by

Kemapanan Generasi Milenial Banten

-Opini-72 views

Generasi milenial atau Generasi Y sempat ramai dibicarakan orang pada beberapa tahun terakhir ini. Menurut William H. Frey yang dikutip dari Berita Resmi Statitstik BPS Provinsi Banten, generasi milenial adalah penduduk yang berumur antara 24 hingga 39 tahun atau yang lahir antara tahun 1981 hingga 1996. Ada juga yang mendefinisikan milenial kedalam kelompok umur yang lebih muda. Boomingnya istilah milenial juga diikuti dengan pendapat para pakar tentang ciri-ciri atau karakateristik kelompok usia tersebut.

Menurut pendapat beberapa ahli dan hasil penelitian, kaum milenial memiliki kepercayaan diri yang tinggi, berpikiran terbuka, mengedepankan kemandirian dan kerja keras, lebih optimis dan kemampuan dalam hal teknologi. Beberapa hal negatif mereka antara lain mudah bosan, mudah berpindah pekerjaan, tingkat konsumtif yang tinggi, lebih suka single daripada berkeluarga bahkan kadang susah diatur. Karakteristik itu sepertinya tidak berlaku untuk semua orang yang tergolong dalam usia milenial. Lebih cenderung menyasar kepada kelompok usia milenial di perkotaan. Bahkan banyak orang yang berumur antara 24 sampai 39 tahunpun tidak tahu bahwa mereka adalah generasi milenial.

Berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2020 (SP2020), jumlah kaum milenial di Indonesia berkisar pada angka 25,87 persen dari seluruh penduduk Indonesia. Persentase kaum milenial di Banten sedikit lebih tinggi dibandingkan Indonesia, yaitu 28,11 persen atau sekitar 3,3 juta orang. Generasi X (40-55 tahun) menjadi penduduk terbanyak di Banten, yaitu 28,28 persen dan generasi Z (8-23 tahun) sebanyak 21,76 persen.

75 persen kaum milenial Banten tinggal di daerah perkotaan dan 25 persen sisanya di wilayah perdesaan. Penduduk Provinsi Banten mayoritas berdomisili di daerah perkotaan seperti di Tangerang Raya, sekitar 55 persen,  plus Kota Serang dan Cilegon. Kaum milenial yang tinggal di wilayah perdesaan sebagian besar di Kabupaten Lebak, Pandeglang dan Serang serta sebagian kecil di Kabupaten Tangerang, Kota Serang dan Cilegon.

Kemandirian dan kemampuan teknologi kaum milenial setidaknya sejalan dengan pendidikan yang tinggi. Dari sisi ini, Banten memang masih lambat perkembangannya. Masih 46 persen penduduk usia milenial yang berpendidikan paling tinggi Sekolah Menengah Pertama (SMP), artinya masih ada yang tidak tamat SD atau hanya tamat SD saja. Kendala terbesar potret pendidikan beberapa kabupaten di Banten adalah kualitas dan kuantitas fasilitas pendidikan yang kurang memadai. Hal ini secara langsung mempengaruhi minat masyarakat terutama di pedesaan untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Diperparah dengan tingkat kesejahteraan yang pas-pasan dan biaya untuk sekolah menengah/tinggi yang masih dianggap mahal oleh sebagian masyarakat.

Seberapa banyak generasi milenial Banten yang mampu memperoleh penghasilan sendiri? Ternyata 66,3 persen penduduk yang tergolong generasi milenial berstatus pekerja. Lalu dimana mayoritas kaum milenial Banten bekerja? Mereka mayoritas bekerja di sektor industri 25 persen; serta perdagangan dan reparasi kendaraan bermotor sebesar 21,4 persen. Sementara itu, pekerjaan di bidang pertanian hanya digeluti oleh 6,8 persen kaum milenial. Selebihnya bekerja dalam beberapa kelompok sektor/lapangan usaha yang termasuk dalam kategori jasa.

Sektor industri memang menjadi andalan Provinsi Banten. Industri besar dan sedang di Banten tersebar di Tangerang Raya, Kabupaten Serang dan Kota Cilegon. Pendatang muda dari luar Banten seperti Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur ataupun dari kabupaten/kota di Banten berusaha untuk mengambil bagian dalam sektor industri ini. Secara otomatis juga, jika industri di suatu daerah berkembang maka beberapa bidang pekerjaan lain akan muncul seperti perdagangan dan jasa. Sehingga kedua bidang itu juga banyak digeluti oleh kaum milenial.

Sektor pertanian memang semakin lama semakin ditinggalkan oleh sebagian kecil penduduk. Mereka merasa bahwa pertanian sudah tidak lagi menjanjikan dari sisi ekonomi. Di beberapa daerah pedesaan, para kaum muda sudah banyak yang mencari peruntungan di kota untuk bekerja. Mereka ingin memperoleh pendapatan atau uang dengan cepat tidak perlu menunggu waktu berbulan-bulan untuk memperoleh hasilnya. Padahal potensi pertanian di Banten masih cukup tinggi. Tahun 2020, luas panen padi sebesar 325.330 ha dengan perolehan hasil gabah kering giling (GKG) sebanyak 1,66  juta ton. Jika dikonversikan menjadi beras, produksi beras pada 2020 mencapai 937,81 ribu ton. Produksi padi tahun 2020 mengalami peningkatan 12,56 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Pendapatan pekerja milenial Banten secara rata-rata hanya 2,7 juta rupiah per bulan walaupun ada yang berpendapatan sampai puluhan juta per bulan. Angka ini masih di bawah upah minimum kabupaten/kota (UMK) beberapa kabupaten/kota di Banten. Pendapatan sebesar itu diperoleh mayoritas pekerja sebagai buruh/karyawan (60,5%) dan 26,3 persen sebagai pengusaha/wiraswasta dan sisanya pekerja lepas/serabutan. Pekerja milenial yang memperoleh pendapatan rata-rata tertinggi adalah mereka yang bekerja pada sektor jasa keuangan dan asuransi, yaitu 5,4 juta rupiah, jasa kesehatan 4,9 juta lalu Informasi dan komunikasi berpendapatan 4,7 juta rupiah. Rata-rata pendapatan terendah adalah sektor pertanian yang hanya 620 ribu rupiah.

