by

Selamatkan Banten dengan Budaya Bersepeda

Hari Lingkungan Hidup sedunia diperingati setiap tanggal 5 Juni. Hari ini diperingati untuk mengingatkan manusia tentang pentingnya alam dan lingkungan hidup. World Environment Day dirayakan seluruh dunia untuk memberi tahu orang-orang bahwa alam tidak boleh dianggap remeh dan harus dijaga.

Badan Pusat Statistik pernah mengeluarkan Indeks Perilaku Ketidakpedulian Lingkungan Hidup (IPKLH). Tingkat perilaku ketidakpedulian lingkungan hidup ini terbatas pada perilaku rumah tangga secara aggregat berdasarkan Provinsi di Indonesia mengenai pengelolaan air dan udara, penggunaan energi (transportasi pribadi), dan pengelolaan sampah terkait perilaku peduli lingkungan tersebut. Angka indeks in berada berkisar pada angka 0 hingga 1. Jika nilai indeksnya mendekati angka 1 maka semakin tinggi ketidakpedulian masyarakat terhadap lingkungan hidup.

Nilai IPKLH Provinsi Banten tahun 2017 sebesar 0,53, diatas rata-rata nasional (0,51), artinya tingkat ketidakpedulian masyarakat Banten terhadap lingkungan masih sangat rendah, atau tingkat kepedulian terhadap lingkungan masih dibawah kepedulian penduduk Indonesia secara umum.

Kualitas lingkungan hidup yang sehat merupakan bagian yang penting dalam kehidupan. Salah satu komponen lingkungan hidup tersebut adalah udara. Kualitas udara berhubungan erat dengan tingkat kesehatan masyarakat dan kegiatan pembangunan. Oleh karena itu udara perlu ditingkatkan kualitasnya sehingga dapat memberikan dukungan bagi makhluk hidup untuk hidup secara optimal.

Kualitas Udara di Banten

Siapapun tahu bahwa Provinsi Banten merupakan salah satu daerah yang terkenal akan industrinya. Berbagai macam jenis industri ada di sini, mulai dari industri hulu hingga hilir, dari industri padat karya sampai industri padat modal, dan dari industri yang ramah lingkungan sampai industri dengan tingkat polusi tinggi. Industri menjadi salah satu sumber pencemaran udara di Provinsi Banten.

Penyebab pencemaran udara lainnya adalah penggunaan kendaraan motor. Berdasarkan catatan Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Banten, pada tahun 2020 terdapat 5 juta lebih kendaraan bermotor yang terdaftar di Banten dan 81 persennya adalah sepeda motor. Rasio antara sepeda motor dan penduduk adalah 1 berbanding 3, artinya diantara 3 orang penduduk terdapat 1 sepeda motor. Banyaknya kendaraan bermotor tidak diimbangi dengan panjang dan lebar jalan, kendaraan menumpuk di beberapa titik sehingga terjadi kemacetan dan polusi udara tentu saja.

BPS Provinsi Banten menemukan bahwa dari seluruh pekerja 52,6 persennya menggunakan kendaran pribadi, baik mobil, motor atau sepeda. Mereka inilah yang turut memacetkan sebagian besar jalan di Provinsi Banten. Tidak hanya memacetkan tapi juga turut mencemarkan udara. Kenyamanan hidup di kota nyaris menghilang akibat kemacetan dan polusi udara serta polusi suara yang terjadi tiap hari. Ketergantungan kita terhadap penggunaan kendaraan bermotor yang tak terkendali menyebabkan kemacetan dan polusi udara luar biasa

BACA JUGA:  Ekonomi Indonesia saat Covid 19

Salah satu indikator untuk mengukur kualitas udara di suatu wilayah adalah Indeks Kualitas Udara (IKU). Indeks Kualitas Udara (IKU) adalah alat ukur sederhana berupa angka untuk menginformasikan kualitas udara ambien suatu daerah. Indeks kualitas udara diperoleh dari pengolahan data hasil pemantauan kualitas udara tahunan. Semakin mendekati angka 100 maka kualitas udara di suatu wilayah semakin baik. Indeks Kualitas Udara (IKU) Banten tahun 2019 sebesar 74,98. Angka ini merupakan angka terkecil kedua setelah DKI Jakarta. Artinya kualitas udara di Banten cukup rendah dan sudah banyak tercemar polutan atau zat-zat pencemar udara seperti sulfur dioksida (SO2) dan nitrogen dioksida (NO2).

