by

Mantan Kepala BIN: Tempo Bisa Kehilangan Pembaca Kalau Terus Sebar Fitnah

-Nasional-45 views

JAKARTA- Nasihat bijak keluar dari Guru Besar Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN) AM Hendropriyono yang terkena korban fitnah majalah Tempo. Justru Guru Besar Intelijen itu memberikan nasihat agar Tempo memberitakan dengan melakukan cover both side, dalam kebijakan pemberitaannya.

“Kalau tidak cover both side, Tempo bisa ditinggalkan pembacanya,” kata AM Hendropriyono di Jakarta, Rabu (16/6/2021).

Tempo edisi terbaru (14-20 Juni 221) menulis berita dengan judul mencolok di halaman 36, “Lobi Mertua Calon Panglima”. AM Hendropriyono diceritakan bersama istri  bertandang ke Istana Negara pada 7 Mei 2021 menemui Presiden Joko Widodo.

Setelah menyampaikan kondisi politik terbaru kepada Presidan Jokowi, dia diberitakan  mendorong Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal Andika Perkasa untuk ditunjuk menjadi Panglima TNI.

Tempo menyebut sumbernya dari tiga purnawirawan, tanpa menjelaskan identitas ketiganya.

Hendropriyono menganggap tulisan majalah Tempo itu tidak benar.

“Tiga orang purnawirawan yang tidak disebut namanya itu yang dijadikannya sumber berita, tidak berada bersama kami, yaitu saya, istri saya dan Pak Jokowi ketika kami bertemu. Jadi tidak relevan untuk dapat dijadikan sumber berita bagi suatu liputan pers yang profesional dan kredibel,” kata Hendropriyono.

Dalam beritanya di halaman 38 edisi itu Tempo menulis bahwa Tempo telah menelepon dan melayangkan pesan kepada Hendropriyono, tapi tidak direspon.

Purnawirawan Jenderal TNI itu menyebut usaha cover both side Tempo yang gagal menghubunginya itu bukan merupakan kegagalan dirinya.

“Justru itu adalah kegagalannya sendiri. Kegagalan Tempo untuk mendapatkan sumber berita, tidak bisa dijadikan dalih untuk mengarang cerita. Itu namanya fitnah,” lanjut Hendropriyono.

Hendropriyono mengingatkan bahwa menebar fitnah adalah tindak pidana terhadap hukum positif dan  masalah ini diatur dalam Undang-undang ITE.

“Namun yang paling berat adalah hukuman sosial. Masyarakat bisa memandang rendah dan tidak percaya kepada majalah Tempo,” lanjut Hendropriyono.

AM Hendropriyono menyelipkan pesan bijak kepada media Tempo.

“Saya sampaikan nasihat ini karena  rasa sayang saya kepada teman-teman junior, bahkan sahabat saya yang masih bekerja giat di Tempo. Jangan marah atas nasihat orang tua ini, karena landasan saya sama sekali bukan rasa benci. Anggaplah sebagai pelajaran untuk beretika bagi Tempo, yang barangkali juga bermanfaat bagi dunia pers kita dalam kebebasannya,” pungkas Hendropriyono. (niko/yus)