by

Positif Covid-19, Sakit Terberat Sepanjang Hidup untuk Saya….

Sebulan yang lalu, saya dinyatakan Covid-19, hal ini tidak bisa saya bantah lagi karena beberapa hari sebelumnya saya memang merasakan gejala-gejala Covid. Sejujurnya ini sakit terberat yang pernah saya alami seumur hidup.

Gejala pertama Selasa, 29 Juni 2021, kepala saya dihantam pusing hebat, waktu itu saya sampai membatalkan dua kelas yang seharusnya saya ajar siang dan sore. Setelah ngajar kelas pertama di pagi, kepala saya benar-benar sakit semua sisi, sdari tulang alis sampai kepala belakang. Hari itu saya full istirahat, berharap besoknya saya membaik, tak lupa juga saya merebus jahe, kayumanis dan sedikit ketumbar. Biasanya air rebusan itu ampuh meredakan sakit kepala, tapi ternyata tidak, bahkan sampai sebulan pun saya masih merasakan pusing ini.

Setelah gejala pertama tersebut, badan saya panas dingin, gigil. Hingga di tanggal 1 Juli saya mulai demam, wajah memerah seperti kepiting rebus, dan kepala saya semakin berat, disusul dengan nyeri badan dan sendi. Berdiri terasa berat, jongkok sulit, tiduran juga tidak nyaman. Istirahat pun menjadi hal yang tidak kondusif, tidur nggak enak, bangun juga tak bertenaga.

Saat itu suami masih sehat, dan sempat bertanya kepada saya apakah mau ke dokter atau bagaimana, saya bilang belum perlu. Ditambah tahu banget bahwa suami setiap hari Swab, saya beranggapan swabnya selalu negative, masa iya saya Covid, padahal banyak kejadian begini kan.

Esoknya, Jumat 2 Juli 2021, saat bangun tidur, saya melihat suami saya memegang dan memijit pelan kepalanya. Saya bertanya kenapa, ia menjawab bahwa ia pusing, persis seperti pusing yang saya rasakan. Kami berdua sama sama meyakinkan namun sekaligus meragukan, “apa covid? Apa bukan” begitu terus sampai keadaan semakin memburuk lagi.

Saya masih terus memaksakan melakukan kegiatan-kegiatan di rumah, dari mulai merapikan rumah dan semua hal yang bisa saya kerjakan, termasuk memandu acara live Instagram Bincang Hidup Perempuan, meskipun saya tahu kondisi saya tidak baik dan memburuk, tapi saya masih berusaha kuat agar vibes positif itu bertahan di diri saya.

BACA JUGA:  Faktor Jokowi dan Andika: Ganjar Diusung Partai Lain, Prabowo-Puan Menang Pilpres 2024

Sejak jumat itu makanan mulai disuplai oleh orangtua saya, bukan hanya makanan saya dikirimi buah-buahan, obat-obatan dan apa pun yang saya perlukan tanpa harus ke luar rumah. Betapa bersyukurnya saya mempunya orangtua dan adik-adik yang peduli terhadap saya tanpa saya minta.

4 Juli 2021, saya sudah tidak bisa merasakan rasa makanan yang masuk ke mulut, diperparah dengan penciuman saya yang tidak berfungsi. Obat-obatan flu hingga radang memang ada, tapi saya mulai panik, mulai yakin bahwa ini bukan flu biasa, saya pun berkonsultasi dengan Halodoc, dengan sekian penjelasan saya, dokter menyarankan tetap ke klinik terdekat, apalagi sudah tidak dapat mencium dan merasa.

Sempat memanggil dokter homecare, namun kondisi PPKM dan terlalu jauh ke Bogor akhirnya membuat saya dan suami belum mendapatkan penanganan lanjutan. Kondisi suami kadang-kadang membaik, kadang kadang memburuk. Pada saat membaik dia mengajak saya ke dokter, setelah konsultasi dengan teman-teman nakes, maka saya disarankan ke klinik 24 Jam.

5 Juli 2021, antrian mengular panjang pada klinik di Jalan Soleh Iskandar Bogor, dengan suhu tubuh panas dingin, sedikit batuk, dengan hidung mampet namun tidak pilek, saya menunggu nomor panggil untuk konsultasi sekaligus Antigen. Yang tidak saya lupa, ekspresi dan ucapan dokter membuat saya langsung menangis.

