by

Apa Arti Tewasnya Al-Baghdadi Bagi Gerakan Terorisme di Indonesia?

Pasukan Khusus AS akhirnya berhasil menangkap pemimpin kelompok teroris Negara Islam (Islamic State of Iraq and Syriah, ISIS), Abu Bakr al Baghdadi pada Rabu (26/10) di rumah perlindungannya di Provinsi Idlib, Suriah. Selama malam penyerbuan, pemimpin ISIS tersebut meledakkan dirinya sendiri hingga ikut menewaskan tiga anaknya, menurut Donald Trump. Berkaitan dengan kematian pemimpin kelompok teroris paling berbahaya ini, orang nomor satu di Amerika Serikat mendeklarasikan kemenangan AS atas perang melawan terorisme. Di sisi lain, apa arti mangkatnya al Baghdadi bagi gerakan terorisme di Indonesia?

ISIS lahir sebagai akibat dari perpecahan internal al Qaeda di Irak yang didirikan oleh Abu Musab al Zarqawi tahun 2004. Kelompok ini tenggelam selama beberapa tahun setelah serangan pasukan AS di Irak pada 2007, namun kembali bangkit di tahun 2011 dengan cara mengambil keutungan dari instabilitas di Irak dan Suriah. Grup yang dinahkodai Abu Bakr al Baghdadi ini berkembang pesat hingga melebarkan daerah kekuasaan de facto dari Allepo sampai Diyala. Namun, pasca mendapat desakan dan tekanan luar biasa dari operasi anti-teror yang diawaki AS dan sekutu pada 2014, ISIS kemudian memperluas afiliasinya ke bagian dunia lain pada tahun 2015, hingga menjadi otak di balik pengeboman pesawat Rusia yang membunuh 224 jiwa, serangan di Paris yang menghilangkan 130 nyawa dan lusinan serangan bersenjata di Orlando, Florida.

Bagaimana dengan Indonesia? Lima tahun terakhir, setidaknya terdapat tiga kasus serangan terorisme yang terindikasi akibat terpapar radikalisme ISIS. Ledakan di jalan Thamrin, sekitar Gedung Sarinah (14/1/2016) dieksekusi oleh lima orang teroris dengan meledakan diri, bom bunuh diri di Mapolresta Solo yang dijalankan oleh Nur Rohman karena keterkaitannya dengan kelompok ISIS melalui Jamaah Anshar Daulah Khilafah Nusantara (JADKN), dan bom yang meledak di tiga gereja di Surabaya – Gereja Santa Maria Tak Bercela, Gereja Kristen Indonesia, Gereja Pentakosta Pusat Surabaya. Berangkat dari kasus-kasus tersebut, dapat dilihat bahwa radikalisasi bukan hanya terjadi akibat motif pribadi, namun adanya interaksi dengan kelompok radikal, baik kontak langsung maupun melalui kesamaan ideologi akibat terpapar di dunia maya. Adapun Indonesia mempunya empat kelompok utama yang terhubung dengan ISIS, yakni Forum Aktivis Syariat Islam (FAKSI), Tauhid Wal Jihad, Jamaah Anshorut Tauhid (JAT), dan Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

FAKSI secara resmi didirikan pada 2013 oleh Muhammad Fachry dengan tujuan menyebarkan dukungan terhadap ISIS secara langsung, maupun melalui dunia maya. Selanjutnya diketahui bila FAKSI turut serta mengirimkan Bahrun Syah dan Salim Mubarok ke Suriah guna berperang bersama ISIS – kemudian menjadi otak di balik Bom Thamrin 2016. Kedua, Tauhid Wal Jihad ialah komunitas pro ISIS yang dikepalai Aman Abdurrahman. Abdurrahman sendiri sangat dihormati oleh jaringan ISIS Indonesia dikarenakan pekerjaannya sebagai penerjemah dan penyambung lidah organisasi teroris paling berbahaya itu. Adapun JAT ialah organisasi ketiga yang terafiliasi ISIS, setelah Abu Bakar Ba’asyir bersumpah setia (bai’at) kepada kelompok teroris pimpinan al-Baghdadi.

Terakhir, pada 2015 JAD berdiri dengan kekuatan gabungan Tauhid Wal Jihad, JAT dan pecahan FPI Lamongan yang berubah haluan menjadi kelompok teroris. Walaupun pemimpin spiritual dari JAD masih Aman Abdurrahman dan Abu Bakar Ba’asyir, tugas koordinasi dilimpahkan kepada Abu Husna. Berangkat dari gabungan keanggotaan, struktur, dan pemimpin kharismatik, saat ini JAD menjadi organisasi teroris Indonesia yang paling aktif dan berbahaya hingga mampu mengeksekusi Bom Thamrin 2016, Bom Kampung Melayu 2017, dan mengekspansi pengaruhnya di luar Pulau Jawa – Kalimantan sebagai contohnya – serta menyasar elemen masyarakat baru, yaitu keterlibatan perempuan dan anak dalam aksi bom bunuh diri.

Berkaca dari pengaruh ISIS terhadap beberapa kelompok teroris di Indonesia, penulis melihat tewasnya Abu Bakr al Baghdadi tidak membawa pengaruh signifikan kepada gerakan terorisme dalam negeri dengan dua alasan utama. Pertama, pergerakan terorisme kontemporer di Indonesia banyak terinspirasi dari pengaruh ISIS di Timur Tengah, namun hanya berada pada tatanan idelogi. Oleh karenanya, orang-orang dan kelompok-kelompok yang mengabdi pada radikalisme tidak mendapat perintah atau komando langsung dari ISIS dan gerakan bersifat otonom. Kedua, hampir tidak ada dari pelaku terorisme yang mempunyai akses langsung kepada komandan ISIS, bahkan tak banyak yang pernah berjuang dan berlatih khusus di Suriah. Artinya, secara praktis pendanaan dan strategi operasi terror dijalankan berdasarkan inisiatif sendiri. Lebih dari pada itu, seperti kelompok Tauhid Wal Jihad, teroris kontemporer di Indonesia tidak memiliki struktur organisasi yang jelas atau bersifat sporadis. **)

 

Penulis

Denztrial Celvin Kehi, S.Hub.Int

Lulusan Terbaik Fakultas Hubungan Internasional Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga 2019, Analis Media Massa. **)

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *