by

Jangan Asal Comot Thinktank Politik!

Pernah ada pepatah bilang, orang yang paling berpotensi membuatmu sakit hati adalah orang yang paling dekat denganmu. Dan bisa jadi orang-orang yang hari-hari ini sangat dekat dan menjadi pembisik politik Ketua DPR RI, Puan Maharani telah melakukan itu. Sedih sekali membaca dan menyimak kritik pedas serta nyinyiran netizen di Indonesia soal eksistensi baliho Puan Maharani hari-hari belakangan. Entah, siapa thinktank politik cucu idola kalangan nasionalis di Indonesia (Bung Karno) itu sampai-sampai tega memberikan masukan dan saran yang keblinger.

Memang, dengan pemasangan massal baliho ke seluruh penjuru Tanah Air itu setidaknya telah melegitimasi bahwa Puan Maharani adalah kandidat utama Capres 2024 yang akan diusung PDIP. Bukan Ganjar Pranowo seperti apa yang kerap digaungkan netizen dan aktivis-aktivis politik dari berbagai latar dan layar. Namun, coattail effect (efek ekor jas) pemasangan spanduk itu hasilnya terlihat minus. Justru Ganjar yang belakangan mendapat simpati dari publik karena kadung diasosiasikan sebagai korban politik dinasti. Ini bukan kabar baik bagi PDIP tentunya.

Rasa-rasanya sangat tak meyakinkan jika ide pemasangan baliho itu datang dari pribadi Puan Maharani atau Sang Ibu, Megawati Soekarnoputri. Ide gila pemasangan baliho secara jor-joran itu tentu atas inisiasi thinktank, dewan pengarah dan pembisik politiknya. Puan selama karir politiknya tak dikenal sebagai politikus yang narsis dan mengumbar wajah lewat baliho serampangan seperti apa yang terjadi hari-hari ini. Dia adalah legislator dengan suara terbanyak di Indonesia. Di Jawa Tengah, saat Pileg 2019 lalu, balihonya hanya mejeng di beberapa titik saja. Toh, elektabilitasnya terbukti wahid di Pileg 2019 itu.

BACA JUGA:  Mantan Kades di Lebak Jadi Tersangka Korupsi Bansos Covid-19

Banyak akademisi-akademisi politik menyayangkan langkah sporadis thinktank Puan Maharani. Pesannya sama, jangan sembarangan mencari penasihat politik. Kita memang tak bisa asal comot konsultan politik, karena tak semua orang ahli dalam memberikan nasihat. Juga tak semua orang yang ahli menasihati itu memiliki tujuan baik dan tahu cara terbaik. Ketika kita mendapat nasihat atau wejangan politik, lihatlah secara cermat dan kritis siapa yang memberi nasihat itu. Pastikan yang memberi nasihat politik itu bukan Iblis dan kader-kadernya.

Sebab, nasihat dari Iblis dan kader-kadernya itu sangat membahayakan walaupun awalnya terasa sangat indah dan memabukkan. Pilihlah penasihat politik itu orang yang taqwa, shalih-salihah, takut kepada Tuhan dan orang berilmu.

BACA JUGA:  Tuntaskan GKI Yasmin, Bima Arya: Bukti Negara Hadir Lindungi Hak Beragama

Di hari-hari yang serba sulit seperti ini, hampir semua politisi kebingungan mencari jalan keluar. Baik presiden, menteri, kepala daerah atau anggota legislatif, semua mulai menggunakan jurus mabok untuk mencomot konsultan politik. Tak sedikit yang salah comot dan akhirnya kebijakan atau langkahnya diprotes, dibully habis-habisan dan yang paling tragis adalah dijadikan label ‘pemimpin tak kreatif’ dan karbitan. Dunia politik mirip dunia pernikahan. Pelik. Penuh misteri. Penuh dengan janji (yang katanya suci). Manis di awal, dan pada akhirnya belum tentu. Berhati-hatilah memilih konsultan. (*)

Head of Editorial,

Yuska.

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%