by

Andai Pandemi ‘Corona Keparat’ Tak Selesai 5 Tahun, Apa yang Terjadi?

Beberapa hari ini, grup-grup Whatsapp warga Indonesia mulai membicarakan keresahan soal nasib kehidupan selama pandemi virus keparat bernama Covid-19. Ada yang mengaku sangat cemas, ada yang merasa terancam dan ketakutan, namun ada juga yang merasa santai. Perasaan khawatir, galau dan kalut itu tentu bisa dimaklumi. Terlebih bagi sesiapa yang belum pernah terpapar virus ini. Bagi yang sudah pernah terpapar, trauma psikologis juga masih menghantui hati dan pikiran karena melewati ujian sakaratul maut.

Serba sulit. Kondisi inilah yang kini dialami hampir semua orang di Indonesia. Tak hanya di perkotaan, namun rasa takut itu sudah menjalar ke masyarakat di pedesaan. Banyak petani mengaku ketakutan pergi ke sawah dan ladang karena banyak tetangganya yang meninggal setelah tersiksa Covid-19. Virus ini benar-benar sangat brengsek dan maha keparat. Merusak seluruh tatanan kehidupan, tatanan sosial dan tatanan ekonomi. Jika benar virus ini adalah produk ciptaan manusia, betapa laknatnya manusia yang tega menciptakan wabah sedemikian keji ini.

World Health Organization (WHO) sebagai badan organisasi kesehatan dunia di bawah PBB hingga kini mencurigai virus keparat ini berasal dari Wuhan, China. Tuduhan serius lain juga dilontarkan sejumlah politikus Partai Republik AS yang menyebut bahwa corona adalah virus yang berasal dari kebocoran laboratorium Wuhan. Intelijen-intelijen Amerika hingga kini juga terus melakukan infiltrasi dan mencari kebenaran dari mana virus keparat ini berasal.

BACA JUGA:  Akun Instagramnya Kena Report, Vanessa Angel Sepi...

Tuduhan terhadap China itu tentu sangat berdasar karena dikuatkan dengan banyaknya kuliner tak wajar seperti sup kelelawar, daging anjing hingga daging kucing di Wuhan. Terlepas dari konflik politik dan konspirasi antar dua negara adidaya tersebut, faktanya Covid-19 telah banyak membuat warga di Indonesia frustasi. Tak sedikit warga yang bunuh diri karena putus asa menerima kenyataan. Tak sedikit anak-anak menjadi yatim piatu karena nyawa kedua orang tuanya direnggut virus. Jika dihitung, sudah 18 bulan atau 1,5 tahun, virus ini menyerbu Indonesia. Faktanya, gelombang demi gelombang belum terlacak sampai hari ini. Tren kenaikan kasus positif di Indonesia juga masih ribuan per hari. Average day to day atau rata-rata hari ke hari kasus kematian akibat virus ini juga masih menjamah angka 1.000 jiwa lebih. Ini tentunya bukan masalah remeh dan otoritas di Indonesia jangan sesekali menganggap sepele.

BACA JUGA:  Awas! Nggak Pake Masker di Lebak Bakal Didenda Segini...

Lalu, bagaimana jika pandemi ini tak usai dalam setahun atau dua tahun, atau bahkan lima tahun ke depan? Bisa dipastikan banyak warga di Indonesia yang akan mengalami kematian karena faktanya belum ada obat ampuh (baik vaksin atau sejenisnya) yang sukses mengobati pasien terpapar. Dampak buruk pandemi lainnya yang lebih fatal adalah generasi muda usia produktif (18-35 tahun) terancam masa depannya karena terbelenggu keterbatasan. Baik terbatas dalam hal pendidikan, pergaulan hingga yang terburuk adalah mengalami trauma psikis karena hidup dirundung rasa ketakutan, kurang piknik dan hanya bisa meratapi hari-hari yang membosankan. Ini jelas sangat membahayakan nasib bangsa. (*)

Head of Editorial,

Yuska.

BACA JUGA:  Gerindra Sebut Duit Jiwasraya untuk Kampanye Pilpres, Apa Tuh Maksudnya?
Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%