by

Pancasila: Adab Jajan dan Belajar Maklum

Dua hari kemarin menghabiskan waktu liburan ke Yogyakarta. Kedatangan saya ke ‘Bumi Kesultanan’ ini tadinya bukan untuk ngecek harga pecel lele di Malioboro yang diviralkan oleh oknum pengunjung. Tradisi mampir ke Yogyakarta untuk sowan dan nyekar ke sejumlah makam dan candi bersejarah memang sudah saya jadikan rutinitas selepas lebaran. Setidaknya, saya lakukan itu sejak menyukai buku-buku sejarah kerajaan. Selepas nyekar dan sowan ke makam almarhum bapak dan eyang buyut, saya menyempatkan nyekar ke makam-makam raja Jawa, baik dari Trah Majapahit-an atau Mataram-an. Agar saya tak lupa diri dari mana saya berasal.

Menginap semalam di Hotel Prime Plaza Yogyakarta, saya serasa menjadi tetamu istimewa di Kota Pelajar ini. Hotelnya bagus, khas keraton Yogyakarta. Di bagian belakang ada kolam renang yang lumayan luas. Di bagian depan, bangunan dibuat seperti khas bangunan lama Jawa. Liburan kali ini memang sedikit berbeda. Biasanya saya menyempatkan mampir ke Borobudur kemudian Prambanan dan beberapa tempat rekreasi budaya di Jawa. Tapi tahun ini, saya hanya menyempatkan singgah dan berlama-lama di Malioboro untuk melepas kangen suasana Yogya. Maklum, rombongan mertua saya kepengen ikut. Suntuk, sudah setahun tak bisa jalan-jalan karena dirundung ketakutan pandemi Covid-19.

Hampir seharian saya mengitari jalan seputaran Malioboro. Denyut ekonomi benar-benar sudah mulai berjalan normal. Meskipun, ada satu dua pengunjung yang tak pakai masker. Tapi, disiplin protokol kesehatan (prokes) secara garis besar sudah berjalan baik. Beberapa titik pertokoan juga menyediakan tempat cuci tangan dan sabun. Artinya, kesadaran pedagang di Malioboro untuk membantu Kanjeng Sultan menekan laju penyebaran corona sudah dijalankan dengan baik.

Di sepanjang Jalan Malioboro kemarin, saya memikirkan bagaimana nasib para pedagang-pedagang baju dan oleh-oleh ini setahun kemarin. Di saat prokes dijalankan ketat, semua bandara dan stasiun serta terminal tak melayani orang piknik. Tentu, pandemi di awal tahun lalu menjadi pukulan berat bagi para pedagang kecil yang sebagian besar menggantungkan kebutuhan hidup dari barang jualan.

Sepanjang singgah di lapak-lapak baju dan oleh-oleh, saya selalu sempatkan untuk berbincang. Menanyakan ke mereka, bagaimana kondisi mereka, apakah jualannya sudah lancar? Apakah pengunjung sudah mulai ramai? Atau masih sepi karena banyak warga masih takut untuk piknik di masa pandemi. Sebagian besar dari mereka mengaku sedih dan terpukul setahun belakangan. Beberapa pedagang baju bahkan nyaris frustasi dan ingin mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena semua jalan dianggap buntu. Tanah sawah tak punya. Denyut ekonomi pasar tradisional juga nyaris lumpuh. Syukurlah, hidup dan rejeki itu memang penuh rahasia. Ada-ada saja manusia baik di bumi ini yang rela membagikan makanan dan bantuan sembako kepada mereka selama ekonomi mampet setahun belakangan. Meski, itupun saya rasa masih jauh dari kata cukup. Tapi inilah hidup, waktu terus berjalan dan tetap harus dijalani bukan?

Angin segar untuk pedagang-pedagang di Malioboro ini baru berhembus seiring Presiden Jokowi dan satgas pandemi habis-habisan mengkampanyekan vaksinasi. Setelah pemerintah menggeber vaksinasi ini, optimisme pedagang ini perlahan mulai membuncah dan satu-persatu kembali menggelar lapak dagangan. Tetamu wisatawan juga mulai berdatangan. Semangat para penjual jasa bentor (becak montor) dan tukang becak di Malioboro juga sudah terlihat. Ini menandakan kondisi new normal yang sesungguhnya telah mulai dijalankan di Malioboro.

Namun, ada-ada saja pengunjung yang usil, krisis rasa, lebih tepatnya mati rasa. Beberapa hari belakangan, muncul rengekan dan celotehan pengunjung soal harga nasi pecel di Malioboro yang dianggap ketinggian. Bayangkan, mereka sudah hampir setahun setengah hidup menderita tak berdagang. Kalaupun memaksakan membuka lapak jajanan, pasti tak ada pembeli karena tak ada wisatawan masuk ke Yogyakarta. Lalu, apakah juga kita berpikir, siapa yang memberi makan mereka ketika dagangan tutup atau tak laku?

Di kondisi sekaranglah, rasa Ke-Pancasilaan kita diukur. Jangan juga terlalu berlebihan memasang banner atau editan foto lalu dipoles dengan ucapan Selamat Hari Lahir Pancasila, tapi tak tahu apa makna dan amalan nilai-nilai di dalamnya. Hidup di Indonesia harus bersikap memaklumi. Dari rasa maklum itulah muncul taklimat “Adab dan Toleran” di dalam Pancasila, termasuk di dalamnya ada amalan adab dalam membeli, juga adab dalam berkunjung ke wilayah orang lain.

Jikapun ingin jajan, pembeli yang bijak dan cerdas pastilah akan menanyakan berapa harga satu porsi makan disini? Berapa jika tambah es teh manis? Jadi, ada kesepahaman sebelum dan sesudah makan berlangsung. Sukur-sukur malah memberi kelebihan dari harga yang ditentukan pedagang. Saran saya, bawalah uang banyak saat liburan. Jangan seperti gelandangan atau orang susah saat jadi wisatawan. Jadilah wisatawan yang mampu menjaga marwah dan martabat. Atau, jika memang Anda hobi sebagai penawar kejam nan bengis dalam membeli barang, janganlah piknik dulu. Tapi, setahu saya, namanya hobi, berapapun diladenin. Kasihan pedagang-pedagang kecil itu. Nasib mereka tak menentu di tengah kondisi pandemi seperti sekarang. Ketiban Anda yang protes harga karena masuk Yogya. Mungkin, bagi mereka, saat musim liburan bisa saja sumringah karena dagangan laris manis. Tapi saat hari-hari biasa? Jangan ditanya. Pilu-sepilu menunggu panggilan interview lamaran kerja.

Woro-woro keberatan harga setelah makan atas dasar kecewa karena kaget harga, tentu bukanlah tindakan bijak dan beradab. Jauh dari rasa Pancasila. Jauh dari kata Indonesia. Bukankah sudah menjadi hukum alam, jika ingin piknik harus sedia uang cukup. Sekali lagi, kita harus belajar untuk memiliki rasa maklum. Memaklumi, jika saudara-saudara kita yang berdagang di Malioboro kemarin sepi penghasilan, memaklumi mereka mereka butuh bantuan, memaklumi mereka tak seberuntung kita yang mungkin digaji setiap bulan. Rasa maklum inilah yang membedakan Indonesia dengan negara-negara lain di Dunia. So, siapkah ber-Indonesia? Siapkah ber-Pancasila?

 

Penulis:

Yuska Apitya Aji,

Penikmat Mudik.**)