Berdasarkan Pendataan Potensi Desa yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik, terdapat 21 persen desa/kelurahan di Provinsi Banten yang mengalami pencemaran udara. Dari seluruh desa/kelurahan yang mengalami pencemaran udara 64,7 persennya dikarenakan keberadaan pabrik dan 32,8 persennya karena penyebab lainnya termasuk polusi udara karena kendaraan bermotor.

Bekerja dengan bersepeda

Salah satu solusi dalam mengatasi kepadatan kendaraan bermotor dan polusi udara di jalan raya adalah dengan memaksimalkan penggunaan sepeda untuk bekerja. Kebijakan ini sudah dilakukan oleh beberapa pemerintah daerah di Indonesia dan yang terdekat dengan Banten adalah DKI Jakarta. Beberapa tahun terkahir Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggiatkan penggunaan sepeda bagi pekerja yang bekerja di DKI Jakarta. Salah satu usaha yang dilakukan adalah membuat jalur khusus sepeda.

Berkaitan dengan penggunaan sepeda untuk bekerja, tema yang diusung pada Hari Sepeda Sedunia tanggal 3 Juni 2021 adalah “Keunikan, keserbagunaan, dan umur panjang sepeda sebagai moda transportasi yang sederhana, berkelanjutan, ekonomis, dan andal.” Di tengah pandemi COVID-19 penting untuk disebutkan bahwa bersepeda adalah moda transportasi yang lebih baik, yaitu terjangkau, ramah lingkungan, dan sehat.

Bersepeda bisa menimimalisir kemacetan, tidak mengeluarkan polusi dan tentu saja bermanfaat bagi kesehatan. Dengan bersepeda kita bisa melakukan hal positif lainnya terhadap lingkungan seperti menanam pohon, membawa tumbler, tidak membuang sampah sembarangan dan sebagainya.

BACA JUGA:  Keren Pak Polisi! Dua Moge Berharga Ratusan Juta Kena Tilang di Tangsel

Bersepeda sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Manfaat bersepeda bagi jantung adalah dapat merangsang dan memperbaiki jantung, paru-paru, sirkulasi darah, dan meminimalisir risiko penyakit kardiovaskular. Olahraga ini juga dapat menurunkan kadar lemak dalam darah dan memperkuat otot jantung. Selain itu, pesepeda yang rutin akan mengurangi resiko diabetes dan mampu meningkatkan kesehatan mental.

Kementerian Perhubungan saat ini sedang menyiapkan aturan bagi pengguna sepeda. Aturan tersebut membahas tentang perlindungan keselamatan bagi pengguna sepeda. Ada tiga bab besar yang menjadi sorotan, yakni persyaratan teknis sepeda, tata cara bersepeda, dan fasilitas pendukung sepeda.

Menurut Djoko Setijowarno, Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan MTI Pusat, setidaknya ada enam kebijakan yang bisa diambil Pemerintah untuk mendukung kegiatan bersepeda. Pertama penambahan pendanaan untuk infrastruktur sepeda seiring dengan pesepeda yang bertumbuh. Kedua membuat program baru untuk mengembangkan infrastruktur sepeda yang terhubung di seluruh kota/daerah untuk mengurangi penggunaan kendaraan bermotor. Ketiga, investasi jalur sepeda sebagai jalur rekreasi. Keempat, memberikan insentif komuter sepeda. Kelima skema kebijakan pemberian diskon bagi karyawan yang membeli sepeda untuk bekerja. Terakhir, mendorong pemerintah daerah untuk membuat perubahan signifikan pada tata ruang jalan untuk memberikan lebih banyak ruang bagi pengendara sepeda dan pejalan kaki.

