by

Bangkit Agar Tak Terpuruk Lebih Dalam

Hari Kebangkitan Nasional adalah bangkitnya semangat nasionalisme, persatuan, kesatuan dan kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan negara Indonesia. Gagasan itu muncul melihat kondisi bangsa Indonesia pada saat itu memprihatinkan akibat sistem kolonialisme Belanda yang membodohi bangsa jajahannya. Pendidikan rakyat Indonesia terutama kaum pribumi rendah dan tidak mendapat informasi atau tertutup dari dunia luar.

Kalau kita maknai hari kebangkitan nasional dengan kondisi Indonesia terkini, Indonesia juga berusaha bangkit dari keterpurukan. Keterpurukan yang multidimensi, tidak hanya ekonomi tapi sosial, budaya dan politik juga ikut mengalami ‘degradasi’.

Kebangkitan yang harus kita lakukan sekarang adalah terkait dengan ekonomi, kesehatan dan pendidikan. Ketiga pilar ini menjadi tolok ukur kemajuan suatu bangsa dan menjadi modal pembangunan.

Kebangkitan ekonomi

Banyak orang yang selalu mengkambinghitamkan Pandemi Covid-19 sebagai biang kerok terkontraksinya pertumbuhan ekonomi Indonesia. Memang tidak hanya Indonesia yang terpuruk, beberapa negara maju juga mengalami hal yang sama. Bahkan beberapa prediksi menyebutkan, keterpurukan ekonomi akan terus berlanjut pada tahun 2021 jika antisipasi pandemic tidak dilakukan secara masif dan terstruktur.

Keterpurukan ekonomi terjadi sejak kuartal II 2020 hingga kuartal I 2021. Pertumbuhan ekonomi Indonesia terkontrasi pada pertumbuhan minus. Seiring berjalannya waktu pertumbuhan minusnya sudah makin kecil mencapai minus 0,74 persen pada kuartal I 2021. Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei menjadi momentum untuk menjadikan pertumbuhan ekonomi positif pada kuartal II 2021. Beberapa indikator ekonomi sudah mulai menunjukkan hal yang positif. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang dicatat Bank Indonesia sudah memasuki zona optimis, yaitu 101,5. Realisasi penanaman modal asing (PMA) pada kuartal I 2021 sudah tumbuh 14 persen dibanding periode yang sama tahun 2020.

Konsumsi masyarakat juga sudah mulai menggeliat. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penjualan kendaraan bermotor mengalami tren perbaikan. Data penjualan mobil pada sepanjang Januari-April lalu mencapai 265.934 unit, tumbuh 9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Moment lebaran juga diharapkan mampu meningkatkan konsumsi masyarakat walaupun tidak mudik. Ramainya pasar-pasar tradisional dan pasar modern serta penjualan online menjelang hari raya akan turut memperbaiki ekonomi secara makro. Konsumsi rumah tangga menjadi komponen penting pada perekonomian Indonesia. Kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap PDB mencapai sekitar 58%.

Yang harus bangkit berikutnya adalah pekerja-pekerja yang terimbas akibat pandemic covid-19. Tingkat pengangguran Indonesia pada 2020 mencapai akan tertinggi sejak 10 tahun terakhir, yaitu 7,07 persen.  Pandemi mengakibatkan pengangguran meningkat 2,67 juta orang dan dari jumlah itu, 2,56 juta di antaranya menganggur karena Covid-19.

Kebangkitan pekerja yang terpuruk tidak hanya menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah namun juga menjadi kewajiban pekerja yang bersangkutan. Mereka harus mencari solusi kreatif di masa pandemic. Jangan putus asa terhadap pemutusan hubungan kerja yang menimpa.  Banyak hal yang bisa dilakukan kalau hanya untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Yakin bahwa Tuhan Sang Pemberi Rizki akan membantu hambaNya yang selalu berusaha dan tak kenal putus asa.

Kebangkitan kesehatan

Kebangkitan berikutnya adalah kebangkitan terhadap dunia kesehatan. Covid-19 menjadi momok tersendiri bagi seluruh orang di dunia. Pandemi menyebabkan 1,74 juta orang di Indonesia terkonfirmasi positif Covid-19. Kondisi sekarang, sebagaian masyarakat merasa pandemic ini merupakan sesuatu yang dianggap biasa dan akan hilang dengan sendirinya. Pendapat itu sangat tidak benar, tetap saja Covid-19 harus dientaskan dengan berbagai tindakan.

Masyarakat harus kembali disadarkan bahwa melakukan 5M merupakan hal yang wajib. Karena sumber penularan utama adalah melalui tangan, mulut dan hidung. Oleh karena itu, memakai masker, mencuci tangan, menjauhi kerumunan, membatasi mobilitas dan menjaga jarak (5M) harus diterapkan oleh setiap orang. Mari kita bangkit untuk selalu mematuhi protokol kesehatan dan melakukan 5M.

