by

Penurunan Pengeluaran Perkapita Hambat Perkembangan IPM Provinsi Banten

Manusia pada hakekatnya adalah kekayaan bangsa yang sesungguhnya. Pembangunan manusia seharusnya menempatkan manusia sebagai tujuan akhir dari pembangunan, dan bukan alat dari pembangunan. Tujuan utama dari pembangunan, adalah menciptakan lingkungan yang memungkinkan manusia atau rakyat bisa mencapai umur Panjang, sehat dan dapat menjalankan kehidupan dengan produktif (United Nation Development Programme-UNDP).

Pembangunan manusia di Provinsi Banten dari tahun ke tahun memang terus mengalami kemajuan, walaupun antar kabupaten/kota masih terdapat disparitas yang cukup tinggi. Pada tahun 2015 IPM Provinsi Banten sudah mencapai 70,27 atau kategori tinggi, dan terus meningkat dengan baik sampai dengan tahun 2019. Peningkatan IPM ini terjadi karena adanya perbaikan pada setiap komponen penghitungannya. Dalam penghitungan IPM dikenal 3 (tiga) dimensi ukuran yaitu, Kesehatan umur Panjang dan hidup sehat yang didekati dengan Angka Harapan Hidup saat Lahir (AHH), Pengetahuan yang didekati dengan Harapan Lama Sekolah (HLS) dan Rata-rata Lama Sekolah (RLS) dan Standar Hidup Layak yang didekati dengan Pengeluaran per kapita yang disesuaikan.

Dari dimensi Kesehatan, selama lima tahun terakhir terlihat terdapat kenaikan AHH yang cukup baik, yaitu dengan meningkatnya AHH sebesar 0,106 poin setiap tahunnya, bahkan pada tahun 2019 bisa meningkat sebesar 0,2 poin dibanding tahun sebelumnya. Pada tahun 2020, saat pandemic covid-19 melanda Indonesia, kenaikan AHH mengalami perlambatan sebesar 0,08 dan hanya mencapai 69,96 tahun, belum bisa menembus angka 70 tahun. Sebagai tambahan, AHH saat lahir didefinisikan sebagai rata-rata perkiraan banyak tahun yang dapat ditempuh oleh seseorang saat lahir. AHH ini biasa juga dinotasikan dengan e0 atau Life Expectancy.

Sementara itu, untuk dimensi pengetahuan, Angka Harapan Lama Sekolah dan Rata-rata Lama Sekolah di Provinsi Banten juga terus mengalami kenaikan. Untuk perkara pendidikan ini, Provinsi Banten dapat mempertahankan prestasinya, seakan tidak terpengaruh oleh pandemic Covid-19, bahkan Angka Rata-rata Lama Sekolah pada tahun 2020 naik lebih tinggi dari kenaikan tahun sebelumnya dan mencapai skor 8,89 tahun atau hampir setara dengan masa pendidikan untuk menamatkan jenjang kelas 9. Pada tahun 2020 kenaikan Angka Rata-rata Lama Sekolah naik 0,15 tahun dibanding tahun sebelumnya. Angka Harapan Lama Sekolah (HLS) di Provinsi Banten terus meningkat sejak tahun 2015 sampai dengan tahun 2020. Tercatat pada tahun 2015 HLS Provinsi Banten 12,35 dan pada tahun 2020 menjadi 12,89. Hal ini menjadi sinyal positif bahwa semakin banyak penduduk di provinsi Banten yang bersekolah.

Angka Harapan Lama Sekolah (HLS) atau Expected Years of Schooling didefinisikan dengan lamanya sekolah (dalam satuan tahun) yang diharapkan akan dirasakan oleh anak pada umur tertentu di masa mendatang. HLS juga dapat digunakan untuk mengetahui kondisi pembangunan sistim pendidikan di berbagai jenjang. Rata-rata Lama Sekolah (RLS) atau Mean Years of Schooling di definisikan dengan jumlah tahun yang digunakan oleh penduduk dalam menjalani pendidikan formal. Cakupan penduduk yang dihitung RLS adalah penduduk berusia 25 tahun ke atas dengan asumsi, pada umur 25 tahun proses pendidikan sudah berakhir. Hal ini sesuai dengan standart internasional yang digunakan oleh UNDP.

Hal terakhir yang terkait dengan penghitungan IPM adalah Pengeluaran per kapita yang disesuaikan atau Purchasing Power Parity (PPP). Pengeluaran per kapita disesuaikan ditentukan dari nilai pengeluaran per kapita dan paritas daya beli. Rata-rata pengeluaran per kapita selama setahun diperoleh dari hasil SUSENAS yang dilakukan secara rutin oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menggunakan 96 komoditas, dimana 66 komoditas merupakan makanan dan sisanya merupakan komoditas non makanan.

Hal yang menahan laju pertumbuhan Indeks Pembangunan Manusia di provinsi Banten pada tahun 2020 adalah pengeluaran per kapita yang disesuaikan (PPP), dimana pada tahun ini, seluruh kabupaten/kota di seluruh provinsi Banten mengalami penurunan. Penurunan PPP untuk provinsi Banten sebesar Rp.281.000,- per tahun.

Dampak pandemi Covid-19 sangat dirasakan oleh seluruh masyarakat di Indonesia, tidak terkecuali di seluruh kabupaten/kota di provinsi Banten. Seluruh wilayah di provinsi Banten mengalami penurunan kemampuan dalam hal pengeluaran per kapita, terlebih untuk wilayah perkotaan dan kabupaten yang penduduknya paling besar dan padat yaitu; Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang dan Kota Tangerang Selatan atau 54,58 persen dari total penduduk provinsi Banten, menurut hasil Sensus Penduduk 2020. Untuk masing-masing wilayah ini tercatat penurunan sebesar minus Rp.273.000,- untuk kabupaten Tangerang, minus Rp.376.000,- untuk Kota Tangerang dan minus Rp.321.000,- untuk Kota Tangerang Selatan.

Akibat menurunnya PPP ini, maka laju IPM pada tahun 2020 untuk provinsi Banten tertahan, dan hanya naik 0,01 persen dibanding tahun sebelunya. Bahkan untuk ketiga wilayah, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang dan Kota Tangerang Selatan pada tahun 2020 mengalami penurunan IPM, masing-masing sebesar -0,01 untuk Kabupaten Tangerang, -0,18 untuk Kota Tangerang dan-0,12 untuk Kota Tangerang Selatan.

Pandemi Covid-19 belum pasti kapan akan berlalu dari bumi Indonesia, akan tetapi pembangunan manusia dan proses memakmurkan bangsa juga tidak dapat menunggu apalagi terhenti. Peran pemerintah dalam proses pembangunan memang sangat diharapkan, dan sangat dibutuhkan. Memang tidak ada yang instan dalam pembangunan, diperlukan proses dan kerja keras, apalagi pandemic Covid-19 membawa dampak destruktif yang tidak sedikit. Mudah-mudahan kedepannya Pemerintah Provinsi Banten dengan kearifan lokal dan  komitment yang kuat, dapat mengatasi permasalahan yang ditimbulkan oleh pandemic Covid-19, serta lebih banyak berperan dalam berbagai aspek perekonomian sehingga kemampuan daya beli kembali menguat dan pada akhirnya kesejahteraan masyarakat Banten bisa ditingkatkan.

Penulis :

Toga Hamonangan

Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Banten.***)