Pemerintah Provinsi Banten dan pemerintah kabupaten/kota di Provinsi Banten sepertinya belum tergerak untuk turut memasyarakatkan kegiatan bersepeda terutama untuk bekerja. Padahal beberapa daerah di Provinsi Banten sudah tergolong padat dan kendaraan bermotor pekerja selalu terhalang kemacetan baik pada pagi hari maupun sore hari. Lihat saja beberapa ruas jalan di Tangerang Raya, Kota dan Kabupaten Serang, apalagi yang berdekatan dengan pusat-pusat industri, perkantoran, perdagangan dan jasa selalu terlihat kemacetan di kedua ruas jalan. Laju Pertambahan kendaraan bermotor yang cukup tinggi tidak diimbangi dengan bertambah lebarnya ruas jalan atau bertambahnya jalur alternatif.

Pemerintah Tangerang Selatan pernah menyatakan bahwa mereka belum siap membuat jalur khusus untuk sepeda karena perlu kordinasi dengan banyak pihak terutama para pengembang. Beberapa jalur khusus memang telah ada namun masih terbatas di kawasan pengembang saja seperti kawasan BSD, Alam Sutera dan Kawasan Bintaro. Sementara itu, Pemerintah Kota Serang telah berniat membuat jalur khusus sepeda pada tahun 2021 ini, namun sampai sekarang belum terlihat realisasinya. Pembuatan jalur khusus sepeda ini akan bekerja sama dengan pemerintah provinsi karena sebagian jalan di Kota Serang merupakan kewenangan provinsi.

BACA JUGA:  Fakta Mengejutkan dari Aliran Suap Jaksa Pinangki, Ternyata Ditransfer ke...

Masyarakat peduli sepeda di Banten telah lama memulai penggunaan sepeda untuk kegiatan olahraga dan rekreasi. Beberapa group bersepeda berdiri di beberapa kabupaten/kota. Mereka secara rutin bersepeda bersama-sama pada hari-hari libur. Aktivitas bersepeda semakin intens dan banyak dilakukan oleh masyarakat sejak Pandemi Covid-19 melanda Indonesia Beberapa pedagang sepeda turut berdampak terhadap penjualan sepeda terutama sepeda gunung dan sepeda lipat. Bahkan beberapa penjual mengaku omsetnya naik hingga 70 persen.

Momentum Hari Sepeda dan hari Lingkungan Hidup Sedunia seharusnya digunakan oleh pemerintah daerah untuk semakin memasyarakatkan penggunaan sepeda untuk bekerja. Karena jika saja pekerja mengurangi frekuensi berkendaraan bermotor maka akan mengurangi tingkat polusi udara. Minimal kebijakan itu bisa dimulai dengan wajibnya penggunaan sepeda untuk bekerja pada hari Jum’at atau pekerja yang rumahnya berdekatan dengan tempat kerja harus menggunakan sepeda pada hari-hari tertentu. Lihat saja bagaimana berkurangnya polusi udara di DKI Jakarta hingga 50 persen pada saat pandemic karena jumlah kendaraan yang melintas di ruas jalan Jakarta dibatasi.

Memang tidak mudah untuk memulai sesuatu yang baru. Pemasyarakatan penggunaan sepeda dalam bekerja memerlukan persiapan dan perencanaan yang matang. Anggaran untuk membuat jalur-jalur khusus sepeda diperkirakan cukup besar. Di masa pandemi sangat sulit untuk menyisihkan anggaran karena banyak dana habis terserap untuk mengatasi penyebaran virus corona.

Hal yang penting terlebih dahulu adalah sosialisasi kepada masyarakat akan pentingnya bersepeda dalam berbagai aktivitas dalam rangka mengurangi zat polutan dari kendaraan bermotor. Mari kita kurangi berkendaraan bermotor. Mulailah dari aktivitas di rumah, apabila bisa dilakukan dengan berjalan kaki atau bersepeda maka lakukanlah. Mari kita bersihkan udara di sekitar kita. Mudah-mudahan alampun akan bersahabat dengan kita. Aamiin. (*)

 

Penulis:

Suhandi. S.ST, MM
Fungsional Statistisi BPS Provinsi Banten.*)
Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%