by

Apa yang Bisa Dilakukan Milenial untuk Tingkatkan Ekonomi di Masa Pandemi?

Meski di tengah pandemi Covid-19, ekonomi digital di Indonesia pada tahun 2020 bertumbuh 11% dibanding tahun sebelumnya. Angka tersebut merupakan yang tertinggi dibanding Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam.

Hal tersebut didorong oleh perubahan perilaku masyarakat di masa pandemi. Masyarakat yang lebih banyak beraktivitas di rumah lebih memilih melakukan less contact economy seperti berbelanja daring, dan melakukan aktivitas pekerjaan melalui pertemuan virtual. Covid-19 juga membuat konsumsi produk kesehatan dan daya tahan tubuh meningkat.

Pergeseran pola konsumsi masyarakat tersebut juga mendorong UMKM yang tadinya melaksanakan usahanya melalui cara konvensional menjadi turut beradaptasi menggunakan e-commerce. Sebanyak 1 dari 5 pelaku usaha yang aktif menjual di e-commerce adalah pengguna baru.

Namun, jika dilihat dari nilai ekonomi digital per kapita. Secara berurutan, nilai terbesar masih dipimpin oleh Singapura, Malaysia, dan Thailand. Dengan demikian Indonesia masih berada di urutan keempat dibanding negara-negara tetangga. Untuk menjadi yang terbaik, berbagai tantangan dalam pengembangan ekonomi digital di Indonesia perlu diselesaikan, diantaranya infrastruktur, SDM digital, regulasi.

BACA JUGA:  DPR Juga Desak Komisaris PLN Diganti Gegara Krisis Batubara

Selain itu, potensi ekonomi digital di Indonesia masih dapat dikembangkan. Dari sisi demografi, berdasarkan data BPS pada 2020, dari sebanyak 270,2 juta penduduk Indonesia, sebanyak 163 juta orang berada direntang usia 15-64 tahun. Dimana penetrasi internet berada diangka 71%, dan penggunaan media sosial sebesar 59%.

Asisten Deputi Ekonomi Digital Rizal Edwin Manansang mewakili Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Digital, Ketenagakerjaan, dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah M. Rudy Salahuddin  yang menjadi narasumber dalam acara Kunjungan Vitual Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ke Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyampaikan bahwa peluang lain yang dapat dioptimalkan adalah kebutuhan digital talent di Indonesia yang cukup besar. “Indonesia membutuhkan talenta digital sebanyak 9 juta orang untuk 15 tahun kedepan. World Economic Forum (WEF) memprediksikan pada tahun 2025 akan ada 85 juta pekerjaan yang tergantikan karena automasi. Selanjutnya akan muncul pekerjaan baru dengan integrasi keterampilan manusia, mesin, dan algoritme.” Ujar Edwin.

BACA JUGA:  Ternyata! Banten Hadapi Inflasi Oktober Lalu

Berdasarkan laporan yang dikeluarkan oleh International Institute for Management Development (IIMD) World Competitiveness Center pada tahun 2020, peringkat kesiapan talenta digital Indonesia dalam menghadapi transformasi digital berada pada peringkat ke-45, jauh tertinggal dari Singapura di urutan pertama, dan Malaysia yang berada di urutan ke-18.

Edwin melanjutkan, “karena itulah, mahasiswa perlu berpartisipasi sebagai generasi milenial dalam era digital, yaitu milenial sebagai digital talent, pelaku usaha, sekaligus sebagai potensi pasar dalam negeri.”

Adapun dalam mendukung ekonomi digital, saat ini Pemerintah sedang melakukan penyiapan dan pengembangan SDM (talenta digital), menguatkan ekosistem start-up untuk mendukung digital entrepreneur, dan meningkatkan konektivitas sebagai backbone ekonomi digital. Langkah lain yang tak kalah penting adalah dengan membuat berbagai inisiatif pengembangan, kebijakan dan regulasi. (ag/fsr/hls)

BACA JUGA:  Kemenag Sosialisasikan Sistem Informasi Halal ke UMK
Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%