by

Mengheningkan Cipta, Mulai…

-Opini-69 views

Sudah hampir genap 17 bulan kita hidup di tengah pandemi virus Covid-19, tepatnya sejak medio Februari 2020 lalu. Terhitung, berdasarkan data Kemenkes RI, sudah 1.901.490 juta jiwa warga Indonesia terpapar virus hingga hari ini. Sulit rasanya untuk kita bicara bahwa kondisi negara sedang baik-baik saja. Prihatin. Sedih. Takut. Kecewa. Marah. Kesal. Semua campur aduk menjadi satu.

Prihatin, karena banyak saudara dan teman yang dipanggil ke Haribaan Ilahi karena terpapar virus ini. Belum juga lama bertemu, banyak kolega dan sahabat yang akhirnya berpulang. Kita tak bisa melayat mengantar kepulangannya. Sungguh ini bukan hal yang enak dan mengesankan untuk dijadikan ceritera kenangan.

Sedih, karena banyak saudara dan teman yang mengalami Putus Hubungan Kerja (PHK). Lihat saja, angka pengangguran kita dua tahun belakangan. Terus saja naik. Tak tahu lagi angkanya bertambah berapa hari ini, yang jelas banyak sekali perusahaan yang kolaps dan gulung tikar gara-gara tergilas pandemi. Terbaru adalah Giant. Hampir semua sektor mungkin mengalami efek pandemi ini. Paceklik. Di saat-saat inilah, tawaran pinjaman online (pinjol) merajalela. Bantuan dari pemerintah yang sifatnya triwulan pun, saya pikir tak akan menutup kebutuhan saudara-saudara kita yang kadung memiliki banyak tanggungan. Tanggungan cicilan, kebutuhan dapur, biaya anak dan hal-hal lain seperti mencukupi kebutuhan bulanan. Sekali lagi, kita tidak sedang baik-baik saja.

Takut, karena tak sedikit dari kita yang akhirnya putus asa menghadapi ini semua. Takut akan hidup yang semakin hari semakin menderita karena krisis pekerjaan, mahalnya uang dan sulitnya mengusir kebosanan. Dan, ketakutan yang saya sendiri rasakan sebagai pegawai yang sehari-hari bekantor adalah takut tertular. Memang, hidup dan mati adalah sudah digaris dan menjadi kehendak Tuhan. Tapi, bersikap konyol dengan mengabaikan adalah tindakan impulsif yang akan merugikan.

Kecewa, kenapa otoritas negara kita, khususnya pejabat tinggi kementerian, menganggap virus ini biasa-biasa saja di awal 2020 lalu. Kenapa tak mengambil langkah tegas dan keras di awal kemunculan virus ini? Apakah intelijen kita lemah? Apakah intelijen kita kebobolan? Semua menjadi tanda tanya ketika Menteri Kesehatan RI waktu itu berujar “Masker hanya untuk yang sakit saja,”. Jelas ini celotehan yang tak akademis dan jauh dari kata “Riset dan Intelijen”.

Marah, kenapa banyak kebijakan yang tak keluar dengan kekompakan dan ketegasan? Bahkan, banyak policy yang terkesan tanpa harmonisasi dan sinkronisasi? Misalnya, kenapa mudik dilarang tapi wisata diperbolehkan? Kenapa sekolah dilarang, tapi wisata dibolehkan? Di hari-hari yang penuh dengan kekalutan seperti sekarang ini, memang tak semua harus dinalar dengan logika. Memang begini adanya. Dan akhirnya semua berucap, “Mau gimana lagi?”,”Ya, kalau nggak gini nggak jalan,”,”Yo wes, sing penting mlaku,”. Kita seharusnya bisa bersatu, saling bantu, saling peduli, saling mendukung. Bersatu, bukan sekedar slogan banner. Saling bantu, bukan sekedar status di sosmed. Saling peduli, bukan sekedar status Whatsapp. Saling mendukung, bukan sekedar ucapan basa-basi.

Kesal, kenapa banyak sekali saudara-saudara kita yang masih saja acuh terhadap virus ini. Kenapa belum juga sadar bahwa virus ini ada, nyata dan membunuh. Kenapa malah asik menikmati euforia konflik Palestina dengan Israel. Ikut-ikutan berdemo turun ke jalan, berkerumun, seperti menganggap kita sedang baik-baik saja. Lihatlah, bilik-bilik isolasi di Wisma Atlet, semakin hari semakin banyak manusia-manusia yang masuk ke situ. Lihatlah juga berapa hektar lahan yang sudah terisi dengan jasad-jasad yang terpapar virus ini. Kita seharusnya menyadari, kita tidak sedang baik-baik saja.

Lalu kalau sudah begini, kita harus apa? Kita harus bagaimana? Harus di rumah saja? Mau makan apa?

Jawabannya ya, kita tak harus apa-apa. Tak harus bagaimana-bagaimana juga. Di rumah saja atau tidak di rumah saja kan pilihan. Jika ada yang masih diwajibkan bekerja di rumah, ya setidaknya tak perlu keluar-keluar rumah tanpa urusan yang jelas. Jika diwajibkan berkantor ya pastinya harus ngantor. Bekerja kan keharusan. Negara kita kan tak se-ekstrem Korea Utara dan Brunei Darussalam yang bisa menghidupi rakyatnya tanpa harus bekerja. Pada akhirnya juga saya membenarkan ucapan sejumlah pejabat, “Kita harus hidup bersama corona. Dengan tidak mengabaikan protokol kesehatan,”.

Dan yang pada akhirnya mesti dipikirkan negara dan perangkatnya adalah mereka-mereka yang masih hidup dan terdampak dari situasi ini, yakni:

1. Pengangguran yang ingin sekali bekerja untuk menghidupi diri dan keluarganya

2. Lulusan-lulusan baru dari sekolah kejuruan dan kampus yang ingin sekali membahagiakan orang tuanya dengan nafkah dan gaji pertamanya (jika memang dapat pekerjaan).

3. Anak-anak sekolah dan mahasiswa yang ingin sekali duduk di bangku kelas. Bersapa dengan teman-temannya dan mendengarkan pelajaran dari guru dan dosennya.

4. Korban PHK yang ingin sekali bekerja lagi untuk menutup kebutuhan dan hutang-hutang yang belum lunas terbayar.

5. Pengusaha-pengusaha kecil dan menengah yang menutup usaha mereka karena kehabisan modal lantaran barang dagangannya tak laku tergerus pagebluk pandemi.

6. Pengusaha-pengusaha kelas kakap yang mengurangi karyawannya karena mengalami kerugian dan modal yang terus menipis untuk menggaji.

Enam poin ini setidaknya menjadi pekerjaan berat yang harus dipikul perangkat negara saat ini. Tak usah muluk-muluk bicara ekonomi membaik atau meroket. Tak usah juga bicara ngalor-ngidul soal perang melawan Asing. Tak perlu juga ribut soal Palestina-Israel yang memang konfliknya bertahun-tahun sudah terjadi di sana. Sudah saatnya kita memikirkan enam poin itu untuk keberlangsungan negara kita sendiri, Indonesia. Jangan sampai mental dan semangat hidup warga dan generasi-generasi penerus kian melemah dan menjurus pada kanibalisme sosial. (*)

 

Author,

Yuska Apitya Aji, S.Sos, M.H