by

Inflasi Menjelang Hari Raya Idul Fitri Tahun 2021

-Opini-78 views

Oleh :

Toga Hamonangan

Statistisi BPS Banten. ***)

Perhelatan hari raya biasanya selalu dikaitkan dengan kenaikan harga bahan pokok/makanan. Sebenarnya hal ini wajar saja terjadi, dimana ketika permintaan naik, maka harga akan cenderung naik. Pada tahun ini, hari raya idul fitri masih akan dirayakan dalam keadaan pandemic covid-19 yang masih saja belum mereda, bahkan di India, virus ini kembali menelan korban yang cukup besar. Akan tetapi di Indonesia, termasuk juga di Provinsi Banten, tentu perayaan Idul Fitri akan dirayakan semaksimal mungkin dengan berbagai aturan yang sudah disusun Pemerintah guna mencegah meledaknya korban covid-19 paska perayaan.

Pada tahun kedua pandemic Covid-19 ini, perekonomian di Provinsi Banten perlahan sudah mulai membaik ditandai dengan naiknya nilai ekspor pada bulan Maret 2021 sebesar dan naik 20,23 persen dari Maret 2020 (US$919,90 Juta), sumbangan terbesar Nonmigas (Maret 2021): Alas Kaki (Kode HS 64): US$199,16 Juta (18,01 %). Hal ini tentu saja menjadi berita gembira bagi masyarakat Banten, karena sedikit banyaknya, hal ini tentu berpengaruh terhadap perekonomian masyarakat.

Melihat kondisi harga di pasar yang dipantau oleh BPS di Cilegon, Serang dan Tangerang, menjelang perayaan Idul Fitri sudah nampak kenaikan pada sebagian besar kelompok pengeluaran. Secara umum, kenaikan harga atau inflasi yang terjadi di Provinsi Banten sebesar 0,17 persen, inflasi ini adalah gabungan dari kota Cilegon (0,22 persen), Serang (0,19 persen) dan Tangerang (0,15 persen).

Inflasi pada bulan April terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks Kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,49 persen. Hal ini sangat wajar terjadi karena pada saat menjelang Idul Fitri, komoditi yang ada pada kelompok ini pastilah banyak dicari. Pada kelompok pengeluaran ini, Kota Tangerang mengalami inflasi tertinggi, yaitu sebesar 0,52 persen dengan nilai indeks harga konsumen di bulan April 2021 ini sebesar 108,39 persen; Kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,42 persen; Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,18 persen; Kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,09 persen; Kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,06 persen; Kelompok kesehatan sebesar 0,02 persen; Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,01 persen.

Indeks Harga Konsumen (IHK) dan Tingkat Inflasi Gabungan 3 Kota IHK Provinsi Banten
Bulan April 2021, Tahun Kalender 2021 dan Tahun ke Tahun
Menurut Kelompok Pengeluaran COICOP (2018=100)
  Kode Komoditas Tingkat Inflasi (%) Andil Inflasi (%) Inflasi Tahun Kalender (%) Inflasi Tahun ke Tahun (%) IHK April 2021
  Umum 0,17 0,17 0,81 1,31 106,46
01 Makanan, minuman dan tembakau 0,49 0,13 2,08 1,98 108,96
02 Pakaian dan alas kaki -0,02 0,00 0,29 2,55 106,19
03 Perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 0,01 0,00 0,06 0,06 105,14
04 Perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga 0,42 0,03 1,26 2,61 110,19
05 Kesehatan 0,02 0,00 0,26 1,06 104,76
06 Transportasi -0,01 0,00 0,35 1,47 103,34
07 Informasi, komunikasi, dan jasa keuangan -0,13 -0,01 -0,08 -0,42 91,93
08 Rekreasi, olahraga dan budaya 0,09 0,00 0,11 0,50 106,86
09 Pendidikan 0,00 0,00 0,00 0,54 107,05
10 Penyediaan makanan dan minuman/restoran 0,06 0,01 0,85 1,57 106,49
11 Perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,18 0,01 0,64 2,83 116,75
Sumber : Berita Resmi Statistik Bulan Mei 2021

Tidak semua kelompok pengeluaran pada bulan April ini mengalami kenaikan harga, untuk kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan pada bulan ini mengalami penurunan indeks sebesar 0,13 persen; kelompok pakaian dan alas kaki juga mengalami penurunan sebesar 0,02 persen, hal ini mungkin disebabkan sebagian ekspor alas kaki yang tidak lolos akhirnya dipasarkan di pasar domestik; pada kelompok transportasi juga mengalami penurunan sebesar 0,01 persen, hal ini bisa jadi merupakan efek dari kebijakan Pemerintah melarang mudik pada perayaan Lebaran mendatang. Sementara kelompok pendidikan tidak mengalami perubahan indeks.

Kebijakan Pemerintah melarang penduduk untuk mudik Lebaran pada tahun ini dimaksudkan untuk mencegah terjadinya lonjakan penularan virus Corona-19 di Indonesia. Kondisi yang mengerikan yang terjadi di India pada akhir minggu ini, mudah-mudahan tidak terjadi paska Lebaran di Indonesia. Tali silaturahim tentu harus kita bina dan jaga dengan sebaik mungkin, tetapi yang tidak kalah utama adalah kesehatan bagi bangsa dan negara ini agar perekonomian kita boleh terus bangkit. (*)