by

Fenomena Ganjar-Puan: Mas Mbak, Belajarlah dari Pak Jokowi!

-Headline-109 views

Gegap gempita survei kandidasi calon presiden (capres) nampaknya sudah mulai ramai dibicarakan. Tak cuma kalangan tua saja yang menikmati euforia hasil survei nama-nama bakal capres yang muncul di jagad maya dan media massa. Terpampang beberapa nama yang menduduki peringkat wahid, mulai dari Prabowo Subianto, Ganjar Pranowo, Anies Baswedan, Ridwan Kamil, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Khofifah Indar Parawansa, dan yang paling anyar dibicarakan publik di akar rumput adalah Puan Maharani, cucu Presiden RI Ke-1, Soekarno.

Melejitnya nama Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo di sejumlah lembaga survei kandidasi capres nampaknya mempengaruhi konstelasi politik di tingkat elite. Di interal PDIP sendiri, Ganjar mulai dijadikan musuh bersama oleh kader-kader yang loyal terhadap Megawati Soekarnoputri, Ibunda Puan Maharani. Kabar berkembang jauh-jauh hari bahwa Gerindra dan PDIP tengah menapaki kesepakatan untuk membentuk koalisi poros nasionalis. Dua nama yang akan dimatangkan menjadi pasangan di Pilpres 2024 kabarnya juga sudah dibahas oleh kedua partai, yakni Prabowo Subianto sebagai calon yang akan diusung Gerindra. Dan, nama Puan Maharani dimainkan untuk mendampingi Mantan Danjen Kopassus itu.

Roadmap politik untuk 2024 ini nampaknya mulai terusik dengan melejitnya nama Ganjar Pranowo di sejumlah hasil survei capres. Ganjar sendiri sebenarnya adalah kader loyal PDIP. Namun, bargaining posisi Ganjar di internal PDIP lemah, ditambah minimnya sokongan elite dan pengurus PDIP di kecabangan. Nampak menjadi batu sandungan dan jurang bagi Ganjar ke depan. Sejumlah kader PDIP yang loyal pada Puan dan garis kepemimpinan Megawati juga mulai terganggu dengan aksi-aksi Ganjar yang memantik tawa dan simpatisan netizen lewat jejaring Youtube, Twitter dan beragam sosial media lainnya. Mereka memastikan aksi jor-joran Ganjar di sosmed itu adalah strategi personal branding yang terorganisir dan terkonsep untuk menata diri menuju Pilpres 2024. Sah-sah saja, kader dan loyalis cemburu. Dalam politik, persaingan kan tak cuma antar partai. Banyak kader sesama partai saja bisa saling tikam untuk mendapatkan kekuasaan.

Tak cuma protes dan mengkritik keras aksi-aksi Ganjar tersebut, kader dan loyalis Puan Maharani nampaknya mulai gerah melihat Alumnus Universitas Gajah Mada (UGM) itu ajeg bertengger di papan wahid klasemen survei. Kejengkelan mereka bertambah ketika mengetahui bahwa nama Puan Maharani nyungsep di papan bawah. Bahkan, ada lembaga survei yang menakar elektabilitas Ketua DPR RI itu di bawah 1%. Jelas, Puan tak mau tinggal diam. Kader dan loyalisnya pun tak mau duduk diam. Baliho mulai disebar. Foto Puan Maharani dengan slogan “Kepak Sayap Kebhinekaan” nampak bertebaran dimana-mana. Ini jelas strategi branding untuk mengerek elektabilitas. Disamping juga kekesalan kader dan loyalis Puan yang tak rela survei elektabilitas pujaannya itu terus-menerus nyungsep dilibas Ganjar.

Peluang Ganjar untuk maju di Pilpres 2024 sebenarnya tak tertutup dengan disebarnya baliho Puan Maharani. Banyak partai politik yang mulai mendekati Ganjar untuk mengusungnya. Nasdem dan PKS, dua partai yang nampak mulai berhaluan dengan PDIP, dengan terang-terangan membuka pintu itu. Namun, Ganjar sendiri tak mau mengambil resiko terlalu dini. Toh, saat ini ia masih aktif menjabat Gubernur Jawa Tengah yang diusung dan didukung mati-matian oleh PDIP di Pilkada lalu. Pastinya, Ganjar punya perhitungan tersendiri. Sampai saatnya tiba, Ganjar akan menyatakan sikap. Berdiri tegap mendukung Puan. Atau berdiri tegap menantang Puan.

Jika boleh memberi saran, sebaiknya memang Mas Ganjar dan Mbak Puan banyak-banyak belajar dari Mas Jokowi. Kita masih ingat 2013 silam, ketika nama Jokowi dieluk-elukkan banyak kalangan, banyak generasi dan banyak segmentasi. Nama Jokowi seakan memberi efek kejut bagi publik. Kepopuleran dan fanatisme masyarakat terhadap Jokowi waktu itu tak dibangun dengan basis baliho atau buzzer sosmed (kala itu).

Media massa (wartawan, redaktur, bos-bos media) lah yang pada akhirnya kepincut memberitakan kehebohan netizen mengeluk-elukan nama Jokowi. Netizen dari berbagai lini sosial media yang rutin setiap hari memviralkan aksi-aksi Jokowi menjadi daya pikat wartawan untuk rutin menulis tentang keseharian Wali Kota Solo kala itu. Sayangnya, Ganjar Pranowo dan Puan Maharani tak semenarik Jokowi kala itu. Sulit memberi efek kejut bagi publik saat ini, apalagi di musim pandemi seperti ini. Kalaulah ada, pastinya adalah sosok yang dermawan yang tak perhitungan memberi harta bendanya untuk menghidupi pengangguran, korban PHK, lulusan sekolah dan kuliah yang butuh kerja. Bukan sosok yang pamer keseharian dan doyan pencitraan di lini sosmed, apalagi pasang-pasang baliho. Publik rasa-rasanya sudah muak melihat gerakan politik ala-ala konservatif (kuno) seperti itu. Publik mulai waras dan acuh melihat akrobat politik ala-ala Orde Revolusi seperti itu. Menjual slogan untuk menarik perhatian. Berilah solusi bagi publik yang kini berani berkata, “Tak kerja, tak makan. Tak dipekerjakan, jadi pengangguran. Mau dagang, butuh modal!”. (*)

Tim Editorial,