by

Menggoyang Erick dengan Narasi Hitam

Kehadiran Erick Thohir di peta politik Indonesia memang cukup mengejutkan. Erick ini memiliki manuver politik yang cukup berani. Banyak politisi yang dicetak untuk menjadi politisi, namun mereka tidak cakap. AHY misalnya.

Sedangkan Erick ini sebenarnya lahir dari dunia berbeda. Sebagaimana Jokowi, sebelumnya dia adalah pengusaha. Sewaktu awal menjabat, ada oknum partai besar yang terus memberikan serangan kepadanya. Namun hubungan Erick dengan elit partai itu baik-baik saja. Sebesar apapun serangan oknum tadi, posisi Erick aman-aman saja.

Ini yang saya maksud cakap. Ia pandai menunggangi gelombang. Tidak melawan arus, tapi berselancar di atasnya.

Fakta lain yang juga menarik adalah mengenai serangan balik yang dilakukan oleh aktor yang kenyamanannya telah diusik Erick. Jejak digital operasi untuk menyerang Erick sudah bisa terbaca jelas sejak diungkapnya kasus Garuda, Jiwasraya, dan Asabri di hadapan publik.

Erick memang terlalu berani melakukan pembersihan. Sebagaimana kita tahu, perusahaan negara itu sering dijadikan sapi perah. Menjadi tempat titipan orang partai dan para penguasa. Jaringan mereka ini sudah sangat rapi dan kuat. Mengusik mereka sama saja mengganggu sarang tawon.

Akibatnya orang-orang ini melakukan serangan balik. Berbagai cara mereka lakukan. Termasuk menyeret perusahaan Erick, Mahaka dan kakak Erick, Boy Thohir ke dalam pusaran fitnah.

Misalnya soal langkah Erick yang ingin membongkar permainan dalam dana pensiun Pertamina. Hal itu direspons dengan operasi media sosial yang digerakkan oleh aktor utama kasus besar tersebut. Jumlah dana yang digelapkan mencapai ratusan miliar rupiah. Wajar kalau mereka marah.

Begitu juga dengan upaya bersih-bersih di Garuda Indonesia. Langkah awal adalah dengan membongkar praktik make up laporan keuangan Garuda yang dipoles agar terlihat cantik. Istilahnya window dressing. Laporannya dibuat indah dan menyenangkan. Padahal aslinya penuh borok.

Pembenahan menyasar pada sejumlah petinggi Garuda. Puncaknya adalah pemecatan pada sejumlah direksi akibat kasus Harley Gate pada November 2019. Kasus yang sempat heboh dan membuat publik geleng-geleng kepala.

Beberapa hari setelah sejumlah direksi itu dipecat, serangan fitnah langsung mengarah pada Erick. Mahaka Media pernah menjadi vendor dalam peluncuran pesawat Airbus Garuda. Memang ada kontrak senilai Rp300 juta. Namun itu memang murni bisnis dan itu terkait pengadaan artis waktu itu.

Artinya, kontrak itu tidak ada kaitannya dengan Erick. Dan jumlahnya juga kecil sekali. Receh bagi seorang Erick. Tapi soal nominal receh itu tidak penting. Tujuan mereka, serangan balik dilakukan sebisa mungkin pada Erick. Logis atau tidak, besar atau tidak, bukan masalah. Serang dulu, mikir belakangan.

Serangan fitnah terkait Garuda ini pertama kali dilesatkan di Twitter melalui akun-akun bodong. Kelemahan Twitter itu salah satunya adalah banyak sekali akun bodong yang bisa dengan bebas melakukan fitnah. Anehnya, sudah tahu itu akun bodong, tapi para pengamat ikut sibuk membahasnya. Kemudian hal itu dijadikan konsumsi media.

Pola serangan seperti ini memang sering terjadi. Awalnya dimulai oleh akun bodong, kemudian dilanjutkan oleh para pengamat dan media. Seolah-olah kasus itu ada, padahal sudah jelas akun bodong yang pertama kali melesatkannya.

