by

Belajar Bernegara dari Grup WA

-Opini-70 views

Seiring sejalan dengan perkembangan teknologi, banyak studi-studi kecil yang bisa dijadikan bahan riset dan penelitian akademik. Baru-baru ini, sebuah riset di salah satu kampus terbesar Indonesia yang berada di Yogyakarta mengungkap teknik dan cara membaca watak dan tabiat warga negara dengan berbasis percakapan di grup jejaring sosial WhatsApp (WA).

Dalam analisisnya, riset tersebut memecah karakter manusia atau penghuni negara menjadi 5 kelompok. Kelompok pertama adalah intelijen, yakni bergabung di grup dengan sedikit interaksi. Ia jarang berkomentar dan memberikan pendapatnya tentang apapun di grup tersebut. Ia cenderung hanya mengamati, menyaring, menyimak dan menganalisis perbincangan di dalam di grup tersebut. Namun, kemunculannya di grup sangat ditunggu, dinantikan dan mampu mempengaruhi pola pikir penghuni grup. Biasanya, ia adalah penghuni grup yang sangat dipentingkan karena sejumlah faktor, seperti kewibawaan, kharisma atau bargainer position.

Kelompok kedua adalah penghibur, yakni menjadi pencair suasana ketika perbincangan di grup WA mulai memanas. Terkadang, ia sesekali muncul menciptakan obrolan dengan narasi dan konten-konten lucu yang memicu gelak tawa penghuni grup. Kadang, ia juga bisa menjadi pemberi masukan yang baik dan bisa diterima oleh seluruh penghuni grup. Orang dengan watak demikian sangat dibutuhkan kehadirannya di dalam grup WA, selain untuk menghidupkan suasana grup juga bisa dijadikan teman diskusi yang mengasikkan karena ia adalah pendengar dan penasihat yang baik.

Kelompok ketiga adalah pendebat. Orang dengan tipikal demikian cenderung destruktif atau perusak, yakni kehadirannya selalu menjadi masalah dan melahirkan keonaran di dalam grup WA karena sikap apatisnya yang tak mau menerima perbedaan pandangan. Cenderung manipulatif, sinis dan egois dalam menerima masukan dan perbincangan di grup WA. Orang dengan tabiat demikian disarankan untuk dikeluarkan di forum grup WA.

Kelompok keempat adalah pamer (narsis dan selfish), yakni kehadiran dan kemunculannya di grup hanya menonjolkan status dirinya. Studi riset juga menerangkan, orang dengan tipikal selfish dan narsis cenderung membagikan konten-konten mubazir yang tak diperlukan dalam grup WA. Bersikap dan menganggap dirinya paling religius dalam forum grup. Studi juga menyebutkan, orang dengan watak demikian berpotensi menjadi destruktor atau perusak diskusi karena cenderung manipulatif dalam diskursus apapun di grup WA. Ia juga cenderung acuh terhadap perasaan penghuni grup lainnya yang berbenturan dengan keyakinannya. Orang dengan watak demikian disarankan untuk diacuhkan dan dikeluarkan dari grup WA.

Dan yang terakhir kelompok kelima yakni penerima, yakni ia selalu menanggapi apapun yang dibagikan dalam obrolan grup WA. Orang dengan watak demikian cenderung memiliki sifat tak enak hati dan empati yang terlalu tinggi. Anehnya, orang-orang tipe demikian disarankan untuk tidak terlalu menyimak dan memasukkan obrolan apapun di grup WA ke dalam hati karena berpotensi membuat depresi.

Banyak riset ilmu politik juga menyarankan bahwa manusia sebaik-baiknya manusia adalah yang bisa bergaul dan diterima oleh semua orang. Tapi tak sedikit riset politik juga menyebutkan dan menyarankan agar bergaulah dengan 1 atau 2 teman saja agar bisa berfokus menjadi sahabat diskusi. So, menjadi manusia politik yang tidak terlalu berpolitik bisa menyenangkan bukan? (*)

Oleh :

Yuska Apitya Aji, S.Sos, M.H

Peneliti, Penulis dan Analis. ***)