by

Jangan Hidup Dibudak Angka

Seorang kolega yang kini dipercaya Pak Jokowi jadi komisaris di salah satu perusahaan plat merah curhat di lini masa twitternya. Dia bingung menghadapi krisis etos yang dialami pegawai di perusahaannya itu. Dia juga menyambit komentar bahwa manajemen kedireksian perusahaan memaklumi penurunan etos karena ada penurunan sejumlah tunjangan. Sebagian pegawai malah ada yang sudah dirumahkan tanpa status yang jelas. Hanya diberi gaji pokok, tunjangan demi tunjangan dihilangkan karena biaya operasional perusahaan membengkak lantaran income menurun terdampak pandemi. Sebagian ada yang sudah diputus kontrak karyanya karena perusahaan tak bisa menggaji.

Persoalan pendapatan dan etos kerja pegawai nampaknya dua hal yang berhubungan. Lebih erat dari hubungan suami istri. Ibarat rumus matematika, gaji dan tunjangan adalah harga mati linearitas rumus bilangan yang membentuk kuadran dan menghasilkan bilangan lebih bernama ‘etos kerja’. Sebagai mantan anak IPA, saya tahu betul rumusan linearitas bilangan. Semakin kecil bilangan subjek, semakin kecil juga bilangan objek hasil. Begitupun dengan rumusan gaji atau pendapatan, semakin kecil subjek sumber, semakin kecil juga objek etos hasil. Rumusan bilangan ini dipakai dalam disiplin perusahaan-perusahaan multinasional. Tak heran jika melihat pegawai dengan gaji puluhan juta rupiah setiap bulan. Tapi, lihat juga beban dan target yang mereka emban. Hidup mereka dijejali angka-angka. Dibudak grafik yang dituntut untuk selalu naik. Ketika mereka lengah sedikit, grafik langsung drop dan hancur. Tak heran jika usia hidup mereka singkat karena mental dan psikisnya terjerat dengan target pekerjaan. Penyimpangan mazhab akhirnya berlaku, yakni hidup untuk bekerja, bukan bekerja untuk menikmati hidup.

Mazhab kehidupan setiap pekerja pastilah berbeda. Ada yang bekerja untuk menjadi kaya. Ada yang bekerja untuk mengisi kekosongan. Ada yang bekerja untuk sekedar mencukupi kebutuhan. Ada yang bekerja mengejar kenyamanan. Ada yang bekerja karena hobi. Beruntunglah, mereka yang bekerja berdasarkan hobi dan kesukaan. Pekerja yang menjalankan roda pekerjaan berdasarkan hobi, ia akan menjadikan pekerjaanya sebagai ladang waktu mengisi hari-hari. Mereka akan menemukan jalan hidup menjadi kaya seiring monetisasi hasil dan pengalaman hobi yang ia jalani. Pelukis-pelukis masyhur membuktikan itu. Penulis-penulis buku keren juga membuktikan itu. Berhari-hari melukis dan menulis, bermalam-malam merenung untuk menciptakan ide karyanya, begitu lukisan dan tulisan jadi, ratusan juta bahkan miliaran rupiah bisa mereka dapat. Untuk buku apalagi, royalti mereka bisa menjadi ongkos pensiun. Tidak ada parameter harga lukisan dan tulisan di dunia pasar. Anasir, ahli pajak dan ekonom saja tak bisa menaksir harga pasti sebuah karya lukisan dan tulisan, karena ia adalah produk hobi.

BACA JUGA:  Gubernur Kumpulkan OPD Bahas Solusi Berantas Pengangguran Banten

Mari baca buku kisah-kisah orang berhasil di bidang hobi seperti Karni Ilyas (Tokoh Media Massa), Dahlan Iskan (Pengusaha Media), Chairul Tanjung dan Surya Paloh (Dua taipan media di Indonesia). Garis hidup mereka saat ini adalah hasil pendakian dari tingkat paling bawah. Berangkat dari hidup pedih dan serba kekurangan. Apalagi jika membaca buku biografi Dahlan Iskan. Perantau desa yang sama sekali tak tahu rimba dan belantara kota. Masa kecilnya hidup menderita, boro-boro akan enak, bisa makan dengan lauk tempe bumbu saja rasanya sulit bagi Pak Dahlan. Tapi yang tak dipunya orang lain adalah semangat dan mimpi yang ia miliki. Sepertinya mimpi dan semangat adalah kunci garis hidup seseorang. Selain juga campur tangan orang lain di sepanjang perjalanan.

BACA JUGA:  Heboh! Motor Masuk Tol Japek, 3 Bocah Ketabrak Mobil, Jadi Pelajaran...

Di masa-masa sulit seperti sekarang, sepertinya manusia juga perlu mempertimbangkan untuk memiliki rasa syukur. Tidak ada untungnya juga mengeluh, menggerutu dan menyumpah serapah atas apa yang kita dapat, apa yang kita peroleh dan apa yang kita hasilkan. Ketika kita melihat ke bawah, orang-orang susah mencari kerja. Orang-orang begitu ingin bekerja. Orang-orang yang haus ingin menyandang status bekerja. Kita jadi teringat, mahalnya sebuah pengalaman. Hidup sebaiknya tak perlu dibudak angka. Nikmatilah apa yang kita dapat, kita sepakati dengan hati. Jika kita merasa kekurangan, carilah yang lebih. Jika kita merasa tak menikmati, carilah yang sesuai dengan hati. Mengeluh hanya pekerjaan orang-orang cacat. Cacat akan semangat dan cacat terhadap mimpi. Dan, yang maha penting adalah berproses tanpa perlu dibudak angka. (*)

BACA JUGA:  Positif Covid-19, Sakit Terberat Sepanjang Hidup untuk Saya….

 

Author, 

Yuska Apitya

Mantan Anak IPA. **)

 

 

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%