“Astagfrullah, positif lagi, banyak banget yang positif, serius ini saya juga jadi takut kena,” ucap sang Dokter dengan nada getir dan pelan dari suaranya. Saya pulang dengan hasil positif, tidak perlu PCR untuk memastikan, kondisi tubuh memang drop dan payah sekali.

BACA JUGA:  Nasib Kesehatan Pekerja di Masa Pandemi

Saya minum semua obat yang diresepkan, mengikuti segala anjuran, makan terlebih dahulu, dan lain lain. Namun entah kenapa, kondisi saya justru semakin parah. Beda pada saat saya benar-benar mengonsumsi minuman herbal, vitamin dan madu.

Ada dimana hari itu saya tidak beranjak dari tempat tidur, tidak merasa lapar, tidak punya tenaga untuk bangun. Setengah tiga sore saya sadar, saya salah kalau tidak makan, tidak minum, bagaimana bisa sembuh, akhirnya saya paksakan berdiri menuju meja makan, sampai sana saya batuk-batuk dan untuk menahan sakitnya saya jongkok, rasanya ada yang mengganjal di tenggorokan, panas, gatal, ingin dikeluarkan tapi tertahan, ditambah tekanan pada dada dan perut sangat sakit efek dari batuk itu. Saya coba makan, dengan rasa asin dan aneh. Saya tidak sanggup melanjutkan, dan memilih kembali tidur.

Melewati hari-hari yang berat dengan napas yang semakin pendek, saya mengikuti semua anjuran, proning, telungkup dengan bantal, sampai akhirnya merasa nggak kuat, duduk di pinggir tempat tidur, saya bernapas seolah olah saya sedang yoga atau meditasi. Dan entah kenapa yang saya alami adalah susah tidur, baru bisa tidur selalu menjelang tidur, ternyata banyak pula yang mengalami hal tersebut.

Di hari ke-10 saya rasa kondisi saya membaik, beberapa pekerjaan rumah yang terbengkalai saya kerjakan, sudah mulai bisa agak lama pegang handphone dan buka media sosial. Ini penting juga sih, saat sakit tidak banyak yang saya kabari, meskipun akhirnya sempat terganggu dengan paket-paket yang datang dari teman-teman. Sungguh saya bersyukur, sebegitu baiknya teman-teman saya.

Sejak sakit tidak lupa juga saya lapor ke RT, Alhamdulillah responnya baik, bahkan saya disambungan dengan satgas covid dari Puskesmas Cilebut. Dan RT sempat bertanya waktu itu, apakah saya mau memberitahu warga atau tidak, saya jawab tidak, karena saya sejujurnya ingin istirahat.

BACA JUGA:  Korupsi Bansos dan Minimnya Kesadaran Moral Elite Politik

Hari ke 13, kondisi saya kembali drop, lambung saya sakit se sakitnya, makan minum langsung muntah lagi, air putih pun muntah, bukan lambung saja, rasanya mental saya terserang, dua hari tidak bisa makan, dua hari pula saya nangis terus. Saya pikir saya sudah mau sembuh, apalagi hampir dua minggu, nyatanya kondisi saya semakin melemah, segitu ganasnya Delta, padahal saya tidak punya riwayat sakit-sakitan.

Saya kembali konsultasi ke halodoc, dikasih obat yang ‘bagus’ kalau kata teman saya, nyatanya obat itu tidak membantu saya sama sekali, saya tetap muntah-muntah, saya putus asa saat itu, benar, saya bingung harus bagaimana, yang saya bisa hanya nangis, dan sambil nangis itu pun saya kembali merebus jahe dan teman-temannya, Alhamdulillah muntah mereda. Namun sisanya, saya cepat eneuk, mual, nggak enak pokoknya keadaan lambung. Sejak itu, sampai seminggu berikutnya saya hanya makan bubur, hanya itu yang diterima lambung saya.

Setelah dua hari muntah tiada henti, minum segala obat nggak sembuh, orangtua saya mengirimkan madu hitam, Alhamdulillah setelah itu saya pemulihan, namun pusing dan batuk kecil belum hilang hingga sebulan. Setelah selesai masa isolasi mandiri, terkadang efek jangka panjang yang masih dirasa adalah badan cepat lelah dan pusing. Oia, pada saat pemulihan saya memaksakan untuk olahraga teratur dengan ikut Zumba virtual class. Yang masih sakit yuk tetap semangat, bertahan bagaimanapun, makan apa pun yang kalian bisa, dan keinginan untuk tetap hidup. (Eka Ardhinie)

 

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%