76 persen pekerja milenial berangkat dan pulang kerja menggunakan kendaraan pribadi. Kemudahan pekerja untuk memperoleh motor dengan kredit menyebabkan motor menjadi kendaraan utama. 89,7 persen rumah tangga kaum milenial memiliki kendaraan sepeda motor dan kepemilikan mobil hanya 14,5 persen. Sementara itu, yang sudah mapan mempunyai motor atau mobil sebanyak 13,8 persen. Kendaran bermotor tidak hanya digunakan untuk bekerja saja tapi juga untuk mempermudah dalam melakukan aktivitas sehari-hari lainnya. Menurut data Badan Pendapatan Daerah Provinsi Banten terdapat 5 juta lebih kendaran bermotor di Banten dan 4 juta diantaranya adalah sepeda motor.

Dengan kendaraan bermotor itu memungkinkan kaum milenial memiliki mobilitas yang cukup tinggi. Mereka gemar mencari pengalaman dengan melakukan perjalanan ke berbagai tempat. Salah satu kegiatan ‘menghabiskan uang’ tersebut lebih disukai daripada menabung atau berinvestasi. hanya 34,5 persen kaum milenial Banten yang melakukan perjalanan baik ke obyek wisata komersial atau menginap di fasilitas akomodasi komersial atau perjalanan dengan jarak tempuh lebih dari 100 km pulang pergi.

No Gadget No Life” sebuah ungkapan untuk kaum milenial. Pada masa mereka, penggunaan gadget berkembang pesat sehingga terkesan kelompok usia ini sangat akrab dan tidak bisa lepas dari gadget. Di Banten 89,6 persen generasi milenial menggunakan handphone/gadget. Dengan alat itu, mereka bisa menggunakannya untuk banyak keperluan. Ada yang hanya untuk komunikasi, hiburan, bisnis dan lainnya. Malah ada yang menjadikan gadget sebagai gaya hidup.  77,4 persen diantara mereka mengakses internet untuk berbagai keperluan. Konsep mengakses internet disini termasuk mereka yang hanya  ber media sosial (medsos) saja seperti facebook, youtube, whatsapp, twitter dan sejenisnya. Penggunaan internet dalam bekerja hanya dilakukan oleh 46 persen pekerja milenial.

Hal lain pencapaian yang cukup rendah dari kaum milenial Banten adalah bagaimana rendahnya akses kaum milenial Banten terhadap dunia perbankan. Hanya 47,4 persen kaum milenial memiliki tabungan di lembaga keuangan. Mereka cenderung lebih suka menghabiskan uang dengan melakukan perjalanan daripada menabung atau berinvestasi. Pengajuan kredit usaha melalui perbankanpun hanya 5 persen saja. Angka ini mungkin sedikit ‘under estimate’ karena banyak proses keuangan yang melibatkan perbankan atau lembaga keuangan lainnya.

80,8 persen rumah tangga kaum milenial menempati rumah milik sendiri, hanya 12,6 persen yang kontrak/sewa. Mereka memiliki rumah dengan rata-rata luas lantai sebesar 74 m2. Tingginya perkembangan perumahan di Banten mempermudah kaum muda untuk memperoleh tempat tinggal sendiri walaupun dengan proses kredit. Rumah merupakan investasi masa depan yang sangat penting terutama bagi kaum milenial pendatang.

Aktivitas lain yang ‘melekat’ pada orang Indonesia adalah tingginya konsumsi rokok. 35 persen kaum milenial Banten melakukan aktivitas merokok. Angka tersebut termasuk kaum perempuan. Kaum milenial berjenis kelamin laki-laki, 68,5 persennya adalah perokok. Rata-rata rokok yang dihisap per minggu sebanyak 84 batang. Kalau dirupiahkan, perokok milenial harus menyisihkan 450 ribu per bulan untuk mencukupi kebutuhan akan rokok. Jika diestimasi setahun, jumlah seluruh pengeluaran kaum milenial  mengkonsumsi rokok mencapai 6 triliun rupiah. Alangkah lebih bermanfaatnya jika uang sebesar itu digunakan untuk pembangunan.

Banyak permasalahan yang dihadapi oleh generasi milenial Banten mulai dari tingkat pendidikan, kesejahteraan ekonomi, hingga sosial budaya. Namun dengan kondisi tersebut, tetap saja generasi ini sangat diharapkan kelak menjadi tumpuan pembangunan pada masa sekarang dan mendatang. Kesadaran untuk selalu berbuat yang terbaik harus dimiliki oleh setiap orang termasuk generasi milenial. Kembangkan nilai-nilai positif dan kurangi bahkan hilangkan segala kesan negatif yang ‘nempel’ agar generasi ini menjadi generasi berkualitas dan terbaik diantara kelompok generasi lainnya. Aamiin.

*Sumber data: Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2020 dan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2020, diolah kembali

Penulis:

Suhandi, S.ST, MM
Fungsional Statistisi BPS Prov. Banten