by

Perempuan Menjawab Kemerdekaan

Tak terasa sudah 76 tahun Indonesia mendeklarasikan diri sebagai bangsa dan negara yang merdeka. Sudah selama itu juga sejarah dan pergolakan pengakuan terhadap eksistensi perempuan di Indonesia diperjuangkan. Mulai dari didirikan Kementerian dan Komnas Perempuan dan Anak hingga yang terbaru saat ini adalah rencana pengesahan RUU Perlindungan Kekerasan Seksual (RUU PKS) yang sedang dibahas DPR bersama Pemerintah.

Nilai penting dari sebuah kemerdekaan bagi perempuan bukan saja hak hidup, hak kehormatan, hak mendapat penghidupan dari pasangan dan hak politik. Namun, nilai kemerdekaan yang paling penting bagi perempuan dalam menyambut Era Milenium adalah hak mendapat perlindungan. Dilindungi harkat, derajat dan martabatnya di mata hukum.

Karena akhir-akhir ini, harus diakui perlindungan terhadap perempuan Indonesia masih belum mendapat jaminan khusus. Maraknya kasus pelecehan, perundungan, penghinaan dan perbuatan tidak mengenakan lain bagi perempuan, menjadi bukti bahwa jaminan kemerdekaan bagi perempuan perlu dipastikan secara tegas dan jelas.

BACA JUGA:  Jokowi Rombak Kabinet, Menkominfo dan Para Menteri Terpental

UU Penghapusan Kekerasan Seksual sudah seharusnya disahkan DPR bersama Pemerintah. Dengan demikian akan terlihat jelas keberpihakan pemerintah pada kaum perempuan Indonesia. Karena sejatinya bentuk dari perlindungan hukum sebuah negara terhadap suatu kaum adalah undang -undang khusus yang mengatur kaum tersebut.

Bung Karno pernah menyebut, “Nasib sebuah bangsa ditentukan dari kondisi perempuannya. Jika kondisi perempuannya baik, negara akan baik. Dan sebaliknya, jika kondisi perempuannya buruk, negara itu akan hancur,” dikutip dari Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat.

Dari rahim perempuan lah, regenerasi berjalan. Dari sentuhan perempuan lah, manusia mengenal kasih sayang. Dan dari ketulusan kasih sayang itulah lahir jiwa mengasihi, menyayangi dan menghormati antar warga negara. Bayangkan, jika seorang bayi tak mendapat kasih sayang perempuan. Betapa kerasnya kehidupan tanpa perempuan.

BACA JUGA:  Euforia Vaksinasi, Mudik dan Ancaman Gelombang Kedua Pandemi Corona

Untuk itu, lindungilah kami dari nafsu bejad dan tindakan biadab yang tak bermoral, karena kami adalah nenek mu, ibu mu, saudara perempuan mu, anak perempuan mu dan kekasih pujaan mu.
Buka mata hati kalian dengan cinta dan kasih sayang, segeralah wujudkan perlindungan hukum terhadap kami.

Hari ini 76 Tahun yang lalu, dimana teriakan kemerdekaan menggema diseluruh penjuru tanah air. Kita Merdeka dari penjajahan negara atas negara. Saat pekik merdeka itu berkumandang, saat itu lah dimulainya hari-hari bagi kita untuk saling menjaga, saling menghormati, saling melindungi dan saling membangun kemajuan dan keberadaban sebagai sebuah bangsa dengan persamaan nasib dan sepenanggungan.

17 Agustus adalah peringatan atas bebasnya sebuah bangsa dari penindasan bangsa lain yang kemudian melahirkan negara berdaulat yang diberi nama Republik Indonesia. Disana ada bekas-bekas perjuangan Kartini, Cut Nyak Dien, Martha Martina Tiahahu, Rohana Kudus, Dewi Sartika, Maria Walanda Maramis, Opu Daeng Risaju dan perempuan-perempuan pejuang kemerdekaan bagi Tanah Air ini. Maka, sudah sepantasnya penghormatan dan keadilan sosial bagi seluruh perempuan di republik ini dimuliakan.

BACA JUGA:  Keras! Wali Kota Tangerang Tegaskan Tak Boleh Ada Kekerasan terhadap Perempuan

Glorify Women, The State Will be glorious

Merdeka!

 

Eka Ardhinie, S.S., M.Sas,

Akademisi Universitas Gunadarma Depok. ***)

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%