by

Memaknai Profesi PNS

-Opini-12 views

Beberapa hari belakangan, konsentrasi pegawai swasta, khususnya yang menyandang status milenial, dibikin tak karuan. Memikirkan bertahan di perusahaan tempat ia bekerja, atau mencoba peruntungan dengan mendaftar seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Harus diakui, pegawai negeri menjadi pekerjaan idaman bagi hampir seluruh out put perguruan tinggi di Indonesia. Terlalu naif, jika lulusan perguruan tinggi tak meng-iyakan presepsi demikian.  Bekerja di zona nyaman, tak terbelenggu dengan jerat kontrak kerja yang sewaktu-waktu mengancam. Terlebih, musim pandemi seperti sekarang, banyak pekerja swasta yang was-was terombang-ambing konstelasi saham hingga bernasib sial, kena PHK (Pemutusan Hubungan Kerja).

Tak mengangetkan, jika setiap pembukaan lowongan CPNS, jutaan milenial penyandang gelar alumnus perguruan tinggi dan sekolah menengah mengantre mendaftar. Mereka rela merangkak, lesehan di aula tunggu hingga berdesak-desakan melihat hasil pengumuman tes. Hingga begadang menunggu antrean internet yang kadang lelet. Para pendaftar rela melakukan ini demi mendapat sebuah pengakuan, dan tentunya pekerjaan yang terjamin hingga hari tua. Pegawai negeri memang dipandang pekerjaan paling aman. Dapat tunjangan bulanan, gaji tetap hingga tunjangan pensiun yang jumlahnya terbilang cukup untuk memenuhi kebutuhan di masa senja, paling tidak dapur tetap ngebul tanpa harus mengerutkan kening. Sedikit mungkin, yang berfikiran bahwa menjadi PNS semata-mata adalah untuk mewakafkan diri menjadi abdi masyarakat, apalagi abdi bagi negaranya. Sangat sedikit sekali.  

Baru-baru ini, saya dibuat tertegun saat membaca hasil kajian Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pengembangan (OECD). Dalam kajiannya, menyebutkan, Indonesia bakal menjadi negara dengan jumlah sarjana muda terbanyak kelima di masa depan. Dua tahun lalu, Indonesia menyumbang empat persen sarjana berusia 25-34 dari 129 juta mahasiswa di seluruh negara anggota G-20.

BACA JUGA:  Begini Tahapan SKD CPNS dan Selkom PPPK di Kabupaten Tangerang

Pada 2020, OECD menegaskan jumlah itu bakal bertambah menjadi 6 persen. Sehingga, Indonesia sekaligus mengalahkan Inggris, Jerman, dan Spanyol, sebagai negara penyumbang sarjana muda terbanyak. Bahkan pada masa-masa itu kemungkinan besar jumlah sarjana terdidik negara ini tiga kali lebih banyak dibanding Perancis.

Selepas Perang Dunia II, kemajuan sebuah negara diukur dari berapa banyak lulusan perguruan tinggi setiap tahun. Jumlah mahasiswa S1-S3 yang terserap di pasar kerja menentukan perkembangan ekonomi bangsa itu pula. Amerika Serikat yang selama ini berada di posisi teratas dengan menyumbang 17 persen sarjana muda ke pasar dunia, kini kalah jauh dibanding China, dan jatuh ke urutan tiga daftar berisi prediksi ini. Tren negatif itu diikuti universitas-universitas Eropa yang tidak lagi banyak menghasilkan sarjana. Negeri Tirai Bambu sekarang hingga 12 tahun lagi digadang-gadang tetap nomor satu dalam urusan menyumbang jumlah sarjana ke pasar dunia. Perkembangan pengetahuan pun diramal bergeser ke Asia, sebab setelah China, berturut-turut menguntit India di urutan kedua, Rusia posisi keempat, lalu Indonesia. Meski demikian penyerapan sarjana Indonesia ke dunia kerja masih terhitung lambat, di beberapa bidang populer seperti IT tidak sampai 10 persen per tahun.

BACA JUGA:  Menghitung Economic Damage Pandemi Corona
Presiden Jokowi saat mengikuti upcara peringatan HUT Korpri, beberapa waktu lalu. (ist)

Jelas, fenomena ini sangat menakutkan bagi masa depan generasi Indonesia. Out put sarjana di indonesia makin tak terkontrol. Syahwat 3/4 dari lulusan perguruan tinggi berpacu mengejar pekerjaan sebagai PNS. Sementara 1/4 sisanya, memilih bekerja swasta lantaran menilai menjadi PNS adalah pekerjaan yang kurang tantangan.

Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 1975 Tentang Sumpah/Janji Pegawai negeri Sipil semestinya dipikirkan matang-matang oleh calon pegawai negeri. Mereka yang ingin menjadi PNS sedianya bisa bercermin, begitu beratnya beban moral menjadi seorang PNS. Badan, otak dan jiwa raga mereka dikontrak total oleh negara untuk menjadi pelayan masyarakat, abdi negara dan menjalankan amanah Undang-Undang. Mari belajar dari filosofi pelayan, sebelum menyandang status pegawai negeri sipil (PNS). (**)

BACA JUGA:  Meneropong Kabinet Kerja Jokowi Jilid II

Penulis : 

Yuska Apitya Aji Iswanto, S.Sos, M.H

Pegiat Ilmu Hukum, Public Policy Researcher, Praktisi Jurnalistik. **)

 

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.