by

Politik Give Away : Suara Milenial, Suara Tuhan

Siang tadi saya mendapat kiriman data hasil survei Capres 2024 terbaru oleh kawan yang bekerja di Istana Kepresidenan RI. Nama-nama yang beredar di survei tersebut tak jauh berbeda dengan nama yang mengedar sebelumnya. Saya hanya membalas singkat ke teman itu.

“Pisang goreng kalau digoreng kelamaan akan lembek terkena panas, gosong karena kepanasan dan tak laku dijual karena rasanya sudah pasti tak jelas,”

Teman saya yang merupakan kolega salah satu nama yang mengedar di survei tersebut hanya tertawa terbahak-bahak. Saya pribadi tak yakin, nama-nama yang dipopuliskan oleh segenap lembaga survei belakangan ini akan tampil di Pilpres 2024. Meskipun ada beberapa nama yang berpeluang, itupun belum dipastikan menang atau kalahnya di pertarungan.

Saya bukan politisi atau kader partai manapun, jadi saya tidak tahu bisik-bisik atau dinamika di dalam partai yang berencana mengusung calon-calon presiden tersebut. Namun, paling tidak, sebagai salah satu warga Indonesia yang tergolong milenial, saya berhak memberi pengamatan akan fenomena-fenomena capres itu. Bagaimanapun kan mereka barang dagangan partai yang akan dijual di pasar politik 2024 nanti.

Sebagai kaum milenial yang berstatus pekerja aktif, saya bisa katakan, nama-nama tersebut akan basi pada waktunya. Pola pikir (mindset) milenial itu pada hakikatnya sangatlah sederhana. Tak perlu muluk-muluk dijanjikan banyak hal yang bersifat politis karena tak semua milenial adalah manusia politik yang bersikap politis. Bahkan, lebih banyak milenial bersikap apolitis karena anggapan politik adalah barang kotor masih melekat pada nalar mereka.

Usia pemilih milenial yang akan nggendon menjejali Daftar Pemilih Tetap (DPT) pada Pemilu 2024 tak main-main jumlahnya. Milenial Indonesia memiliki saham tak kurang dari 40 persen di Pemilu 2024 mendatang. Presentase ini berkemungkinan meningkat seiring dengan verifikasi data pemilih 3 tahun mendatang. Artinya, jika melihat peta saham suara milenial tersebut sudah dipastikan, siapa yang bisa merebut hati milenial, maka ia akan menguasai panggung 2024. Jokowi sukses melakukannya pada 2014. Aksi-aksi ekstrim dan di luar nalar saat menjabat Wali Kota Solo sukses mencuri perhatian netizen dan kamera media massa. Nama Jokowi terus mengaung dengan tone positif di jejaring sosial media. Petanda bahwa milenial mengamini kehadirannya.

Lantas, bagaimana dengan nama-nama yang beredar saat ini? Saya pesimis nama-nama seperti Ganjar Pranowo, Prabowo Subianto, Agus Harimurti Yudhoyono, Anies Baswedan, Ridwan Kamil, Sandiaga Uno, Puan Maharani, dan sejumlah nama lain yang mengorbit di lembaga survei mampu mengikuti jejak Jokowi seperti pada 2014 silam. Nama-nama ini kadung muncul dengan aneka kontroversi, meski dipoles dengan jutaan konsultan pencitraan, netizen milenial sudah kebacut merekam kekurangan mereka. Beda hal dengan Jokowi waktu itu. Meski dibombardir fitnah, ia tetap mendapat ruang kepercayaan tersendiri.

Seorang kawan yang kini bekerja membidani lembaga riset politik berujar, kunci utama mendapatkan hati dan empati milenial itu cukup 3 hal :

  1. Ikuti mainstream sosmed
  2. Ikuti media mainstream
  3. Perbanyaklah give away.

Untuk nomor 3 ini saya membenarkan 100 %. Saya bisa mengatakan “Politik Give Away” ini jauh lebih efektif untuk merebut hati masyarakat milenial Indonesia, setidaknya untuk masa-masa dua atau tiga tahun mendatang. Kita mungkin tak sadar bagaimana lapak-lapak onlineshop yang mengorbit saat ini berlomba-lomba mengadakan give away. Artis-artis yang beralih menjadi youtuber dan awalnya dihujat massal oleh milenial, kini mulai dicintai karena kerap mengadakan give away. Ini harusnya dibaca oleh pemain-pemain politik yang akan mentas di 2024, baik capres atau caleg. Jika politisi tak mampu mengikuti nalar dan pola pikir milenial, sudah pasti dia akan ketinggalan kereta. (*)

 

Yuska Apitya,

Anak Kereta. **)