by

Mendes Minta Bantu Mahasiswa dan Dosen Wujudkan Desa Surga, Apa Tuh?

SURABAYA- Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar mengajak kampus seluruh Indonesia turun gunung mewujudkan desa surga dan mengajak mahasiswanya menjadi calon aparatur desa yang inovatif.

“Mulai hari ini, kampus harus berpikir untuk melahirkan kader penggerak desa, perempuan penggerak ekonomi desa, serta menyediakan waktu dan sumber daya untuk membantu akselerasi menuju desa surga,” ucapnya dalam keterangan tertulis, Senin (23/12/2019).

Hal tersebut disampaikannya pada acara Orasi Ilmiah pada Rapat Senat Terbuka dalam rangka Dies Natalis Ke-55 Universitas Negeri Surabaya dengan tema ‘Peran Kampus dalam Kepemimpinan dan Pembangunan Desa’ di Surabaya.

Halim mengatakan perguruan tinggi jangan hanya pandai mencetak lulusan yang siap jadi karyawan, karena percuma kampus banyak mewisuda mahasiswa yang siap berkompetisi di kota, tapi tidak mau kembali ke desa.

Menurutnya, upaya dan kerja masyarakat kampus, baik yang bersifat akademik maupun non akademik, harus berdampak pada kebangkitan dan kesejahteraan masyarakat desa.

“Kampus masa depan adalah kampus yang menyelipkan rasa cinta kampung halaman kepada mahasiswanya. Ini harus menjadi kampus pemberdayaan, yaitu kampus yang memberi ruang lahirnya calon aparatur desa yang kreatif, inovatif, serta memiliki karakter kepemimpinan yang kuat. Kampus yang masyhur adalah kampus yang selalu hadir untuk desa,” tekannya.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Halim mengatakan berbagai konsep pembangunan desa yang lahir dari kampus harus diuji coba langsung kepada masyarakat binaan kampus atau sebagai lokasi kaji tindak para mahasiswa dari tingkat pertama sampai tingkat akhir.

Misalnya, kata Halim, dalam waktu yang pendek, dapat berupa KKN tematik. Untuk waktu yang lebih lama dan mendalam bisa menjadi topik skripsi, tesis dan disertasi. Bahkan program lintas tahun bisa digarap oleh dosen dan mahasiswa yang sengaja memilih desa-desa tertentu sebagai wilayah praktikum.

“Tepat di sinilah kampus harus mengambil peran, untuk terjun langsung ke desa. Kampus bisa meneliti berbagai permasalahan di desa, kemudian merumuskan konsep pemecahan masalah, lalu menjalankan pilot study pada desa-desa di sekitar kampus atau melalui KKN. Hasil yang telah matang tersebut bisa disampaikan kepada pemerintah untuk dijalankan dalam lingkup yang lebih luas,” terangnya.

Terkait kepemimpinan, Halim mengacu pada Tridharma Perguruan Tinggi yaitu, pertama, dharma pendidikan perlu dipraktikkan dalam pembentukan kurikulum yang memungkinkan lahirnya local leader di desa, baik kepala desa yang visioner, perangkat desa yang andal bekerja, kader pemberdayaan masyarakat yang mampu mendampingi desa, hingga perempuan penggerak perekonomian desa.

Kedua, dharma penelitian harus mampu mendeteksi permasalahan yang riil dirasakan warga desa. Penelitian juga perlu diperluas cakupannya sampai pada penciptaan teknologi tepat guna. Teknologi tersebut harus bisa dipraktikkan langsung di desa untuk meningkatkan nilai tambah komoditas maupun produktivitas pekerja.

Ketiga, perguruan tinggi juga perlu terus menerapkan e-learning, yang bukan saja ditujukan kepada mahasiswanya sendiri, melainkan lebih penting lagi kepada seluruh masyarakat desa. Platform Akademi Desa 4.0 akademi desa.kemendesa.go.id.bisa digunakan sebagai ekosistem pendidikan daring untuk menjangkau warga desa-desa di seluruh Indonesia.

“Munculnya pemimpin-pemimpin baru dalam zaman revolusi Industri 4.0, pada titik inilah perguruan tinggi memegang harapan tertinggi untuk menghadirkan para sarjana yang menjadi kepada desa yang mampu mengajak warganya melayari era digital,” pungkasnya. (rid/ed:yus)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *