by

Media Massa adalah Bisnis Politik

-Headline-281 views

Di zaman serba digital seperti sekarang, bisnis media massa memang sedang digandrungi kalangan milenial. Tak heran jika banyak anak-anak muda berusia kepala dua sudah menjadi CEO atau founder label-label media digital kelas wahid. Silahkan disurvei, banyak media massa yang sahamnya sebagian besar dimiliki oleh generasi milenial berduit. Kalaupun keuangannya bengek di tengah jalan, pastilah anak-anak muda cerdas itu mencari suntikan pendanaan atau dalam istilah corporatenya namanya suntikan investasi tanpa akuisisi (menjual sepenuhnya saham). Konsep kolaborasi saham ini diterapkan banyak media massa.

Namun, yang harus dipelajari dalam mode investasi ini adalah kepentingan yang bermain. Tak sedikit bos-bos partai politik memainkan peran sebagai komisaris media massa karena menyuntik pendanaan dan menanam saham. Dari sini, kepentingan media massa mulai dimainkan sebagai partisan. Sah-sah saja mode begini dimainkan. Toh, hampir semua media massa di Indonesia memiliki gurat investasi dengan kepentingan politik. Tak usah disebut nama medianya. Media-media besar di Indonesia hampir sebagian besar sahamnya dimiliki oleh petinggi partai. Ini kenapa bisa disebut media massa adalah bisnis politik.

Hampir-hampir tak ada media yang bisa menunjukkan netralitas saham tanpa tokoh partai. Kalau pun ada, paling hanya satu atau dua media besar saja. Ada lagi yang membuat strategi bisnis edan, menggaji wartawan dengan kelas minimalis agar keuangan dan saham corporatenya stabil. Bebas hutang dan praktik gadai saham. Metodologi seperti ini tentu berdampak buruk bagi profesionalitas wartawannya. Melacurkan profesionalisme dan menerima sogokan dari tulisan, karena gaji mereka tak menutup kebutuhan.

Lalu, apakah media harus jadi partisan? Digma media harus partisan bisa saja dibenarkan, bisa juga tidak. Bisnis media bisa dikatakan untung dan bonafit jika suntikan modal disesuaikan dengan kebutuhan divisi per divisi bisnis yang bergerak di dalam corporate. Sehingga target masing-masing divisi itu tercapai seiring dengan kesiapan infrastruktur pendukung. Tentu, ini modalnya tak sedikit. Banyak kalangan pengusaha media yang pada akhirnya berkelakar, bisnis media adalah bisnis bakar duit. Bisa juga dikatakan demikian karena hanya orang-orang gila dan mempekerjakan orang-orang gila yang membuka media untuk mencari keuntungan.

Untuk media yang menjalankan bisnis tanpa kepentingan partisan, bisa melihat Kompas Grup. Ketika keuangan percetakan koran ambyar, mereka disuntik pendanaan subsidi dari bisnis hotel dan toko buku Gramedia. Tanpa melibatkan suntikan saham dari bos partai. Sehingga, profesionalisme kerja medianya tetap terjaga dan sehat dari kepentingan partai.

Banyak kalangan bertanya apa kepentingan yang diusung dengan pendirian Banten Today ini? Kami hadir sebagai mitra kampus. Mitra pendidik kewarasan berpikir anak-anak kampus di Banten. Semangat para pendiri media ini adalah semangat akademisi, semangat didaktika. Bukan semangat partisan atau semangat dagang.

Keterpurukan lantaran pandemi dan keterbatasan modal memang acap menjadi kendala perjalanan menuju semangat pencerah. Sebenarnya, jika diobral, banyak sekali bos-bos partai yang sudah dan ingin memborong saham dan mengakuisisi saham Banten Today. Namun, semangat, visi dan misinya tentu akan berubah. Kami sangat mengapresiasi itu semua. Entah, kami akan bertahan sebagai wadah pencerah dan pendidik, atau termakan arus partisan karena faktor keadaan. Sampai tiba hari. (*)

Tim Editorial,