Serangan selanjutnya datang dari mafia BUMN lainnya. Saat Erick membongkar mega korupsi Jiwasraya, kembali terjadi serangan kepadanya. Operasi serangan dilakukan di media sosial oleh pihak-pihak yang terancam akibat kasus Jiwasraya.

Pola serangan fitnah pada Erick usai membongkar Jiwasraya pun mirip dengan Garuda. Lagi-lagi dikaitkan dengan Mahaka. Apapun kasusnya, Mahaka kambing hitamnya.

Narasi fitnah dilontarkan dengan mengaitkan adanya investasi yang dilakukan Jiwasraya pada saham Mahaka. Padahal investasi itu dilakukan pada 2014, jauh sebelum Erick menjabat sebagai menteri. Dan investasi itu tidak rugi, melainkan mencatat keuntungan Rp2.8 miliar.

Fitnah pada Erick soal Jiwasraya bertujuan untuk mengaburkan kasus tersebut. Soalnya ini kasus jumbo, tidak main-main kerugian negara di sana. Narasi fitnah itu memiliki tujuan untuk membunuh karakter sang menteri. Meskipun memang tidak logis. Tapi cukup untuk membikin gaduh. Targetnya itu.

Kasus yang lebih gawat lagi adalah soal Asabri. Ini kasus bahaya karena menyeret sejumlah eks pejabat militer. Urusan sama seragam loreng acapkali memunculkan tragedi berdarah. Tapi Erick bernyali juga, kasus itu tetap disikatnya.

Akibatnya, hanya sehari setelah Erick membawa kasus Asabri ke Kejaksaan, dimainkan narasi tentang rencana akuisisi saham Gojek oleh Telkomsel. Kali ini yang diseret adalah kakak Erick, yakni Boy Thohir yang kebetulan adalah komisaris Gojek.

Padahal faktanya, itu adalah akuisisi pada perusahaan digital karya anak bangsa. Dengan kinerja keuangan terbaik di Indonesia, bahkan Asia Tenggara. Murni dilakukan dalam rangka kepentingan bisnis.

Masalah lain yang dikait-kaitkan dengan kakak Erick adalah mengenai persoalan anak usaha pupuk Indonesia, Rekind. Perusahaan ini sempat memiliki masalah dengan PT PAU yang kebetulan komisarisnya Boy Thohir. Padahal masalah ini sudah berlangsung lama, jauh sebelum Erick menjadi menteri dan telah ditangani oleh aparat berwenang. Bahkan kasus ini sudah dibawa ke arbitrase internasional.

Tapi demi memuluskan fitnah, narasi cocokologi pun dimainkan. Tujuan narasi ini lagi-lagi untuk membelokkan isu, sekaligus untuk membunuh karakter sang menteri. Semua itu dilakukan, agar oknum yang bermain selamat dari jeratan kasus Asabri.

Gebrakan Erick yang lain adalah dengan membongkar kasus Kimia Farma Diagnostik di Kualanamu, Sumut. Erick memecat seluruh direksi tanpa terkecuali. Buntut dari langkah tegas itu adalah serangan fitnah yang kembali diproduksi di medsos.

Serangan itu muncul kurang dari sepekan setelah Erick membenahi Kimia Farma Diagnostik. Ada gelontoran dana besar yang digunakan untuk operasi media. Kali ini isunya tentang pencapresan 2024. Pusing kan? Memang gak ada hubungannya.

Erick Thohir adalah ancaman besar bagi para mafia yang selama ini menggerogoti BUMN. Mereka berambisi, bagaimanapun caranya, Erick harus ditumbangkan. Oleh sebab itu narasi hitam terus dibangun. Mereka tidak peduli jika narasi itu tidak logis dan tidak ada kaitannya dengan jabatan Erick sebagai Menteri. Yang penting hajar terus, buramkan namanya.

Sebab selama Erick ada di posisinya, zona nyaman mereka terganggu. Aksi pesta menggerogoti uang negara jadi sirna. Maka dalam target serangan mereka: Erick harus dilenyapkan. Bagaimanapun caranya. Berapapun ongkosnya.

 

Penulis: 
Kajitow Elkayeni