by

Euforia Vaksinasi, Mudik dan Ancaman Gelombang Kedua Pandemi Corona

-Opini-137 views

Kedatangan vaksin berbagai jenis ke Indonesia pada awal tahun ini dan kemudian disusul dengan pelaksanaan vaksinasi di sejumlah daerah nampaknya menyimpan ancaman baru. Euforia vaksinasi yang berlangsung di sejumlah daerah justru bersambut dengan kenaikan presentase kasus harian positif corona di Indonesia.

Fenomena kenaikan presentase positive rately ini tentu tak lepas dari sikap abai dan lengah kebanyakan orang pasca melakukan vaksinasi. Protokol kesehatan (prokes) mulai dari cuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak, yang sedianya menjadi keharusan, kini perlahan mulai tak taat dijalankan. Bahkan di sejumlah daerah, penegakan aturan prokes mulai tak berjalan optimal. Aparatur penegak hukum yang sedianya menjalankan penertiban, justru malah terlihat melanggar prokes itu sendiri.

Tercatat sejak April 2021, angka positive rately kembali menunjukkan gejala kenaikan. Padahal pada medio Februari hingga Maret 2021, tren kasus corona mengalami penurunan signifikan. Kondisi itupun sempat membuat pelaku pasar saham dan pelaku ekonomi mikro optimis kalau kondisional akan membaik pada Kuartal II tahun ini.   

Kita semestinya bisa belajar dari ambruknya stabilitas nasional India dalam menghadapi gelombang kedua pandemi corona. Sikap abai dan jumawa masyarakat India terhadap prokes dan terkesan menganggap corona adalah virus biasa perlu menjadi catatan serius banyak negara di Dunia.

Meningkatnya kasus positif secara eksponensial yakni lebih dari 200.000 kasus selama 24 jam terakhir jelas adalah catatan buruk penanganan wabah. Para ahli mengatakan tren mengerikan ini dapat ditelusuri melalui dua faktor, yakni mutasi yang sangat ganas dari virus asli dan lemahnya kontrol pemerintah dalam hal pembatasan kegiatan guna memperlambat penyebaran infeksi. India sebenarnya juga tengah berjuang mengatasi kekurangan vaksin. Sejauh ini hanya 114 juta dosis vaksin yang tersedia untuk populasi lebih dari 1 miliar penduduk.

India memang menjadi salah satu negara yang memberikan vaksinasi Covid-19 massal pada masyarakatnya. Sayangnya, dengan banyaknya jumlah orang yang divaksin malah membuat masyarakat abai dengan protokol kesehatan, terbukti dengan diadakannya perayaan festival keagamaan yang menyedot kerumunan jutaan massa.

World Health Organization (WHO) mencatat, per 21 April 2021, ada 295.041 orang positif dan 2.022 orang meninggal karena Covid-19 dalam satu hari di India. Berdasarkan unggahan Instagram Komite Percepatan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), lawancovid19_id, Kamis (22/4/2021), terdapat beberapa penyebab meningkatnya lonjakan kasus Covid-19 di India. Di antaranya adalah:

1.Mengendurkan protokol kesehatan, karena kasus sempat menurun.

2.Membiarkan kegiatan kerumunan, khususnya dalam kegiatan keagamaan.

3.Adanya mutasi virus baru, yang sudah masuk juga di Indonesia.

Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di Dunia yang sebentar lagi menghadapi masa mudik, tentu sangatlah berpotensi menjadi negara yang mencatat rekor tertinggi kasus corona di Dunia. Sama halnya India.

Euforia vaksinasi dan sikap jumawa masyarakat pasca divaksin dengan mengabaikan prokes tentu bukan satu-satunya penyebab lonjakan kasus. Faktor pendorong naiknya tren kasus corona lainnya adalah lemahnya supremasi hukum terhadap pelanggaar prokes. Edaran Presiden Jokowi terkait larangan mudik semestinya direspons positif oleh seluruh elemen masyarakat. Aparat penegak hukum juga jangan setengah hati dalam menjalankan edaran larangan ini. Jangan ada toleransi bagi siapapun yang melanggar. Toh, aturan ini sudah diumumkan jauh-jauh hari sebelum masa mudik berlangsung. Artinya, masyarakat yang nekat menjalankan mudik, baik melalui transportasi pribadi maupun umum, pastilah sudah memiliki niat melanggar aturan (mens rea). (*)

Penulis :

Yuska Apitya Aji, S.Sos.,M.H

Researcher, Public Policy Analyst. **)