by

Pergantian Panglima TNI, Jokowi Buang Tradisi Warisan Lucu SBY!

-Headline-126 views

Publik menunggu dengan berdebar. Soal pergantian Panglima TNI, Jenderal Hadi Tjanjanto yang pensiun akhir tahun. Publik hanya memahami kulitnya. Internal Jokowi dan keluarganya, ring-1 Istana, serta kedekatan Jokowi dengan Jenderal Hadi tak diketahui publik.

Publik cuma memahami tiga skenario. Pertama, jabatan Panglima TNI Hadi Tjahjanto diperpanjang. Konsekuensi logisnya KASAD Jenderal Andika Perkasa tersingkir. Karena Andika pensiun tahun 2022.

Skenario pertama ini akan jadi preseden buruk bagi regenerasi di tubuh TNI. Bahkan skenario ini juga menghilangkan peluang KASAU Marsekal Fadjar Prasetyo, yang sebenarnya warisan pikiran zero enemy SBY. Karena Hadi dari Angkatan Udara.

Skenario kedua, Andika Perkasa menjadi Panglima TNI. Ini menjadi santapan dukungan kuat dari berbagai pihak. DPR. Akademisi. Pengamat. TNI AD. AU. AL. Mereka semua mendorong agar Jokowi menunjuk Andika.

Namun, sekali lagi, naiknya Andika menjadi bahan irian sebagian pihak. Karena naiknya Andika dihubungkan dengan peluang Andika menjadi capres atau cawapres di 2024. Hal yang jauh dan mengada-ada.

Tak ada terbersit di pikiran Andika sedikit pun. Andika hanya berpikir untuk bekerja keras mendukug Jokowi menangani Covid-19 di bawah kewenangannya sebagai KASAD.

Framing ketakutan Andika jadi capres dan cawapres membimbangkan Jokowi; yang dikelilingi oleh Ring-1, keluarga, dan kedekatan dengan kepentingan suksesi multi jabatan. Ada upaya zig-zag mencarikan posisi menteri setelah pensiun, upaya menggeser Moeldoko, upaya mendutabesarkan orang pensiun.

Padahal publik paham, Jokowi tinggal geser Muhammad Lutfi beres, untuk mengakomodasi kepentingan. Lewat reshuffle kabinet terbatas. Dan, itu wewenang Panglima Tertinggi TNI dan Presiden RI. Tak sulit.

Skenario ketiga adalah hal yang sama sekali tak penting warisan SBY. Panglima TNI urut kacang. Giliran dari tiga matra. Ini cara SBY yang aman tidak memikirkan prioritas untuk NKRI. SBY yang penakut membikin urut kacang agar aman. Kalau Jokowi menuruti warisan rezim penakut SBY: KASAU Laksamana Yudo Margono naik.

Nah, jebakan regenerasi ala SBY jika diikuti oleh Jokowi, dengan tidak mempertimbangkan Fadjar Prasetyo, dan Andika Perkasa, dengan otomatis memilih Yudo Margono, maka keputusan Jokowi mengikuti rasa SBY. Dan, ini klok dengan scenario pertama.

Padahal, publik mengharapkan Jokowi mengambil sikap sesuai pemahaman untuk kepentingan TNI, NKRI. Dia harus memilih Panglima TNI yang tepat.

Jebakan batman ala SBY yang menganut asas urut kacang, menghilangkan kompetisi. SBY membuat tradisi yang di luar undang-undang. Tidak ada urutan kacang matra. Maka setiap akan ada pergantian Panglima TNI, sejak 2010 selalau menimbulkan polemik. Warisan lucu yang tak bermutu!

Pada akhirnya, Jokowi akan melakukan politik zig-zag. Keputusan Jokowi akan menentukan pergesaran upaya mengakomodasi orang pensiunan yang ingin tetap di dalam lingkaran Istana.

Apakah Jokowi pusing? Tidak. Kita tonton maneuver Jokowi yang cespleng, atau blunder: yang berakibat pada nasib Jokowi pasca 2024. Dan, relawan pun tidak bisa berperan karena pasca Jokowi, bukan Jokowi yang berkuasa. (*)

Penulis:

Ninoy Karundeng