by

IDI Kembali Bertingkah di Tengah Pandemi

-Opini-1 views

Alih-alih kerja, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) kembali berulah. Sejak lama IDI adalah menjadi organ politik, memainkan profesi sebagai sarana tunggangan politik. Terakhir IDI membuat kegaduhan dengan mengritik Menteri Kesehatan Budi Gunadi. Tak tanggung-tanggung IDI, lewat corongnya Slamet Budiarto.

Prestasi IDI bukan mendorong kreativitas, namun Cuma mengritik tanpa solusi. Misalnya, soal dokter Slamet Budiarto sendiri, dia hanya dokter teroritis. Tanpa prestasi. Secara manajerial juga payah. Buktinya? Dia berkoar-koar tentang teori Universal Health Coverage, namun kalau diamati anak SMP lewat Google juga bisa nulis kayak begitu. Jauh dari tulisan ilmiah sama sekali.

Kritikan IDI yang menuntut Budi Gunadi mundur, di tengah upaya penanganan Covid-19, yang menyebutkan tentang pembiasaan hidup disiplin bersama Covid-19, sebagai kesalahan oleh IDI, adalah mengada-ada. IDI mencari-cari kesalahan.

Ketidakilmiahan IDI, yang bernafsu mencerca tanpa data adalah wujud kebencian terhadap Jokowi. Publik paham Budi Gunadi menjalankan pekerjaan sebagai visi Jokowi. Tugas percepatan kerja termasuk vaksinasi secara membabi-buta digoreng dalam bentuk hoaks oleh IDI.

BACA JUGA:  Penurunan Pengeluaran Perkapita Hambat Perkembangan IPM Provinsi Banten

Slamet menyebar hoaks bahwa realisasi vaksinasi Indonesia baru mencapai 24.888.506, dari target herd immunity 208.265.720. Angka 24 juta lebih setara dengan 11,95 persen. Tuduhan bualan ala IDI.

Padahal, yang bener sesuai data, vaksinasi Indonesia telah mencapai 78.6 juta orang (37,76 persen), vaksin ke-1 sebanyak 52.4 juta dan vaksin ke-2 mencapai 26 juta.

Bahayanya seorang dokter yang ngawur soal data, akan sangat berbahaya dalam menangani pasien. Pasien bisa koit dan tewas kalau cara membaca data seperti dilakukan oleh manusia kacau seperti Slamet Budiarto. Ngeri.

Dan, IDI membutakan diri karena pikiran politik 2024 di depan mata, padahal kalau memang hendak bermain ilmiah IDI musti melihat Indonesia menempati urutan 10 terbaik di Bumi soal vaksinasi. Indonesia mengungguli seluruh negara ASEAN.

BACA JUGA:  Kemapanan Generasi Milenial Banten

Perjuangan Indonesia di bawah Presiden Jokowi, dengan pelaksana pekerjaan Menteri Budi Gunadi, seharusnya tidak direcoki oleh kalangan kadal gurun, juga manusia seperti Slamet Budiarto, yang sama sekali tidak bermanfaat.

IDI bertindak terlalu politis seperti MUI. Seharusnya IDI mendorong penelitian dan riset, termasuk obat dan terapi. Alih-alih mikirin urusan kesehatan, yang dipikirkan malah merecoki pemerintah. Yang lebih parah lagi, data yang disampaikan Slamet adalah data ngawur.

Jabatan mentereng, kalau dasar otaknya adalah kebencian, meski memimpin Rumah Sakit Islam, namun cara-cara menyebar hoaks dengan data yang ngawur untuk menyerang Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin adalah langkah blunder.

Konyol. Justru membuka kedok IDI menjadi organisasi yang tidak bermanfaat sama sekali bagi bangsa Indonesia. Lebih baik diam, orang macam Slamet Budiarto ini.

BACA JUGA:  Mafia Peradilan

Apalagi IDI seolah mewakili banyak orang cerdas berprofesi dokter, tentu memalukan para dokter yang masih waras. Daripada ngomong belepotan kesalahan yang merusak profesi dan organisasi IDI, diem jadi emas: bukan menjadi orang bebal bahlul asal ngomong meski gelar di belakang MH Kes.

Jadi kalau tidak punya solusi yang bener, mengusik kinerja mati-matian Jokowi lewat Menkes Budi Gunadi, mendingan sekali lagi Slamet Budiarto diem. Anteng. Urusin RS Islam Jakarta yang nggak maju-maju itu. Atau urusin kadal gurun yang menjadi acuan – yakni menyebarkan hoaks. (*)

Penulis: Ninoy Karundeng.**)

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%