by

Suap Djoko Tjandra untuk Jaksa Pinangki Mengalir Sampai Jauh…

Penyidik Jampidsus Kejaksaan Agung (Kejagung) terus menelusuri aliran dana USD 500 ribu dari Djoko Tjandra kepada Jaksa Pinangki melalui perantara bernama Andi Irfan Jaya.

Suap tersebut diduga terkait pengurusan fatwa ke Mahkamah Agung (MA) agar Djoko Tjandra tak dieksekusi ke penjara dalam perkara cessie Bank Bali.

Direktur Penyidikan JAMPidsus, Febrie Ardiansyah, mengatakan sejauh ini penyidik menduga suap USD 500 ribu tak hanya dinikmati Pinangki.

Bekas pengacara Djoko Tjandra dalam pengajuan upaya PK di PN Jakarta Selatan, Anita Kolopaking, diduga kecipratan uang tersebut.

“Sementara ini fakta yang saya buka sedikit ini ada Anita yang juga terima dari bagian itu (USD 500 ribu)” ujar Febrie kepada wartawan, Jumat (4/9/2020).

Febrie menyebut Anita diduga menerima sebesar USD 50 ribu atau sekitar Rp 700 juta.

“Sementara ini dia terima itu sebesar USD 50 ribu,” ucapnya.

Pengacara Djoko Tjandra, Krisna Murti, sebelumnya menyatakan Anita dan Andi Irfan merupakan bagian tim yang dibawa Pinangki saat bertemu Djoko Tjandra di Malaysia pada akhir 2019.

Saat itu, Pinangki mengklaim bisa membantu masalah hukum Djoko Tjandra. Kemudian Djoko Tjandra memercayai Pinangki untuk membantunya dan menunjuk Andi Irfan sebagai konsultan hukum.

Djoko Tjandra selanjutnya memberikan USD 500 ribu kepada Andi Irfan melalui iparnya bernama Heriadi. Uang tersebut merupakan DP sebesar 50 persen dari kesepakatan USD 1 juta.

Andi Irfan kemudian mengirim proposal ke Djoko Tjandra terkait upaya hukum yang bisa dilakukan. Cara yang digunakan ialah pengajuan fatwa ke MA.

Andi Irfan dan Pinangki memanfaatkan celah tak adanya perintah penahanan dalam putusan PK Djoko Tjandra di kasus cessie Bank Bali. Seiring berjalannya waktu, Djoko Tjandra menyadari upaya fatwa ke MA tidak rasional. Kerja sama tersebut diakhiri pada Desember 2019.

Usai urusan dengan Pinangki dan Andi Irfan tuntas, Djoko Tjandra bertemu Anita Kolopaking pada Maret 2020 di Malaysia. Dalam pertemuan itu, Anita menawarkan kepada Djoko Tjandra agar menempuh upaya peninjauan kembali (PK) ke MA.

“Anita katakan ‘Pak sekarang mending urus PK’. Lalu (Djoko Tjandra) bikin kuasa baru, menunjuk (Anita Kolopaking) sebagai kuasa hukum,” kata Krisna.

Namun pada akhirnya permohonan PK itu tak diterima PN Jaksel dan berkasnya tak diteruskan ke MA. Sebab Djoko Tjandra sebagai pemohon tak pernah menghadiri sidang.

Kini Jaksa Pinangki, Andi Irfan, dan Djoko Tjandra telah ditetapkan Kejagung sebagai tersangka.

Sementara Anita tersangkut kasus hukum di Bareskrim Polri. Ia dijerat sebagai tersangka bersama Djoko Tjandra dan eks Kakorwas PPNS Bareskrim Polri, Brigjen Pol Prasetijo Utomo, dalam kasus surat jalan.

(rt)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *