by

Kemenpora-BNPT Latih Ribuan Pemuda Jadi Agen Anti Radikalisme

Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri sejak Kamis (12/8) hingga Jumat (20/8) lalu telah 58 terduga teroris dari 12 provinsi. Mereka yang merupakan terduga teroris yang berafiliasi dengan Jamaah Islamiyah (JI) dan Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Selain para terduga teroris, Densus 88 juga 1.540 kotak amal yang dianggap sebagai wadah penggalangan dana.

Menyikapi hal tersebut, Deputi Pemberdayaan Pemuda Kemenpora, Faisal Abdullah, mengatakan bahwa kesalahan yang terjadi berawal dari pemahaman radikalisme yang kerap menyasar generasi muda untuk dijadikan target rekrutmen anggota teroris.

“Pemuda punya semangat semangat, idealis, dan berjuang keras dalam memperjuangkan sesuatu yang diyakini. Potensi inilah yang dimanfaatkan untuk direkrut menjadi agen teroris yang terjadi selama ini, bahkan dimasa yang akan datang terus seperti itu,” ujarnya.

Faisal mengungkapkan tahun ini, Kemenpora telah kesepakatan kesepakatan dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) untuk melakukan pembinaan terhadap agen-agen anti radikalisme dan kejahatan di tengah-tengah masyarakat.

“Kita sudah tandatangan dengan BNPT melakukan pembinaan kepada generasi muda, agar peringatan dini di lingkungan masing-masing ketika ada indikasi penyebaran paham radikalisme dan atau potensi-potensi yang mengarah pada tindakan mereka,” terangnya.

Terpisah, Deputi Bidang Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi BNPT, Hendri Paruhuman Lubis, turut mengapresiasi langkah yang dilakukan Kemenpora dalam mengantisipasi penyebaran paham radikalisme dan di tengah-tengah masyarakat.

“Anak-anak ini sangat potensial dijadikan target rekrutmen untuk menjadi anggota, jika diberikan pemahaman yang benar, wawasan kebangsaan, akan menjadi tantangan untuk menangkal serangan radikalisme dan yang berkembang di masyarakat,” ujarnya.

Hendri juga mewaspadai penyebaran paham radikalisme dan terorisme melalui dunia maya di saat Pandemi Covid 19. Menurutnya, Dunia maya saat ini tidak hanya dimanfaatkan sebagai ajang rekrutmen anggota, tetapi juga untuk menggalang dana pendanaan gerakan.

“Mereka melakukan perang psikologis, melakukan propaganda berbagai isu melalui jejaring Dunia maya. Saat pandemi ini, masyarakat diminta untuk tetap berada di rumah, maka sebagian besar waktunya akan berada di Dunia maya, ini yang menjadi perhatian kita semua agar tidak terpapar pada gerakan radikalisme, terutama generasi milenial yang tidak lepas dari internet,” tulisnya.

Sementara itu, Staf Khusus Menteri Agama, Mohammad Nuruzzaman menyatakan bahwa terorisme di Indonesia menjadi ancaman serius karena anasir dari organisasi-organisasi radikal masih ada.

Menurutnya, untuk menangkal penyebaran ideologi terorisme di tengah-tengah masyarakat, harus dilakukan penguatan masyarakat sipil, dengan melakukan pembinaan dan penyadaran kepada masyarakat, khususnya generasi muda yang kerap kali menjadi target rekrutmen anggota teroris.

“Pemuda khususnya, harus memahami betul bahwa gerakan dakwah yang dilakukan oleh organisasi-organisasi radikal, tidak sepenuhnya dakwah, tapi lebih pada gerakan politik dengan memanfaatkan isu-isu agama dengan pemahaman yang sempit, gerakan intoleran yang menganggap bahwa selain kelompoknya adalah salah,” ujarnya .

Nuruzzaman juga menitikberatkan kepada Kader Pemuda Anti Radikalisme dan Terorisme yang dibentuk oleh Kemenpora untuk menjaga dan merawat komitmen Kebangsaan yang tertuang dalam Empat pilar Kebangsaan, yaitu Pancasila, UUD 45, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika.

Tugas kader ini yang utama adalah menjaga Komitmen Kebangsaan dengan menyebarkan pemahaman agama yang lebih baik dari lingkungannya masing-masing. Selain itu, kader yang dibentuk oleh Kemenpora juga dapat membangkitkan kesadaran dan memberikan penayadaran kepada masyarakat untuk bersama-sama mencegah penyebaran paham radikalisme dan terorisme.

“Satu hal yang penting, ideologi masih mendapat ruang untuk berkembang dengan adanya Silent Mayority. Penganut paham yang intoleran sedikit sekali, hanya sebagian besar ummat islam acuh tak acuh terhadap isu teroris, padahal pelan-pelan kita sedang disusupi idiologi yang mengancam kesatuan, ini tugas kader,” pesannya.

Arifin Majid, sebagai Asdep Peningkatan Wawasan Pemuda Kemenpora turut menjelaskan bahwa Kader Pemuda yang disiapkan oleh Kemenpora, nantinya akan menjadi ujung tombak di tengah-tengah masyarakat untuk menangkal berbagai dan gerakan radikalisme dan mengarah pada perlawanan terhadap pemerintahan yang sah.

“Pada bulan lalu, selama 4 hari kami telah melatih para pemuda, secara virtual, tentang wawasan kebangsaan dan anti radikalisme dan terorisme, mereka yang akan kami bina untuk menjadi kader di masyarakat untuk menangkal provokasi oknum-oknum yang menyebarkan radikalisme dan terorisme untuk melawan pemerintahan yang sah,” terangnya.

Menurutnya, Kemenpora pada bulan Juli 2021 lalu telah melatih 2.500 kader pemuda yang tersebar di enam Provinsi, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, Sulawesi Tengah, dan Kalimantan Barat.

“Tahun ini kita bekali para pemuda tentang Anti Paham Radikalisme dan Terorisme di enam Provinsi sementara ini, di tahun-tahun berikutnya kita akan melaksanakan di Provinsi lainnya. Ini untuk membentengi agar tidak mudah terpapar ajakan oknum-oknum yang mengarah pada gerakan melawan pemerintah yang sah,” tegasnya.

Arifin juga menjelaskan bahwa upaya penanggulangan radikalisme dan merupakan salah satu prioritas juga di tengah situasi Pandemi Covid-19. merupakan sector esencial yang harus tetap dijalankan meskipun di tengah Pandemi Covid-19, Kemenpora dan BNPT telah kesepakatan untuk bersama-sama melaksanakan berbagai upaya pencegahan penyebaran paham radikalisme, terutama pada kalangan pemuda,” pungkasnya. (BIN/yus)

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%