by

Dampak Covid-19 terhadap Perekonomian Banten

-Opini-331 views

Pandemi Covid-19 berdampak pada penurunan ekonomi Banten hingga 3,38 persen pada tahun 2020. Penurunan ini menempati urutan paling besar di antara provinsi lain di Pulau Jawa. Bahkan kontraksi ekonomi di Banten melebihi kontraksi ekonomi nasional yang nilainya sebesar 2,07 persen. Hal ini harus menjadi perhatian serius bagi pemerintah bahwa pemulihan ekonomi harus segera dilakukan. Diperlukan percepatan pertumbuhan ekonomi untuk menyerap pengangguran yang semakin meningkat. Tingkat pengangguran di Banten pada kondisi Agustus 2020 sebesar 10,64 persen dan menempati urutan kedua nasional setelah DKI Jakarta.

Perekonomian Banten ditopang oleh sektor industri pengolahan dengan andil sebesar 31,21 persen. Setiap pergolakan yang terjadi pada sektor ini akan berdampak pada perekonomian Banten secara keseluruhan. Sektor ini terkena dampak pandemi dengan penurunan sebesar 4,67 persen. Padahal, sektor ini menyerap tenaga kerja terbanyak pada tahun sebelumnya sebesar 23,68 persen. Akibat dari kontraksi pada sektor ini, terjadi penurunan jumlah tenaga kerja terbesar yaitu sebanyak 186,27 ribu orang.

Sektor yang mengalami penurunan tenaga kerja terbesar selanjutnya adalah Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib. Sektor ini mengalami penurunan tenaga kerja sebesar 0,88 persen. Atau sebanding dengan 49,14 ribu orang. Selain itu, sektor Jasa Pendidikan juga terkena dampak pandemi dimana tenaga kerja di sektor ini berkurang sebanyak 0,35 persen atau sekitar 19,32 ribu orang. Hal ini terjadi sebagai dampak dari penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang digalakkan pemerintah. Kebijakan berupa work from home (wfh) untuk perkantoran pemerintah dan pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi sekolah-sekolah selama pandemi, memberikan dampak yang besar bagi kedua sektor ini.

Sektor Perdagangan Besar dan Eceran menjadi salah satu sektor yang mengalami peningkatan tenaga kerja yaitu sebesar 1,81 persen atau sebanding dengan 100,34 ribu orang. Pada tahun 2020, sektor ini menjadi lapangan kerja yang memiliki tenaga kerja terbanyak. melebihi serapan pada sektor Industri Pengolahan. Pasalnya, tenaga kerja yang mendapatkan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di sektor Industri Pengolahan banyak yang beralih ke sektor Perdagangan Besar dan Eceran.

Tak mengherankan jika fenomena PHK banyak terjadi di saat pandemi ini. Berdasarkan Analisis Hasil Survei Dampak Covid-19 terhadap Pelaku Usaha Provinsi Banten, sebanyak 26,7 persen perusahaan masih beroperasi namun mengalami penurunan kapasitas produksi. Sedangkan 9,6 persen perusahaan berhenti beroperasi. Selain itu, dilihat dari perubahan jumlah pekerja, 23,8 persen perusahaan memilih untuk mengurangi jumlah pekerjanya. Hal ini menimbulkan permasalahan baru bagi Pemerintah Banten yang tidak dapat dihindari yaitu pengangguran.

Pada Agustus 2020, setidaknya terdapat 1,84 juta orang atau 19,18 persen dari penduduk usia kerja yang terdampak pandemi. Dari angka tersebut, sebanyak 205 ribu orang menjadi pengangguran dan 103 ribu orang sementara tidak bekerja. Sedangkan 1,51 juta orang merupakan penduduk bekerja yang mengalami pengurangan jam kerja. Kemudian sisanya merupakan penduduk bukan angkatan kerja.

Dilihat dari PDRB Pengeluaran, pertumbuhan negatif terjadi pada semua komponen. Komponen yang terkena dampak paling besar adalah komponen Total Net Ekspor. Selama pandemi tahun 2020, terjadi penurunan pada komponen Total Net Ekspor sebesar 22,71 persen. Penurunan ini terjadi seiring dengan pembatasan ekspor ke negara-negara tujuan ekspor karena adanya pandemi covid-19. Dengan kontraksi sedemikian dalam, Total Net Ekspor menjadi sumber pertumbuhan ekonomi negatif terbesar yaitu 1,54 persen.

Meski perekonomian Banten pada triwulan 4 sudah mengalami perbaikan, namun perlu percepatan di tahun 2021. Hal ini untuk menghindari penambahan pengangguran yang berpotensi meningkatkan penduduk miskin di Banten. Sektor ekonomi yang mulai pulih pada triwulan 4 adalah Transportasi dan Pergudangan, Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial, Konstruksi, serta Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum. Hendaknya Pemerintah Banten dapat memberikan perhatian pada sektor-sektor yang sudah bertumbuh positif ini.

Selain itu memberikan bantuan sosial tunai diyakini mampu meningkatkan daya beli penduduk sekaligus mendorong permintaan barang dan jasa sehingga mendorong produksi. Sayangnya pemerintah pusat hanya memberikan bantuan sosial tunai dalam waktu empat bulan dengan nominal sebesar Rp 300.000,00 atau setengah dari yang diterima tahun 2020. Di sinilah peran pemerintah daerah, untuk menganggarkan bantuan sosial tunai sehingga jangka waktu lebih lama atau dengan menambah nominalnya.  Hal ini menjadi penting karena perekonomian Banten sebagian besar ditopang oleh konsumsi rumah tangga dengan kontribusi sebesar 55,15 persen. Berbagai upaya tersebut diharapkan mempercepat pemulihan ekonomi Banten sekaligus menurunkan tingkat pengangguran di Banten.

Penulis:

Fadhilla Permitasari

Statistisi Pada BPS Kota Tangerang.**)