesia, dan Matematika.

“Biasanya proses belajar setelah santri mengikuti kurikulum di pondok pesantren seperti membaca kitab kuning, mengaji amil, mengaji jurmiyah, nahwu dan shorof. Yang penting kelima pelajaran tersebut tidak berbenturan dengan kurikulum pondok pesantren,” terangnya.

Dalam kesempatan itu, Mahfudin menambahkan, output setelah santri tersebut mengikuti program ula wustha dan paket A, B, dan C ini, para santri akan memiliki ijazah pendidikan, setara dengan pendidikan formal sesuai dengan apa yang diikutinya.

“Ketika lulus nanti, para santri bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi,” katanya.(dik)



Komentar Untuk Berita Ini (0)

Kirim Komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas