by

Ketika Saya Terpapar Delta Covid-19…

Sudah genap 14 hari saya menjalani isolasi mandiri (isoman) karena terpapar Covid-19 varian Delta. Paparan mutasi virus dari sempalan Covid-19 ini sungguh terasa sangat menyiksa. Dada sesak di awal-awal gejala, badan demam berhari-hari, nafsu makan turun karena indera penciuman dan lidah mati rasa. Dan hasilnya, bobot badan saya turun drastis hampir 7 kilogram. Itu pun saya sudah memaksa untuk makan secukupnya selama dua pekan belakangan. Tetap saja, nafsu makan benar-benar habis tak tersisa. Indomie rebus yang segitu nikmat dan difavoritkan banyak orang, hampir-hampir tak terasa enak sama sekali. Hambar. Hanya buah-buahan jenis apel dan minuman susu yang saya rasa enak untuk dikonsumsi.

Lewat tulisan ini saya ingin berbagi pengalaman sebagai penyintas Covid-19 varian Delta. Tadinya, saya ingin menulis buku bertajuk “Selamat dari Sakaratul Maut Delta Covid-19”, tapi karena waktu tak memungkinkan akhirnya saya putuskan untuk berbagi pengalaman lewat curhatan sederhana ini saja. Mudah-mudahan tetap berguna bagi teman dan sahabat pembaca yang budiman.

Padatnya aktivitas pekerjaan ditambah dengan tuntutan mobilitas lewat jalur kereta Bogor-Jakarta, saya yakini menjadi musabab paparan virus masuk ke dalam lubang pernafasan. Masker ganda yang selalu rajin saya pakai tiap ke luar rumah, kebiasaan cuci tangan yang sering saya lakukan dan upaya jaga jarak yang sering saya lakukan, tetap saja tak ampuh menahan virus ini masuk. Ini jelas membuktikan bahwa keganasan virus ini bermutasi. Bertambah ganas dan cepat sekali menyebar.

Saya mengalami gejala awal pada 2 Juli 2021, tepat dua hari menjelang hari kelahiran saya. Tadinya sempat berfikir, apakah Allah SWT akan mencabut nyawa saya tepat di hari ulang tahun. Tuhan berkehendak lain, umur saya dipanjangkan. Memang, di hari pertama serangan virus ini badan benar-benar terasa lemas, kepala pusing tak karuan. Suhu tubuh membumbung panas dari sekujur kaki hingga kepala, muka seperti dibakar. Mata memerah seketika. Badan terasa kedinginan menggigil seperti orang yang menghadapi sakaratul maut. Benar-benar payah total, seumur hidup saya baru mengalami kondisi kritis semacam ini. Saking paniknya, saya langsung berkontak dengan kolega-kolega dekat. Memberi kabar kalau-kalau umur saya tak lama. Memohon maaf jika ada salah ucap atau tindakan.

Di hari pertama itu, saya masih merasakan makan enak meskipun nafsu mulai menurun. Tetap saya paksa agar asupan karbo dan gula tetap ada di dalam tubuh. Disamping juga karena saya jor-joran konsumsi obat. Mau tak mau harus memaksa agar lambung terisi. Sesering mungkin saya paksa makan buah-buahan, khususnya apel dan per dingin. Air putih juga saya tambah porsi dari hari-hari biasa. Cara nekat ini saya lakukan agar organ dalam tubuh tetap stabil meski virus perlahan mulai menyebar. Sendi-sendi tulang bukan main nyerinya. Untuk berdiri saja tak sanggup. Seharian hanya selonjoran tidur dan sesekali memaksakan duduk agar aliran darah tubuh tetap stabil.

Di hari kedua, yakni di 3 Juli 2021, kondisi tubuh kian lemas. Sesak mulai terasa di bagian dada. Rongga hidung benar-benar mulai mampet nyaris tak bisa dipakai untuk bernafas. Untuk mendapatkan asupan oksigen, mulut saya buka lebar-lebar. Panik mulai menjadi-jadi karena banyak informasi menyebut rumah sakit kolaps dan kekurangan stok oksigen. Tak ada niatan untuk pergi ke rumah sakit. Bayangan saya, pergi ke rumah sakit malah akan menambah payah tubuh karena harus mengurus swab dan administrasi lain-lain. Tak ada jalan lain kecuali memaksa bertahan dan merasakan siksaan pernafasan sendiri di rumah. Badan demam, hidung mampet, terasa kedinginan parah dan sesak di bagian dada. Inilah yang saya rasakan hingga hari keempat, tepatnya 5 Juli 2021.

Pada 6 Juli, atau hari kelima, paparan virus semakin terasa mengganas di seluruh sendi tubuh. Nafsu makan saya mulai menurun drastis. Nasi beserta lauk yang pedas sekalipun benar-benar terasa hambar. Indomie rebus yang segitu enak kuahnya benar-benar terasa tak nikmat sama sekali. Hanya apel dingin, susu segar campur es batu dan jahe hangat yang terasa nikmat di lidah. Hampir-hampir semua buah-buahan kiriman pemberian mertua, saya lumat habis. Kiriman nasi dan lauk dari mertua hampir-hampir tak tersentuh, kecuali benar-benar saya paksa masuk mulut untuk ganjal minum obat. Hari-hari yang benar menyiksa sekali. Menjadi trauma psikis karena seumur-umur saya tak pernah mengalami sakit berat. Penyakit bawaan juga saya alhamdulilah tak punya. Tak ada riwayat saya nggendon dirawat di rumah sakit. Ini saya syukuri karena jadi rejeki yang diberi Tuhan untuk saya selama menjalani hidup. Rejeki lain yang perlu saya syukuri adalah memiliki mertua yang benar-benar peduli. Rutin dan sangat perhatian mengirim makanan, obat-obatan dan buah-buahan setiap hari selama saya menjalani isolasi mandiri. Saya tak habis pikir bagaimana nasib orang-orang yang menjalani isolasi mandiri dengan kondisi jauh dari orang tua. Jelas menjadi pukulan berat. Ini mungkin juga yang akhirnya merusak mental hidup pasien-pasien yang meninggal saat isoman. Benar-benar cobaan berat.

Pada hari keeenam hingga memasuki sepekan tersiksa virus ini, gejala tambahan muncul. Indera penciuman benar-benar hilang. Lengkap sudah penyiksaan virus ini, lidah hambar, penciuman mati bau. Tak ada nikmat makan dan hidup sama sekali. Untungnya, demam sudah mulai pulih. Sesak di dada juga mulai terasa mereda. Tapi, batuk kering mulai menyiksa. Jika batuk, terasa sakit sekali di bagian ulu hati. Terasa rontok betul di bagian kerongkongan. Perih dan sangat menganggu. Benar-benar menjadi hari menyedihkan, hanya terbaring lemas dan terasa pusing di bagian belakang kepala. Jika badan dipaksa berdiri, kepala pusingnya bukan main. Bawaannya hanya ingin berbaring.

Hari-hari menyedihkan ini saya alami hingga hari ke-13, tepatnya hingga 14 Juli. Indera penciuman perlahan mulai berfungsi, meskipun belum pulih total. Batuk kering mulai mereda. Badan mulai bergairah untuk berdiri dan bergerak. Kepala juga sudah tak terasa pusing ketika tubuh dipaksa berjalan. Namun, tetap saja nafsu makan belum kembali pulih. Untuk makan nasi belum terasa enak. Indomie belum enak sepenuhnya. Benar-benar ini membuat berat badan menyusut drastis. Saya bisa pastikan, orang-orang dengan komorbid atau penyakit bawaan akan jauh lebih tersiksa karena dia menanggung dua kali rasa sakit. Sakit karena disiksa paparan virus, dan tersiksa dari penyakit bawaan.

Kondisi saat ini memang serba membingungkan, terlebih terbit aturan PPKM Darurat. Susah bagi pekerja lepas yang mengharuskan ke luar rumah untuk menghidupi anak dan istri. Terlebih, banyak daerah mulai ngos-ngosan menutup krisis anggaran. Boro-boro untuk menambal kebutuhan warga terdampak corona. Untuk menggaji dan memberi tunjangan PNS rutin saja banyak pemda yang kelimpungan. Banyak teman yang kini menjabat kepala daerah mengeluh kebingungan menghadapi resesi kali ini. Perusahaan swasta juga sama sulitnya.

Sulit juga rasanya untuk tidak mengatakan kondisi negara ini genting dan darurat menghadapi paparan Covid-19. Angka kasus positif Covid-19 tak terkendali hingga melompat 50 ribu dalam 24 jam. Mortalitas melompat hingga 1.000 orang meninggal dalam 24 jam. Ini menjadi alarm keras bahwa ada yang salah dengan penanganan pandemi di negara kita. Kita mungkin terlalu jumawa dan sombong menganggap virus ini hanya semacam flu. Salah besar dan sangat fatal akibatnya. Covid-19 tak seperti virus flu. Ia mematikan. Ia menyiksa. Ia mengikis habis rasa percaya diri untuk hidup ketika kita benar-benar terpapar. Jangan pernah coba menantang apalagi tak percaya adanya virus ini. Lihat saja lahan pemakaman yang ramai setiap hari karena terisi kiriman jenazah pasien Covid-19. Lihat juga bangsal rumah sakit yang kolaps menampung pasien yang berdatangan. Covid-19 ada di sekitar kita. Mengancam kita sekalipun tak terlihat. Bisa jadi ia datang menjemput ajal kita. Tetaplah berdoa dan waspada. (*)

 

Penulis,

Penyintas Covid-19 Varian Delta.*)