by

Buanglah Ijazahmu, Belajarlah Berkarya

Hari-hari belakangan, muncul kabar gelombang PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) merajalela. Pengusaha dari berbagai kelas benar-benar tergilas badai pandemi. Tak hanya sektor swasta, perusahaan pelat merah di bawah Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) juga mulai cekak duit. Jangankan minta Penyertaan Modal Negara (PMN) alih-alih untuk menutup hutang dan biaya gaji pegawai, Presiden dan DPR tentu saja memilih akan mengalokasikan anggaran untuk menyuntik nominal bansos warga terdampak pandemi. Bukan PMN duit untuk bos-bos (komisaris dan direksi) perusahaan dan anak cucu BUMN. Kalau perlu, Presiden dan Menteri BUMN bisa membuat aturan baru, gaji komisaris dan direksi dipotong saja 70% untuk nyumbang bansos.

Bicara soal pengangguran, dunia bisnis memang kian keras. Jika Anda tak punya kemampuan bekerja dan jejaring pertemanan yang baik, jangan harap musim-musim paceklik seperti sekarang bisa leha-leha mendapat gaji bulanan. Dunia profesional tak selembek tempe goreng dingin. Persaingan kian keras seiring dengan transisi menuju era digital yang menuntut kemampuan di atas rata-rata, mulai dari kemampuan berbahasa asing yang harus fasih, melek digital dan sosial media, memahami strategi penguasaan kepentingan corporate hingga yang terbaru banyak kita pelajari dari China adalah soal kedisiplinan dan totalitas dalam bekerja. Jika tak memenuhi aspek ini, siap-siap saja jadi pengangguran sejati.

Perusahaan-perusahaan multinasional biasanya hanya melihat ijazah sebagai sarat melamar saja. Ketika kita menghadapi interviewer atau selektor dalam proses seleksi masuk, kita lebih ditempatkan pada banyak pertanyaan seputar kapasitas diri, etos kerja, kontribusi dan leadership. Pengalamannya di mana saja? Ahli di bidang apa? Bisa bekerja? Sanggup bekerja? Mampu bekerja? Bisa kerja dan komunikasi dengan tim? Pertanyaan penting ini akan dilontarkan seluruh perusahaan besar skala nasional dan multinasional dalam merekrut pegawai baru.

BACA JUGA:  PPKM Jawa-Bali Berdampak Signifikan pada Perbaikan Ekonomi, Begini Situasinya

Tak ada pertanyaan berapa IPK ijazahmu? Berapa tahun kuliahmu? Dunia profesional bisnis sangat keras. Jika Anda tak bisa mengikuti ritme perusahaan, siap-siap saja tergilas. Kecuali memang Bapak atau Kakekmu memiliki warisan perusahaan. Anda bisa otomatis hidup seenaknya dan menduduki kursi komisaris atau direksi tanpa harus capek-capek merangkak belajar soal manajemen korporasi atau pengembangan diri. Sekali lagi, dunia profesional tak selembek tempe goreng dingin.

Jumlah sarjana di Indonesia semakin tahun kuantitinya semakin mengkhawatirkan. Gap (selisih) kuantiti sarjana dengan ketersediaan lowongan kerja di Indonesia sangat signifikan. Kondisi ini yang akhirnya membuat presentase pengangguran usia produktif bekerja semakin tahun semakin bertambah drastis. Banyak kalangan profesional menyarankan, mahasiswa seharusnya bisa sembari bekerja agar mentalnya tak kaget begitu memperoleh jelar kesarjanaan.

BACA JUGA:  Butuh Terobosan Hukum untuk Atasi Polemik PPPK

Lihatlah betapa buruknya manajemen diri sebagian besar mahasiswa di Indonesia. Banyak yang menyia-nyiakan waktu. Berdemo tak jelas juntrungannya. Mondar-mandir ikut-ikutan berpolitik hingga kesulitan lulus karena banyak waktu belajar dan membuat skripsi tersita. Tak ada jaminan berkarir di politik. Tak ada gaji dalam proses politik. Konstitusional kita tak mengatur pekerja partai politik itu digaji. Pilihan utama jika Anda menyandang mahasiswa hanya belajar, syukur bisa sambil bekerja mencari pengalaman.

Tugas mahasiswa seharusnya dimaknai sebagai tugas akademistik. Bukan tugas politis. Begitu mereka dinobatkan sebagai sarjana, mereka akan dihadapkan pada rimba dunia nyata. Cari uang sendiri, nabung untuk menikah, membantu orang tua dan banyak kebutuhan lain dari yang tingkatannya receh hingga kelas atas. Untuk itu, jika Anda benar-benar tak siap menjadi pengusaha, mulailah untuk belajar mengembangkan diri. Menjadi pengusaha itu tak mudah. Lebih-lebih di musim paceklik pandemi yang tak jelas kapan berakhirnya ini. Tak usah terlalu membanggakan gelar kesarjanaan. Jadilah seperti gelas kosong yang ketika bertemu siapapun terisi oleh air ilmu. Dan ingatlah, ijazah hanya bukti pernah sekolah, bukan legitimasi utama kita benar-benar berpikir dan siap berkarya untuk berpendapatan. (*)

BACA JUGA:  Menghitung Economic Damage Pandemi Corona

Tim Editorial,

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%