Keraguan akan fektivitas vaksin covid-19 masih dirasakan oleh sebagian orang. Para ahli berpendapat bahwa vaksin yang digunakan memiliki tingkat efektivitas yang cukup termasuk dalam menghadapi virus covid-19 varian baru. Semua orang harus menyadari bahwa vaksinasi akan meminimalisr kemungkinan seseorang terjangkit covid-19 walaupun dalam persentase yang tidak terlalu besar.

Yang cukup memberatkan bagi masyarakat adalah mengeluarkan ‘rupiah’ untuk melakukan uji covid-19. Setiap orang minimal harus mengeluarkan uang 200 ribu rupiah untuk melakukan rapid tes antigen. Dan harus merogoh kocek lebih dalam jika dilanjutkan dengan uji SWAB PCR. Oleh karena itu, tugas pemerintah yang harus membantu masyarakat dalam hal biaya uji covid-19. Masyarakat sangat berharap pemerintah menggratiskan biaya rapid test dan mengurangi biaya SWAB PCR. Jika saja ini dilakukan maka masyarakat akan secara mandiri melakukan uji covid-19 sejak dini. Akibatnya akan mudah ditemukan orang-orang yang terkonfirmasi positif Covid-19.

Kebangkitan pendidikan

Kebangkitan yang sangat diperlukan berikutnya adalah di bidang pendidikan. Sejak awal-awal pandemic pemerintah telah melarang proses pembelajaran tatap muka dan menerapkan pembelajaran daring. Padahal peran guru, dosen atau pengajar dan interaksi belajar antara pelajar dan pengajar tidak bisa digantikan dengan teknologi. Pendidikan atau edukasi bukan hanya sekedar mentransfer atau memperoleh pengetahuan tetapi juga tentang nilai, kerja sama, serta kompetensi.

Kalaupun kebijakan pemerintah yang belum berani menerapkan sekolah tatap muka maka tugas setiap pelajar/mahasiswa yang harus meningkatkan kompetensinya masing-masing. Hal ini juga menjadi tugas orang tua dan anggota keluarga lainnya untuk membantu proses pembelajaran di rumah. Proses pembelajaran tidak hanya tergantung dengan proses pembelajaran daring namun lebih utama adalah pembelajaran mandiri dari setiap pelajar/mahasiswa.

Sekarang ini, banyak pelajar/mahasiswa tidak bertambah ilmunya pada masa pandemic. Mereka tidak berusaha untuk belajar mandiri, membaca dan mempelajari materi pelajaran sendiri tanpa mengandalkan proses pembelajaran daring. Interval waktu satu tahun ini mengakibatkan mereka naik ke tingkat yang lebih tinggi namun tidak disertai dengan pengetahuan yang lebih tinggi. Dan ini merupakan suatu proses kemunduran.

Kebangkitan nasional yang dahulu dipelopori oleh para mahasiswa seharusnya menjadi momentum bagi pelajar dan mahasiswa untuk selalu meningkatkan ilmu dan pengetahuan dalam kondisi pandemic sekalipun. Jangan sampai pandemic disalahkan dan dikambinghitamkan atas penurunan kualitas pendidikan di Indonesia. Kebangkitan pendidikan harus menjadi target nomor satu pada masa pandemic ini karena pendidikan adalah modal utama untuk meningkatkan ekonomi dan menjadi hidup lebih sehat. Tanpa pendidikan yang berkualitas maka hidup akan semakin suram dan tenggelam dalam jurang yang semakin dalam.

Kebangkitan tidak hanya meliputi ruang lingkup wilayah seperti negara, provinsi dan kabupaten/kota tapi termasuk kebangkitan setiap individu. Kalau bangsa ini belum bisa bangkit dari keterpurukan maka biarkanlah karena itu adalah tugas utama pemerintah dan aparatnya. Tapi jika setiap individu mengalami keterpurukan maka tugas setiap individu juga yang harus mampu membangkitkannya. Tidak bisa kita mengandalkan orang lain atau negara untuk membantu membangkitkan.

Mari kita bangkit agar tidak terpuruk lebih dalam

Sebagai penutup mari kita cermati Firman Allah dalam Al Qur’an Surah Ar Ra’d ayat 11 yang berbunyi “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri,” jadikan ayat ini sebagai penguat kita untuk bangkit, dan mendapatkan hari esok yang lebih baik. Mudah-mudahan Indonesia bisa bangkit lebih cepat dan tidak terpuruk ke jurang yang lebih dalam. Aamiin.

Penulis :

Suhandi

Fungsional Statistisi BPS Provinsi Banten.**)