by

Nilai Tukar Petani Banten dan Peranan e-Commerce di Masa Pandemi

Berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional Agustus 2020, 12,40 persen dari 5,6 juta penduduk berusia 15 tahun keatas yang bekerja di Provinsi Banten, bekerja sebagai petani. Untuk mengetahui kondisi kesejahteraan petani, Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan suatu indikator yang disebut dengan Indeks Nilai Tukar Petan sebagai proxy kesejahteraan petani.

Nilai Tukar Petani (NTP) adalah perbandingan antara indeks harga yang diterima (It) petani terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib). Indeks harga yang diterima petani disini adalah rasio harga yang diterima petani dari barang-barang hasil pertaniannya pada saat penghitungan dibanding dengan harga periode sebelumnya, sedangkan indeks yang dibayar petani adalah  rasio harga yang dibayarkan untuk semua barang-barang yang dikonsumsi baik untuk kebutuhan rumah tangga juga untuk proses produksi pertanian pada saat penghitungan dibanding dengan harga periode sebelumnya. NTP dapat digunakan untuk mengetahui fluktuasi harga dari It dan Ib, sedangkan Ib dapat digunakan sebagai pendekatan dari inflasi perdesaan. Indikator ini juga dapat menunjukkan daya tukar dari produk pertanian dengan biaya produksi dan barang/jasa yang di produksi (Publikasi Statistik Nilai Tukar Petani, BPS 2020).

Ada tiga kondisi hasil penghitungan NTP, pertama jika NTP yang dihasilkan lebih besar dari seratus (NTP ˃ 100), maka bisa dikatakan perubahan harga dari barang-barang yang dihasilkan petani lebih tinggi dari perubahan harga barang-barang yang dikonsumsi. Ke dua, sebaliknya jika NTP lebih kecil dari seratus (NTP ˂ 100), maka perubahan harga produksi para petani lebih rendah dari perubahan harga barang-barang yang dikonsumsi. Ke tiga, bila NTP yang dihasilkan sama dengan seratus (NTP=100), maka kenaikan atau penurunan harga produksi petani sama dengan kenaikan harga barang-barang yang dikonsumsi.

BACA JUGA:  Menjadi Pemimpin Berpikiran Positif

Berdasarkan publikasi yang telah diterbitkan BPS, sumber perhitungan NTP Provinsi Banten mencakup keseluruhan sub sektor yang ada. NTP Provinsi Banten pada periode tahun 2018 sampai dengan 2020 menunjukkan peningkatan. Pada tahun 2018 indeks NTP Provinsi Banten tercatat 99,70 kemudian mengalami peningkatan 1,15 poin pada tahun 2019 dan pada tahun 2020 meningkat lagi 1,42 poin hingga indeksnya mencapai 102,27. Akan tetapi jika dilihat pada tabel di atas, semenjak terjadinya pandemi covid-19 pada bulan Maret 2020, terlihat indeks NTP juga mengalami guncangan dan penurunan. Indeks NTP Banten pada tahun 2020 terlihat mulai mengalami penurunan sebesar 2,4 poin pada bulan April, dan ditutup pada besaran 100,74 pada bulan Desember. Secara rata-rata NTP pada tahun 2020 memang masih lebih besar dari tahun sebelumnya, tetapi jika dilihat dari angka indeks per bulan, kenyataannya NTP Provinsi Banten cenderung mengalami penurunan.

Pada tahun 2021 kondisi NTP Provinsi Banten terus tergerus hingga mencapai nilai indeks 95,87 pada bulan Juli 2021. Hal ini menunjukkan bahwa indeks harga yang diterima (It) oleh para petani di Banten terus mengalami penurunan dibanding dengan indeks harga yang dibayar (Ib). Dengan kata lain, kesejahteraan petani di Provinsi Banten pada tahun ini juga terdampak oleh pandemi covid-19 yang semakin meningkat akhir-akhir ini.

BACA JUGA:  Bagaimana Aturan Hukum Kendaraan Diambil Paksa Debt Collector Gegara Nunggak Cicilan?

Pada 3 Juli 2021, pemerintah mulai menjalankan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) mengingat wabah covid-19 yang semakin meningkat di pulau Jawa dan Bali, termasuk di wilayah Provinsi Banten, hal ini bertujuan untuk membendung laju kenaikan angka positif virus corona atau covid-19. Pada masa PPKM ini, semua sektor kritikal seperti bidang energi, kesehatan, keamanan, logistik dan transportasi, industri makanan, minuman dan penunjangnya, petrokimia, semen, objek vital nasional, penanganan bencana, proyek strategis nasional,  konstruksi utilitas dasar, dan industri kebutuhan pokok masyarakat, masih dibolehkan berkegiatan di kantor atau WFO dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Sehubungan dengan hal di atas, untuk menjaga kondisi ketahanan pangan di seluruh wilayah pulau Jawa dan Bali, diharapkan kegiatan pada sektor pertanian bisa terus berlangsung dengan baik. Hal ini sangat penting baik dalam kegiatan produksi, pengolahan, transportasi dan distribusi logistik pangan yang menjadi kepentingan dasar masyarakat.

Peranan e-commerce di masa pandemi Covid-19

Terkait dengan kondisi saat ini dimana pandemi Covid-19 belum dapat diatasi, maka masalah distribusi atau penjualan hasil pertanian juga harus dipikirkan dengan baik. Kita tahu bahwa banyak hasil pertanian yang tidak tahan lama atau cepat rusak jika tidak segera dimanfaatkan.

Sebagai alternatif jalan  keluar yang bisa mengatasi masalah pendistribusian produk hasil pertanian yang dapat diambil saat ini adalah melakukan percepatan sistim penjualan berbasis elektronik digital atau e-commerce di bidang pertanian, seperti yang sudah dicanangkan oleh Ditjen Hortikultura Kementrian Pertanian. Melalui mekanisme ini ada beberapa keuntungan yang dapat diperoleh petani dan konsumen, diantaranya mendekatkan petani dengan konsumen (end user), dapat memotong panjangnya mata rantai perdagangan dan meminimalisasi interaksi langsung antara pedagang dan pembeli, begitu juga dengan harga yang benar-benar kompetitif dan bisa diterima dalam kondisi segar, selain itu jangkauan pasarnya juga akan lebih luas dan bisa meningkatkan permintaan terhadap produk yang dihasilkan.

BACA JUGA:  Penyebab Perang Ukraina yang Disembunyikan: Perspektif Putin dan Zelensky

Untuk mewujudkan e-commerce di bidang pertanian ini diperlukan peran dari berbagai pihak, baik oleh swasta dan pemerintah. Hal ini disebabkan oleh karena kemampuan petani  yang terbatas dalam hal teknologi dan modal sebagai penyelenggara. Di Indonesia untuk skala yang lumayan besar mekanisme ini sudah dijalankan di Jakarta dan Bogor dengan nama Pasar Mitra Tani / TTIC Pasar Minggu, sedang untuk skala kecil Toko Tani Indonesia (TTI) sudah mulai dikembangkan di hampir seluruh provinsi. Mudah-mudahan usaha dengan berbasiskan elektronik digital ini bisa dikembangkan untuk menunjang perekonomian, utamanya untuk kesejahteraan para petani, termasuk petani di Provinsi Banten. (*)

 

Penulis:

Toga Hamonangan
Statistisi Ahli Madya pada BPS Provinsi Banten. *)

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%