by

Andai Berhenti Merokok Sehari Saja

-Opini-142 views

Rokok adalah salah satu barang atau komoditas yang cukup terkenal di Indonesia bahkan dunia. Kenapa? karena dampak yang ditimbulkannya sangat besar dan berpengaruh. Dampaknya ada yang positif namun menurut beberapa penelitian kalau dampak negatifnya lebih besar dan lebih banyak. Makanya beberapa ulama mengharamkan konsumsi rokok karena lebih banyak mudharatnya dibandingkan manfaatnya.

Kontroversi rokok selalu menarik dan menjadi topik utama dari waktu ke waktu. Namun kontroversi itu tidak pernah terselesaikan malah rokok makin ‘eksis’ dikalangan penggunanya. Lebih baik ngga makan daripada tidak merokok. Kalau punya uang terbatas dan dihadapkan pilihan antara makan dan merokok maka merokok akan didahulukan. Salah satu alasan orang merokok adalah karena rokok bisa menjadi pengganti makanan.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) lebih dari 40 persen perokok di dunia meninggal karena penyakit paru-paru, seperti kanker, penyakit pernapasan kronis, dan TBC. WHO mengatakan, setiap tahun penggunaan tembakau membunuh setidaknya delapan juta orang. Badan PBB itu melaporkan 3,3 juta pengguna akan meninggal karena penyakit yang terkait paru-paru. Jumlah ini termasuk orang yang terpapar asap rokok orang lain, di antaranya lebih dari 60.000 anak di bawah usia lima tahun yang meninggal akibat infeksi saluran bawah pernapasan karena merokok pasif.

Sementara itu, di Indonesia, penyakit terkait merokok, seperti kanker paru-paru, jantung, stroke, hipertensi, TBC dan penyakit pernafasan kronis telah menjadi penyebab utama kematian. Dan kecenderungannya kematian akibat penyakit-penyakit tersebut selalu meningkat setiap tahunnya. Hal itu berbanding lurus juga dengan meningkatnya jumlah perokok di Indonesia. Yang menyedihkan adalah meningkatnya perokok anak pra remaja sebesar 13 persen.

Dari sisi lain, Cukai rokok menyumbang 169,12 triliun rupiah terhadap sumbangan pajak negara. Malah diperkirakan meningkat menjadi 173,78 triliun rupiah pada tahun 2021. Potensi pajak yang besar ini mengakibatkan pemerintah ‘setengah hati’ dalam mengatasi permasalahan rokok di Indonesia.

Hal yang sama juga terjadi di Banten, rokok juga menjadi primadona. Bahkan rokok menjadi penyumbang terbesar kedua bagi kemiskinan setelah beras. Tahun 2020,  Sumbangan rokok kretek filter di perkotaan sebesar 15,23 persen sedangkan di pedesaan 16,64 persen. Artinya banyak penduduk miskin yang menjadikan rokok sebagai konsumsi utama. Selain itu, rokok memberikan andil 5,02 persen terhadap inflasi 2020 Banten.

Konsumsi rokok di Banten

Di Provinsi Banten, menurut data BPS (Survei Sosial Ekonomi Nasional, Susenas), pada tahun 2020 terdapat 25,24 persen penduduk (5 tahun keatas) yang merokok. Jika diestimasi, sekitar 2.7 juta orang perokok.  Ada yang merokok rutin setiap hari dan ada juga perokok yang tidak setiap hari. Dari seluruh penduduk laki-laki 5 tahun keatas, 48,94 persen adalah perokok dan sisanya tidak merokok. Sebaliknya proporsi perokok perempuan cukup kecil. Dari seluruh perempuan di Banten hanya 0,61 persen saja yang merokok.

Alasan orang merokok bermacam-macam. Ada yang merasa bahwa rokok mampu mengurangi rasa tegang dan kelelahan, merokok sebagai sikap sosial, menimbulkan percaya diri dan sebagai pengisi waktu luang. Oleh karena itu, penduduk yang kurang beraktivitas akan memiliki kecenderungan untuk merokok. Banyak penduduk yang tidak bekerja atau tinggal di daerah pedesaan merokok karena waktu luang mereka cukup banyak.

