by

Berdamai dengan Aib

-Headline-32 views

Banyak orang mengeluhkan temannya dianggapnya berubah, yang baru diketahui memiliki aib. Ada atasan yang mengeluhkan staff dan anak buahnya yang terindikasi melakukan penyimpangan tugas. Faktanya, memang banyak dalam hidup ini orang yang mengeluhkan sifat dan karakter orang lain. Sepanjang aib tidaklah fatal, memaafkannya adalah sikap terbaik.

Ada kalimat menarik dari Syekh Fudlail bin Iyadl: Barangsiapa mencari saudara yang tanpa cela, maka dia akan hidup tanpa saudara. Kalimat ini bermakna bahwa memang tak ada manusia yang sempurna. Mencari manusia tanpa aib hanya boleh dilakukan oleh orang yang bebas aib. Karena tak mungkin kita ini tanpa aib, maka belajarlah memaklumi aib orang lain.

Dalam bersahabat, pandanglah kelebihan yang dimiliki sahabat itu. Fokus pada kekurangannya hanya akan menjauhkan kita dari dia. Kalau kita hanya fokus pada aibnya, maka kita tak akan punya sahabat. Andaikan kita yang dalam posisi memiliki aib, mintalah maaf dan berupayalah memperbaiki diri. Bersikukuh mempertahankan aib dengan aneka rupa alasan, adalah salah satu jenis penyakit keras kepala yang meruntuhkan nilai diri.

Sebagai bukti benarnya ungkapan Syekh Fudlail di atas adalah seorang pemuda ganteng putera seorang pengusaha kaya sampai kini tak dapat-dapat jodoh. Penyebabnya hanya hanya satu, yakni orang tuanya mencari seorang gadis cantik luar dalam, anak konglomerat kaya raya, cerdas dan sopan. Orang tua ini lupa bahwa cantik dan cerdas sering tak menyatu, cantik luar dalam sering tak selalu bersama, sopan dan kaya kadang-kadang saja bias bersatu. Untuk itu, janganlah mencari kesempurnaan. Bukankah sejarah mengatakan bahwa manusia turun ke bumi dari kesalahan. Salah karena Adam dan Hawa terlalu mendengarkan bisikan iblis. (*)

Tim Editorial,