by

Konsultan Politik

-Opini-43 views

Jangan sembarangan mencari penasihat politik. Kita tak bisa asal comot konsultan politik, karena tak semua orang ahli dalam memberikan nasihat. Juga tak semua orang yang ahli menasihati itu memiliki tujuan baik dan tahu cara terbaik. Contoh konkretnya sudah dijelaskan dalam Al-Quran, yaitu bagian yang mengisahkan terusirnya Adam dan Hawa dari surga.

Iblis jelas bukan penasihat hidup yang memiliki tujuan baik. Tujuan Iblis jelas sangat jahat, yaitu menurunkan Adam dan Hawa dari surga. Itu sebabnya, Iblis tak pernah berhenti berupaya memperdaya Adam. Iblis tampil sangat meyakinkan sebagai penasihat hidup terbaik.

“Wahai Adam, maukah engkau aku tunjukkan pohon khuldi (kekal) dan kerajaan yang tidak akan binasa?” kata Iblis kepada Adam dengan sangat profesional.

Ketika Adam tak juga tergoda, maka Iblis pun kembali menasihati Adam dan Hawa.

“Tuhan kamu tidak melarang kamu berdua mendekati pohon ini, kecuali agar kamu berdua tidak menjadi malaikat dan tidak termasuk hamba yang kekal,” kata Iblis dengan sangat meyakinkan.

Tak berhenti di situ, Iblis kembali mengulangi nasihatnya kepada Adam dan Hawa dengan bersumpah menggunakan nama Allah:

“Dan dia (Iblis) bersumpah kepada Adam dan Hawa: sesungguhnya aku termasuk orang yang memberi nasihat bagi kamu berdua”

Karena menggunakan nama Allah, maka  Adam yang betul-betul sangat hormat kepada Allah, terlena dan menerima nasihat Iblis. Maka, terusirlah Adam dan Hawa dari surga. Ketika kita mendapat nasihat atau wejangan politik, lihatlah secara cermat dan kritis siapa yang memberi nasihat itu. Pastikan yang memberi nasihat politik itu bukan Iblis dan kader-kadernya.

Sebab, nasihat dari Iblis dan kader-kadernya itu sangat membahayakan walaupun awalnya terasa sangat indah dan memabukkan. Pilihlah penasihat politik itu orang yang taqwa, shalih-salihah, takut kepada Allah dan orang berilmu.

Di hari-hari yang serba sulit seperti ini, hampir semua politisi kebingungan mencari jalan keluar. Baik presiden, menteri, kepala daerah atau anggota legislatif, semua mulai menggunakan jurus mabok untuk mencomot konsultan politik.

Tak sedikit yang salah comot dan akhirnya kebijakan atau langkahnya diprotes, dibully dan yang paling tragis adalah dijadikan label “pemimpin tak kreatif”. Dunia politik, mirip dunia pernikahan. Pelik. Penuh misteri. Penuh dengan janji (yang katanya suci). Manis di awal, dan pada akhirnya belum tentu. Berhati-hatilah memilih konsultan. (*)

 

Author,

Yuska Apitya Aji, S.sos, M.H

Analis Intelijen. **)