50,1 persen perokok di Provinsi Banten berpendidikan rendah, yaitu SMP ke bawah. Perokok yang berpendidikan SMA sederajat 35,6 persen dan berpendidikan tinggi 14,3 persen. 25 persen perokok belum menikah dan 75 persennya punya pasangan atau berstatus janda/duda. Berdasarkan bekerja atau tidaknya seorang perokok, 87 persen perokok adalah seorang pekerja. Artinya mayoritas perokok membelanjakan sendiri uangnya untuk membeli rokok.

Persentase perokok terbesar ada di Pandeglang dan Lebak, masing-masing 29,8 persen dan 30,5 persen. Kedua kabupaten ini merupakan daerah pertanian dan memiliki tingkat kemiskinan tertinggi di Banten. Wajar kalau rokok memiliki andil yang besar terhadap garis kemiskinan. Mereka merokok karena memiliki waktu luang yang cukup banyak ditengah kesibukan bertani. Sedangkan Kota Tangerang Selatan memiliki persentase terendah, hanya 18,2 persen penduduknya yang merokok.

Jumlah rokok yang dikonsumsi per hari atau perminggu para perokok di Banten  cukup tinggi. Secara rata-rata perokok mengkonsumsi rokok sekitar 88,7 batang per minggu atau 12,7 batang per hari. Jadi rata-rata lebih dari satu bungkus (isi 12 batang) per hari per perokok.  .

Pengeluaran untuk rokok

Mari kita coba berhitung, berapa kira-kira uang yang telah dihabiskan untuk mengkonsumsi rokok. Jika saja rata-rata sebatang rokok seharga 1.250 rupiah maka seminggu perokok mengeluarkan uangnya sebesar 110 ribu rupiah (88,7 batang x Rp.1.250) dan sebulan lebih dari 475 ribu rupiah.  Jadi bila ada seorang dari keluarga miskin yang merokok maka uang sebesar itu sangat besar dan berarti. Apalagi biasanya keluarga miskin memiliki jumlah anggota keluarga yang banyak dan kadang lebih dari satu orang perokok.  Kalau uang untuk membeli rokok itu dibelikan beras maka bisa mendapatkan sekitar 50 kg.

Mari kita berhitung lagi. Kalau di Banten 25,24 persen atau ada 2.7 juta perokok maka pengeluaran seluruh perokok sebesar 299,4 milyar rupiah seminggu atau 1,28 triliun rupiah sebulan atau sekitar 15,6 triliun rupiah setahun.  Nilai itu lebih besar dari pendapatan daerah Provinsi Banten 2020 yang hanya sebesar 10,33 triliun rupiah. Jika saja seluruh perokok di Banten komitmen untuk tidak merokok sehari saja atau pada saat hari tanpa rokok maka bisa menghemat uang sebesar 42,8 milyar rupiah. Dan jika hari itu seluruh perokok menyumbangkan uang rokoknya maka sangat bermanfaat sekali untuk pembangunan daerah.

‘Penyumbang’ uang rokok terbesar adalah perokok Kabupaten Tangerang, yaitu 5 triliun rupiah setahun, lalu Kota Tangerang dan Kabupaten Lebak yang masing-masing sebesar 2,2 triliun rupiah. Paling sedikit adalah Kota Cilegon dan Kota Serang.

Alangkah bermanfaatnya jika ‘uang rokok’ masyarakat digunakan untuk pembangunan daerah.  Atau digunakan untuk mencukupi kebutuhan keluarga masing-masing sehingga bisa mengurangi tingkat kemiskinan. Sekarang tinggal kesadaran masyarakat untuk menghentikan atau mengurangi kebiasaan merokok. Karena kenikmatan yang mereka dapat dari merokok mungkin tidak sebanding dengan pengorbanan yang mereka keluarkan. Jika seorang perokok berhenti merokok dan uangnya digunakan untuk keperluan keluarga, InsyaAllah lebih bermakna dan bermanfaat. (*)

Penulis :

Suhandi

Fungsional Statistisi BPS Provinsi Banten.*)