by

Vaksinasi dan Pemulihan Ekonomi

-Opini-211 views

Setahun lebih kita berjibaku melawan pandemi. Data dari situs resmi Satgas COVID-19 pada April 2021 menunjukkan bahwa lebih dari 1,6 juta masyarakat Indonesia terpapar virus COVID-19 dan sekitar 44 ribu di antaranya meninggal dunia. Setiap harinya, masih ada ribuan penambahan kasus baru. Hal ini menunjukkan bahwa perjuangan kita melawan pandemi masih belum berakhir.

Dari sisi ekonomi, perlambatan ekonomi terlihat pada kondisi ekonomi Indonesia tahun 2020 yang mengalami kontraksi sebesar 2,07 persen (BPS, 2021). Perlambatan ekonomi memberikan dampak pada kondisi sosial ekonomi masyarakat. Data BPS menunjukkan bahwa jumlah penduduk miskin pada September 2020 sebesar 27,55 juta orang, meningkat 1,13 juta orang (0,41 persen) terhadap Maret 2020 dan meningkat 2,76 juta orang (0,97 persen) terhadap September 2019.

Memilih antara kesehatan dan ekonomi memang menjadi dilema tersendiri; jika kesehatan diabaikan maka akan semakin banyak masyarakat yang terpapar virus COVID-19, jika terlalu mengabaikan ekonomi pun bisa menyengsarakan masyarakat khususnya di kalangan bawah. Untuk itu, upaya pemulihan kesehatan dan ekonomi perlu berjalan beriringan.

Program Vaksinasi

Program vaksinasi telah dimulai oleh pemerintah, pemberian vaksinasi kepada masyarakat akan dilakukan secara bertahap. Kehadiran vaksin COVID-19 memberikan harapan agar pandemi ini segera berakhir. Menurut Husada (2020), vaksin terbukti mampu mengurangi kematian, mencegah sakit, serta meningkatkan kemungkinan sembuh. Selain itu, vaksin dapat menciptakan kekebalan kelompok (herd immunity) ketika pemberian vaksinasi telah mencapai minimal 70 persen dari jumlah populasi sehingga mampu menekan penyebaran COVID-19.

Pemerintah menargetkan sekitar 181,5 juta sasaran vaksinasi pada 15 bulan pertama, terhitung Januari 2021-Maret 2022. Terdapat empat tahap pemberian vaksinasi. Tahap pertama dan kedua vaksinasi diberikan kepada tenaga kesehatan, petugas layanan publik, dan kelompok lanjut usia. Pada kedua tahap ini pemerintah menargetkan sebanyak 40,3 juta sasaran vaksinasi. Data dari Kementerian Kesehatan sampai dengan minggu ketiga April 2021 menunjukkan bahwa sekitar 11,6 juta orang telah mendapatkan vaksinasi dosis pertama (28,8 persen dari sasaran vaksinanasi) dan sekitar 6,7 juta orang telah mendapatkan vaksinasi dosis kedua (16,6 persen dari sasaran vaksinasi).

Pada tahap ketiga dan keempat vaksinasi akan dilaksanakan mulai April 2021-Maret 2022. Sasaran target vaksinasi pada kedua tahap ini adalah kelompok rentan dari aspek geospasial dan sosial, masyarakat serta pelaku perekonomian lainnya. Perlu waktu yang tidak sebentar untuk melakukan vaksinasi kepada seluruh masyarakat Indonesia, sehingga protokol kesehatan harus tetap dipatuhi dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

Beberapa aktivitas ekonomi mulai dilonggarkan meskipun masih dalam kapasitas terbatas seperti restoran, kafe, fasilitas olahraga, bioskop, dan sebagainya. Seluruhnya, wajib menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Kebijakan pelonggaran aktivitas ekonomi sejak penerapan pelaksaan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) dinilai mampu memberikan ruang terhadap pertumbuhan ekonomi.

Memacu Konsumsi

Perekonomian Indonesia sedang proses menuju ke arah yang lebih baik. Indonesia telah melewati titik terendah di kuartal II tahun 2020 dengan kontraksi sebesar 5,32 persen. Meskipun pada kuartal III dan IV masih kontraksi, perekonomian Indonesia mampu tumbuh lebih tinggi dibandingkan kuartal II (dikutip dari kompas.com). Dengan demikian, upaya-upaya untuk mempercepat pemulihan ekonomi nasional perlu terus dilakukan salah satunya memacu konsumsi rumah tangga.

Dilihat dari struktur produk domestik bruto (PDB) menurut pengeluaran, komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga masih mendominasi struktur perekonomian Indonesia yaitu sebesar 57,66 persen (BPS, 2021). Artinya, konsumsi rumah tangga merupakan motor penggerak perekonomian domestik. Komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga pada ekonomi Indonesia tahun 2020 masih mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 2,63 persen. Hal ini menunjukkan bahwa masih lemahnya permintaan.

Beberapa hal dapat dilakukan dalam upaya mamacu konsumsi rumah tangga. Pertama, pemberian bantuan sosial kepada masyarakat miskin. Menurut Kementerian Sosial, target bantuan pangan non tunai akan diberikan kepada 18,8 juta keluarga penerima manfaat (KPM), serta masing-masing diberikan kepada 10 juta KPM untuk program keluarga harapan dan bantuan sosial tunai. Kemensos perlu terus berupaya untuk mempercepat penyaluran serta perbaikan data penerima bantuan sosial agar lebih tepat sasaran.

Kedua, pemberian tunjangan hari raya (THR) keagamaan kepada pekerja/buruh. Pemberian THR keagamaan mengacu pada Peraturan Pemerintah No.36 Tahun 2021 dan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No.6 Tahun 2016. Untuk itu, pemerintah melalui menteri ketenagakerjaan meminta para pengusaha untuk memberikan THR kepada pekerja/buruh pada waktu yang telah ditetapkan.

Momentum ramadan dan lebaran menjadi saat yang tepat untuk memulihkan kembali ekonomi. Pembagian bantuan sosial maupun pemberian THR bagi pekerja/buruh diharapkan mampu mendorong masyarakat untuk meningkatkan konsumsi rumah tangga. Di tengah aturan pengetatan mudik lebaran dalam upaya mencegah lonjakan kasus COVID-19 karena mobilisasi yang tinggi, masyarakat tetap bisa membelanjakan uangnya untuk kebutuhan sehari-hari selama ramadan dan lebaran.

Tidak mudah memulihkan kembali Indonesia, baik dari sisi kesehatan maupun ekonomi. Program vaksinasi pemerintah perlu dukungan semua pihak. Sosialisasi mengenai manfaat vaksinasi dalam upaya mengakhiri pandemi ini harus terus dilakukan. Selain itu, pembagian bantuan sosial yang tepat sasaran serta pemberian THR keagamaan bagi pekerja/buruh diharapkan mampu mewujudkan pertumbuhan positif pada komponen konsumsi rumah tangga. Dengan demikian, diharapkan Indonesia dapat secepatnya pulih baik kesehatan maupun ekonomi. (*)

PENULIS : 

Lucie Suparintina

Statistisi pada BPS Kabupaten Tangerang.**)