by

Alfianisme

-Opini-70 views

Pada Kamis (27/3/2014) kira-kira sekitar bada salat asar, ponsel saya mendadak mengaung dan bergetar. Dua kali panggilan telefon itu tak terjawab. Nomor ponsel simpati dengan seri yang terbilang cantik itu saya yakin bukan milik sembarang orang.

Lewat seluler itulah percakapan pertama saya dengan Alfian Mujani, jurnalis senior Jawa Pos yang juga kaki tangan Mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan. Kala 2014 itu, saya masih sibuk membidani kehumasan di lembaga akuntan publik di Jakarta. Tapi sebelum mengangkat telefon itu, saya sudah berfirasat, Pak Alfian akan meminta kesediaan saya membantunya untuk mengawal media yang ia gawangi.

Nada suaranya berat tapi penuh semangat, intonasi suaranya terstruktur dan matang, khas intelektual kampus yang kaya akan pengalaman. Dengan antusias ia menerangkan kepada saya soal visinya ingin kembali mendirikan media pencerah di Bogor. Saat 2014 itu, Pak Alfian masih menjabat komisaris di salah satu perusahaan BUMN, disamping juga membidani salah satu media besar di Tanah Air, Inilah Group. Soal mandatnya di BUMN ini, dugaan saya, tak lepas dari kedekatannya dengan Dahlan Iskan. Disamping juga keterikatan Dahlan Iskan dengan Almarhum di dunia persahaman media Jawa Pos Group.

Usai menerangkan visinya ingin memperluas jaringan media, saya lantas diundang untuk ngopi bareng. Dari obrolan warung kopi itulah, saya mendapat banyak pemahaman tentang filsafat bermedia yang benar dari seorang Alfian Mujani. Paradigma media dari yang sebagai backsound kepentingan partai, suaka bisnis kotor para cukong, hingga pada tugas mulianya yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Setidaknya saya dapatkan dari dialektika dengan Almarhum Alfian.

Dari kafe yang terletak di Bangbarung Bogor itulah saya mengenal dogmatisasi narasi yang pas dan koheren dalam menjawab tantangan bisnis media ke depan. Sejak saat itu hingga sekarang mazhab yang saya anut tak berubah, Alfianisme. Mazhab bermedia yang pada prinsipnya tak perlu memukul untuk merangkul. Dan tak perlu memaksa untuk dirangkul. Kritiklah dari hati berdasarkan data dan fakta. Hindari prinsip “Palu Arit” dalam bermedia. Prinsip Palu Arit yang dimaksud ini adalah memukul dan menghajar narasumber untuk diperas menjadi objek iklan. Konsep dasar Alfianisme adalah jurnalisme positif dan jurnalisme inspiratif yang narasinya bersifat persuasif, optimistis dan memberi banyak referensi baru dalam berkehidupan dengan bijak dan matang.

“Yus, media kita nggak apa-apa nggak ditakuti. Saya juga nggak butuh ditakuti. Nggak laku iklannya nggak apa-apa. Kita jangan sakiti hati orang dengan tulisan kita. Dibaca silahkan, nggak dibaca juga nggak apa-apa. Dekati saja jadikan kawan. Saya lebih suka nyari teman daripada dimusuhi lalu dirangkul. Itu prinsip palu arit, saya nggak cocok pakai filsafat palu arit,”

pesan Alfian kepada saya, dalam sebuah percakapan di warung kopi.

Saya belajar banyak dari Almarhum Alfian. Hampir setiap minggu saat bersama-sama membidani media di bawah naungan Inilah Group, beliau sering mengajak diskusi sambil ngopi bareng. Tak cuma soal diskusi bisnis permedia-an. Diskusi soal nasib dan masa depan, juga ia tak segan memberikan nasihat. Dari Almarhumlah saya akhirnya ‘terjerumus’ untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S-2. Juga, untuk tak setengah hati mendalami ilmu yang saya senangi.

“Jangan terlena terus-menerus menjadi pekerja media. Jadilah bos media. Jangan lupa sambil sekolah. Nulis buku. Kuliah itu penting, kalau bisa sampai doktor, kalau pensiun nulis kan bisa ngajar. Sukur-sukur kalau garis tangan baik kan jadi pejabat kalau pinter,” kata Almarhum, tak sekali dua kali ia ucapkan ketika diskusi khusus dengan saya.

Sepak terjangnya di dunia media jangan tanya lagi. Ia pencetak kader-kader pers dari Geng Konco-konco Solo. Jauh sebelum Jokowi didapuk jadi capres, Alfian juga telah berkawan baik dan dekat dengan Jokowi di Solo. Walikota Bogor, Bima Arya juga tak segan menegaskan bahwa dirinya menjadi pemimpin Kota Bogor atas andil dan permintaan Alfian.

“Beliau orang idealis. Beliau yang meminta saya untuk jadi walikota di Bogor,” kata Bima Arya, mengenang almarhum, dalam japrinya ke WA saya.

Tak heran jika kepergian Alfian tahun ini menjadi duka tak cuma dunia pers geng UNS (Universitas Negeri Sebelas Maret) saja, tapi juga di banyak dunia, di dunia pengusaha hingga politisi. Benih-benih kebaikan yang ia tanam, doa dan nasihat yang acap ia berikan kepada orang-orang yang ia kenal, tulisan-tulisan yang ia tinggalkan, adalah bagian dari perjalanan menuju ke Haribaan Ilahi. Alfian memang telah pergi, tapi Alfianisme akan terus ada sebagai referensi jurnalisme positif yang berkhidmat pada tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Berangkat hidup dari tangisan, menjalani hidup untuk pengabdian, meninggalkan kehidupan dengan kenangan.

Selamat jalan Guruku.

 

Penulis, Yuska Apitya. *)