by

Semua Ada Waktunya…

-Opini-86 views

Pagi. Pagi. Pagi…

Beberapa minggu ini, menikmati sarapan enak, mumpung gratis. Libur lebaran hampir sepekan, ketemu banyak kolega. Dan kopi pagi ini masih terasa manis. Artinya, gula di negara ini masih tersedia. Paling tidak, saya sudah berada satu kelas lebih tinggi di atas warga Myanmar yang saat ini puasa gula karena mengalami krisis politik. Kasihan sekali warga disana. Kudeta dan konflik politik memang menyiksa rakyat sipil, merenggut kebebasan asasi mereka untuk hidup tanpa ancaman dan makan minum dengan tenang.

Selama musim pandemi ini, saya lebih banyak menghabiskan interaksi menulis di twitter. Jarang sekali saya menulis lagi di media. Disamping karena sibuk bekerja jadi pegawai, ngajar dan nyicil nulis buku, hobi saya menulis opini di media mulai saya kurangi. Di waktu luang kadang-kadang juga mengurus tanaman di pekarangan rumah. Saya bisa mengatakan, pandemi ini adalah cara Tuhan mendekatkan manusia kembali dengan alam.

Tapi, diantara banyak hobi, menulislah yang paling saya sukai. Dari menulislah, saya menemui jalan hidup. Banyak orang merasa kesulitan menulis. Kuliah habis-habisan untuk bisa menulis yang enak dibaca. Saya beruntung diberi bakat menulis tanpa kuliah sastra atau sebangsanya. Cita-cita saya awalnya adalah ingin jadi ilmuwan kelautan.

Ketika duduk di bangku SMA, saya ingin sekali setiap hari berlayar dan meneliti apa saja yang ada di laut. Rasa-rasanya Tuhan begitu baik, sampai membuat laut sebegitu indahnya sehingga ada jurusan kuliah khusus tentang kelautan. Artinya studi tentang laut itu memang dipentingkan. Tapi apa boleh dikata, waktu kadang menyetir nasib. Tak ditakdir jadi ilmuwan laut, malah Tuhan memberi jalan menjadi penulis. Dari menulislah, saya bisa hidup dan menghidupi. Paling tidak sampai di titik sekarang. Saya menyadari bakat menulis ini ketika tulisan saya diberi hadiah lomba dari berbagai tingkat. Artinya, tulisan saya enak dibaca, diterima publik dan ujungnya, jadi duit.

Hidup kadang melupakan rasa syukur. Besar kecil, banyak sedikit, enak tak enak, apapun bagaimanapun, tak disadari waktu terus berjalan kan? Kuncinya tetap semangat, jangan lupa sembahyang, serahkan diri kita pada yang mengatur. Dan yang paling penting, ajaklah hati dan diri kita berbicara. Apa yang kita suka, apa yang kita bisa. Itulah jalan hidup.

Kadang saya merasa lupa bersyukur saat melihat orang-orang susah-payah cari kerja, susah payah ingin menikah, susah payah ingin kuliah, susah payah ingin makan enak, susah payah ingin jalan-jalan naik mobil, susah payah cari uang dan banyak kesusahan lain yang mesti kita jadikan itu alasan untuk bersyukur. Hidup tak selembek tape goreng.

Saya juga kadang terbayang-bayang kehidupan susah di pedesaan. Tiap kali pulang kampung, saya sempatkan singgah ke beberapa rumah warga dusun yang kekurangan. Meski hidup saya belum kaya, tapi niat memberi selalu saya sediakan. Tatapan Mbah Dar yang kosong akan hidup ke depan. Rutinitas Mbah Mi yang bosan akan keseharian. Potret-potret kecil itu yang kadang menguatkan mental saya untuk sebisa mungkin hidup berlebih dan memberi. Saya lahir dari keluarga sederhana, bapak ibu saya hanya seorang birokrat sederhana. Bukan priyayi kelas atas yang nasib anggota keluarganya sudah dikapling menduduki jabatan tinggi di lembaga negara. Tapi saya cukup bersyukur, rumah orang tua saya sering jadi persinggahan orang-orang desa untuk sambat (mengeluh). Konon, eyang saya yang mantan lurah dusun berpesan, bukalah pintu rumah kepada warga-warga kecil. Disitulah pintu harta dan jabatan terbuka juga.

Di tengah malam kadang-kadang saya menangis sendiri dalam doa. Meminta maaf pada pengatur hidup. Maaf karena belum bisa berbuat banyak untuk Mbah Dar dan Mbah Mi lainnya di desa. Berterima kasih juga kepadaNya. Berterima kasih karena telah memberi hidup yang saya pikir berkecukupan. Punya relasi, teman yang baik, sahabat yang sering menolong dan memberi jalan keluar ketika saya mengalami kebuntuan. Tuhan memang mendidik hati di malam hari. Beruntunglah yang mendapatkan ketenangan malam dan berdoa.

Sekali lagi, saya harus pandai bersyukur atas hidup yang diberi Tuhan hingga titik sekarang. Diberi kesempatan kuliah. Diberi bakat dan pekerjaan yang baik. Diberi mertua dan istri yang baik. Meski ada cita-cita yang belum sampai, toh ini hanya soal waktu dan giliran. Semua ada waktunya. Orang bijak bilang, “Hidup yang tak diperjuangkan, tak pernah dimenangkan”. Maka, kuncinya adalah berjuanglah dan berusaha…

 

Salam ngopi. Sruputttt….

 

Penulis : 

Yuska Apitya

Penikmat kopi pagi.*)