by

Menakar Potensi Pertanian Banten di Tengah Pandemi

-Opini-109 views

Produk pertanian selalu menjadi kebutuhan yang utama bagi kehidupan manusia karena berkaitan langsung dengan hidup matinya umat manusia. Dalam kondisi apapun dan di belahan bumi manapun permintaan akan bahan pangan akan selalu ada. Bahkan negara maju sekelas Amerika, Jepang, Australia dan Kanada masih menjadikan sektor pertanian sebagai sektor andalan negaranya. Bagaimana dengan Indonesia yang jumlah penduduknya sebesar 270,20 juta jiwa (BPS, 2020) harus mencukupi kebutuhan pangannya?  Presiden Joko Widodo pada berbagai kesempatan menyampaikan untuk menitikberatkan pada tiga sektor strategis, yaitu sektor pangan, sektor energi dan sumber daya air. Bapak Menteri Pertanian Syahril Yasin Limpo juga mencetuskan moto “pertanian yang maju, mandiri dan modern’. Pertanyaan lanjutan pun muncul, pada masa sulit seperti saat ini dimana pandemi covid-19 yang masih melanda, bagaimanakah kondisi pertanian Indonesia dan Banten khususnya?

Adanya pandemi covid-19 menyebabkan ambruknya perekonomian hampir di seluruh sektor.  Berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik, laju pertumbuhan PDRB Banten mengalami perlambatan -3,38 persen.  Perlambatan terbesar dari sektor Transportasi dan Pergudangan sebesar -28,69 persen.  Sektor Industri pengolahan yang merupakan sektor unggulan Banten pun mengalami perlambatan -4,67 persen. Sektor Pengadaan Listrik dan Gas juga mengalami perlambatan yang cukup serius mencapai -11,43 persen. Sektor Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor mengalami perlambatan -2,86 persen . Sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum tak luput dari guncangan pandemi covid-19. Sektor ini mengalami perlambatan PDRB sebesar -5,09 persen. Sementara sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan masih mampu tumbuh sebesar 3,55 persen, bahkan melampai angka nasional yang hanya tumbuh 1,75 persen.

Selain itu, di tengah hantaman badai covid-19, ternyata produksi padi Banten tahun 2020 justru mengalami peningkatan sebesar 184,67 ribu ton sehingga produksi padi tahun 2020 menjadi 1,66 juta ton (BPS Provinsi Banten, 5 Maret 2020). Kenaikan produksi ini masih jauh lebih tinggi dibandingkan kenaikan produksi nasional yang hanya mengalami kenaikan 45,17 ribu ton. Jika dikonversikan menjadi beras sebagai konsumsi pangan penduduk, maka produksi beras pada 2020 sebesar 937,81 ribu ton untuk memenuhi  kebutuhan 11, 90 juta jiwa penduduk Banten. Produksi padi Provinsi Banten ini ternyata tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan domestik,  melainkan mampu membantu memenuhi kebutuhan di luar Banten seperti DKI Jakarta bahkan Jawa Barat yang dikenal sebagai salah satu lumbung padi nasional.

Data-data tersebut mengkonfirmasi secara terang benderang dan tegas, bahwa  sektor pertanian menjadi penyelamat perekonomian di Banten, dimana saat hampir semua sektor mengalami penurunan laju pertumbuhan ekonomi, justru sektor pertanian yang mengalami peningkatan. Sektor pertanian sangat potensial untuk dikembangkan, hingga mampu mendongkrak perekonomian banten lebih kuat lagi. Ini momentum bagi pemerintah untuk lebih serius menggarap sektor pertanian. Berdasarkan hasil SUPAS 2018, kepala rumah tangga yang mengusahakan pertanian di Banten sebanyak 68,89 persen berusia di atas 45 tahun. Ini menandakan bahwa para pelaku pertanian sudah berusia tua. Pemerintah khususnya Pemerintah Provinsi Banten bisa lebih mendorong para pemuda Banten untuk menjadi petani sehingga bermunculan petani-petani millennial di wilayah Banten. Petani millennial dengan bekal semangat, idealisme, pengetahuan dan melek tekhnologi niscaya mampu menelurkan ide dan kreatifitasnya sehingga sektor pertanian akan makin digdaya di negeri agraris ini khususnya di tanah jawara. Setahun lebih pandemi covid-19 melanda negeri ini, kita saksikan telah terjadi tranformasi aktivitas manusia di segala sektor yakni aktivitas manual menjadi aktivitas berbasis teknologi informasi. Aktivitas berbasis teknologi informasi ini disinyalir akan menjadi trend hidup masyarakat pasca pandemi covid-19. Kondisi tersebut semakin mempertegas keharusan menumbuhkan petani-petani millennial yang melek dan piawai dalam teknologi informasi. Melahirkan petani-petani millennial di Banten bukanlah perkara yang sulit karena sebenarnya Banten telah melahirkan petani millennial pada sosok yang bernama Nur Agis Aulia yang berhasil mengembangkan Jawara Farm. Setelah menamatkan bangku kuliah Nur Agis bisa membuktikan dan menepis anggapan bahwa petani adalah milik kaum tua. Bahkan Nur Agis berhasil mengajak banyak pemuda untuk membentuk program Banten Bangun Desa. Program ini bisa merekrut banyak pemuda. Kegiatan pemberdayakan kaum muda seperti itu sangat bisa di adobsi oleh seluruh pemuda Banten. Selain dapat meningkatkan produktivitas pertanian, juga dapat mengurangi pengangguran dan kemiskinan, terutama di pedesaan. Mengingat wilayah pedesaan yang sebagian besar pencahariannya sebagai petani masih menjadi salah satu kantong kemiskinan. Ada 8,57 persen penduduk miskin berada di wilayah pedesaan. Meningkatkan kesejahteraan petani berarti turut serta mengentaskan kemiskinan.

Peningkatan sektor pertanian juga bisa dilakukan dengan peningkatan, pengelolaan dan pengintegrasian agroindustri  mulai hari hulu sampai ke hilir.  Agroindustri dapat meningkatkan nilai tambah produk pertanian sekaligus menyerap tenaga kerja. Perlu diketahui, saat ini tingkat pengangguran di Banten 10,64 persen (Sakernas, Agustus 2020) dengan penambahan angkatan kerja pada tahun 2020 sebesar 6,04 juta orang. Angka pengangguran ini tertinggi kedua nasional setelah DKI Jakarta.

Hal lain yang bisa dilakukan untuk mendongkrak perekonomian dari sektor pertanian adalah dengan menciptakan dan mengembangkan agrowisata. Agrowisata di Banten mulai menggeliat dan dilirik oleh para wisatawan sebut saja agrowisata Bantarwaru Wangi di Kabupaten Serang, Villa Ternak Cikerai di Kota Cilegon dan beberapa tempat lainnya. Agrowisata ini semakin potensial dengan adanya perkembangan “urban farming” pemanfaatan lahan-lahan pekarangan menjadi lahan pertanian khususnya untuk tanaman holtikultura dan buah-buahan. Kebijakan pemerintah untuk mengembangkan agrowisata melalui strategi pengembangan urban farming berpotensi memunculkan kampung kampung wisata berbasis pertanian.

Penulis :

Suwandari
Statistisi Ahli Muda Pada BPS Provinsi Banten. *)