by

BRIN: Jawaban Quo Vadis Peneliti di Indonesia?

-Opini-3 views

Proses peleburan Lembaga Pemerintah Nonkementerian (LPNK), seperti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), dan Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) ke dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang terus dikebut hingga kini menjadi sinyal positif iklim riset dan penelitian di Indonesia. Benarkah BRIN menjadi jawaban atas pertanyaan Quo Vadis peneliti di Indonesia yang selama ini dipertanyakan banyak pihak?

Gebrakan Presiden Jokowi membentuk BRIN tahun ini menjadi pembaharu kehidupan akademisi yang selama ini bergulat dalam riset dan penelitian. Sebab, selama ini banyak yang mengait-ngaitkan profesi peneliti dengan dosen. Padahal, tak semua dosen rajin meneliti dan menulis jurnal hasil penelitian. Konklusinya, peneliti atau periset berbeda dengan profesi dosen yang hanya berkutat di urusan dikjartih (pendidikan, pengajaran dan pelatihan) semata. Gebrakan pembentukan BRIN ini tentu membuat gerah pejabat-pejabat struktural kementerian dan lembaga (K/L) yang selama ini hanya duduk manis dan tidak produktif melakukan penelitian. Bagi peneliti yang getol menekuni riset dan penulisan jurnal, lahirnya BRIN tentu menjadi kabar menggembirakan. Paling tidak, produk akademiknya akan lebih dihargai dan diterapkan ke lingkungan domestik.

Dalam Pasal 69 ayat 1 Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 33 Tahun 2021 tentang BRIN, yang diteken Presiden Joko Widodo pada 28 April 2021 disebutkan, dalam jangka waktu paling lama dua tahun sejak berlakunya perpres itu, tugas dan kewenangan pada LIPI, BPPT, BATAN, dan Lapan diintegrasikan menjadi tugas, fungsi, dan kewenangan BRIN. Lalu, Pasal 69 ayat 2 di perpes itu disebut bahwa integrasi yang dimaksud pada ayat 1 LIPI, BPPT, BATAN, dan Lapan menjadi OPL (organisasi pelaksana penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan atau litbangjirap) di lingkungan BRIN.

BACA JUGA:  Perempuan Menjawab Kemerdekaan

Lahirnya Perpres itu tentu akan banyak mengubah wajah dunia penelitian Tanah Air yang selama ini dicap mandul dan belum menghasilkan karya fantastis. Jika merujuk data Kementerian Ristek 2020, kuantitas peneliti di Indonesia jauh dari kata ideal yakni hanya mencapai 7.400 orang.  Rasio jumlah peneliti per satu juta penduduk di Indonesia ini merupakan salah satu yang terendah di ASEAN. Padahal, riset dan inovasi itu tergantung human resources. Lebih parah lagi, dari 7.400 peneliti tersebut, hanya 15 persen di antaranya yang memegang gelar doktor. Sisanya hanya menyandang gelar master, insinyur dan pendidikan vokasi peneliti. Tentu, ini menjadi persoalan karena esensi program doktoral yang diselenggarakan perguruan tinggi adalah untuk mendorong penelitian. Karena doktor diharapkan jadi leader dalam proyek-proyek penelitian, jadi artinya inisiatornya dan pemimpinnya pun masih kurang.

BACA JUGA:  Nasib Kesehatan Pekerja di Masa Pandemi

Jumlah peneliti di Indonesia terkesan banyak karena tak sedikit yang menganggap dosen yang berjumlah 308.607 orang juga merupakan seorang peneliti. Padahal, tidak semua dosen itu merupakan peneliti. Jauh dari kata idealisme kuantiti. Bahkan kalah dari negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Vietnam.

Lahirnya BRIN tentu menjadi berita bagus untuk pengembangan kehidupan riset. Rekrutmen peneliti-peneliti senior yang diambil dari  peleburan instansi maupun inpassing dari calon peneliti-peneliti muda serta rekrutmen CPNS yang kini tengah dilakukan BRIN, tentunya menjadi modalitas bagi pengembangan Indonesia untuk menjadi negara berbasis ekonomi inovasi.

Kepala BRIN yang ditunjuk Presiden Jokowi yakni Laksana Tri Handoko, juga tak sekali dua kali menegaskan optimisme untuk mewujudkan manajemen talenta nasional, khususnya di bidang riset dan inovasi, mengingat BRIN memiliki sumber daya terbesar dan terlengkap, baik SDM maupun infrastruktur dan anggaran.

BACA JUGA:  Rizieq Disikat, Teroris FPI HTI Serang Walikota Bogor Bima Arya

SDM Iptek merupakan modal kunci dalam membuat Indonesia keluar dari jebakan negara berpenghasilan menengah menjadi negara maju. SDM Iptek andal dan berkualitas juga akan dapat membawa lompatan kemajuan di bidang riset dan inovasi untuk meningkatkan perekonomian Indonesia. BRIN juga berencana mengundang para diaspora dan periset andal yang sudah memiliki jam terbang tinggi, dan menjadikan mereka sebagai bagian dari BRIN dan bekerja secara nyata di berbagai laboratorium yang ada di Indonesia. Semoga. (*)

 

Penulis, 

Yuska Apitya Aji, S.sos., M.H

Peneliti Kebijakan Publik. ***)

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%