by

Sukses Bima Arya Tuntaskan GKI Yasmin: Terima Kasih Pak Mahfud MD dan Gus Yaqut

BOGOR– Wali Kota Bogor, Bima Arya mengucapkan terima kasih untuk Menkopolhukam, Mahfud MD dan sejumlah pejabat di Pemerintah Pusat atas keberhasilan penyelesaian sengkarut perizinan bangunan GKI Yasmin.  Bima Arya juga menegaskan komitmennya menjaga keberagaman dan toleransi antarumat beragama di Kota Bogor.

 

Lewat lini masa twitternya, Bima juga memberi mention ucapan terima kasih kepada Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, Kemendagri, Kantor Staf Presiden (KSP), Ombudsman RI, Komnas HAM RI dan Setara.

 

Terima kasih 

 

– twitt Bima Arya Sugiarto, Wali Kota Bogor. 

 

Bima Arya Korban Blackcampaign

Kisruh perizinan bangunan GKI Yasmin yang terjadi bertahun-tahun jelas telah digoreng menjadi persoalan politik identitas. Sengkarut perizinan yang dimobilisir menjadi konflik agama tentu bukan perkara mudah untuk dirampungkan kepala daerah. Bima Arya tak sekali dua kali mendapat serangan, tuduhan dan desakan dari elemen yang ingin mempolitisasi persoalan ini ke dalam konflik SARA (Suku, Agama, Ras dan Antargolongan). Padahal, konflik ini murni pelanggaran hukum administrasi, yakni perizinan yang bermasalah sejak awal bangunan didirikan.

Gaduh GKI Yasmin setidaknya telah menyita perhatian Bima Arya sejak ia mencalonkan diri di Pilkada 2013 silam. Kisruh bangunan yang tadinya diperuntukkan sebagai bangunan ruko (niaga) itu telah mencuat dan menjadi perhatian publik sejak kepemimpinan Walikota Bogor, Diani Budiarto, tepatnya sejak 2010.

Tekanan dan desakan untuk merampungkan sengkarut kasus ini jmengencang sejak Bima Arya dilantik sebagai Wali Kota Bogor, 2013 silam. Kota dengan teritorial 6 kecamatan ini kadung dicap intoleran sejumlah NGO (Non-Goverment Organization). Tuduhan serius tersebut jelas bermuatan politis dan salah kaprah jika publik mampu membaca dengan cermat ikhwal persoalan ini muncul. Tuduhan itu jelas bertendensi politis untuk mencoreng guyubnya hetegonitas (keberagaman) masyarakat Kota Bogor berlangsung damai dan toleran hingga kini.

Lihat saja bagaimana perayaan Cap Go Meh di sepanjang Jalan Suryakencana yang telah mendunia. Berjalan dengan semarak setiap tahunnya di Kota Bogor. Presiden Jokowi dan segenap kabinetnya juga tak segan-segan hadir dalam perayaan ini. Orang nomor 1 di Indonesia itu juga tak sekali dua kali memuji antusiasnya perayaan Cap Go Meh di Kota Bogor. Artinya jika melihat kondisi itu, tuduhan serius bahwa Kota Bogor termasuk dalam kota intoleran di Indonesia jelas salah kaprah.

Masyarakat sudah sedianya jeli dan cerdas melihat banyaknya oknum yang berupaya menggoreng isu GKI Yasmin itu menjadi bahan blackcampaign atas prestasi dan kerja keras Bima Arya dan mesin birokrasinya untuk menciptakan kerukunan dan kenyamanan beragama di Kota Bogor. (yus)