by

Presiden Jokowi Bisa Percepat Reshuffle Kabinet

Dua malam belakangan ini grup-grup Whatsapp akademisi dan pegiat ilmu politik ramai membicarakan desas-desus reshuffle Kabinet Indonesia Maju. Sejumlah nama-nama menteri yang kerap membuat gaduh jagad maya mulai disebut, diantaranya Mahfud MD (Menkopolhukam), Luhut Binsar Panjaitan (Menko Maritim dan Investasi), Johnny Gerard Plate (Menteri Komunikasi dan Informasi) dan Moeldoko (Kepala Kantor Staf Presiden). Nama-nama ini dipandang akademisi dan peneliti politik sering sekali menambah rasa jengkel dan frustasi masyarakat lewat statementnya di media. Bahkan, di tengah gaduh dan kemarahan publik menyikapi PPKM, Mahfud MD bisa-bisanya malah membahas soal drama sinetron ‘Ikatan Cinta’. Jauh dari kesan sense of crisis seperti yang diamanatkan Presiden RI, Jokowi.

Desas-desus reshuffle menguat setelah sejumlah tokoh dipanggil secara pribadi oleh Jokowi ke Istana Kepresidenan RI. Salah satu tokoh yang dipanggil yakni Bima Arya Sugiarto (Wali Kota Bogor). Kabar Bima Arya ditarik untuk membantu kabinet Jokowi sebenarnya bukan berita baru. Saat PAN masuk ke gerbong Indonesia Maju, Bima dan Eddy Suparno kala penyusunan kabinet berjalan, disorongkan Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan untuk membantu Jokowi. Namun, ketatnya bargain masing-masing parpol pendukung Jokowi-Maruf membuat kedua nama ini mental.

Bulan ini, Bima Arya lagi-lagi dipanggil Presiden Jokowi secara khusus di tengah kedarutan penanganan pandemi. Kabarnya, Bima dipanggil untuk membenahi problem komunikasi publik istana yang akhir-akhir ini liar dan tak terkoordinir satu pintu. Apa yang disampaikan menteri-menterinya kerap bertentangan dan berlawanan dengan apa yang disampaikan presiden.

BACA JUGA:  Nunung Srimulat Pasrah dengan 3 Pasal Dakwaan Jaksa

Terbukti, Presiden Jokowi kerap mengeluhkan buruknya komunikasi istana ke masyarakat di tengah kegentingan dan kedaruratan pandemi. Tak sekali dua kali pria asal Solo itu mencak-mencak karena banyak menterinya masih bisa ketawa-ketiwi di tengah pandemi. Kejengkelan Jokowi memuncak saat mendapati banyak nyawa warganya melayang karena keteteran mencari oksigen, obat selama isolasi mandiri (isoman) dan ruang inap di rumah sakit yang belakangan kolaps menampung pasien.

Lagi-lagi komunikasi publik pemerintah di masa pandemi dikeluhkan karena apa yang diucapkan menteri tak selaras dengan fakta di lapangan. Kondisi darurat. Sementara sejumlah menteri melapor ke presiden kalau kondisi masih biasa dan jauh dari kata darurat. Hal tersebut akhirnya melahirkan persepsi di tengah masyarakat bahwa menteri-menteri bekerja hanya untuk menenangkan Presiden Jokowi semata. Tidak ada narasi yang relevan yang dibangun oleh sejumlah menteri. Akibatnya, banyak mahasiswa dan generasi milenial yang kerap membully. Banyak hoaks berseliweran. Dari sini, kewibaan pejabat rontok dan terkikis oleh narasi-narasi menteri yang jauh dari korelasi fakta lapangan. Tidak ada kesan yang serius, prihatin dan krisis yang ditunjukkan pembantu-pembantu presiden.

BACA JUGA:  Merawat Kebhinekaan di Merauke, TNI Manunggaling Kawula Rakyat!

Desakan publik agar Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) untuk secepatnya melakukan reshuffle kabinet sebenarnya sudah menguat awal Januari 2021. Satu nama yang disorot publik adalah Luhut Binsar Panjaitan. Banyaknya Tenaga Kerja Asing (TKA) yang masuk ke Indonesia di tengah kedaruratan pandemi telah banyak memancing amarah publik. Ditambah persoalan-persoalan lain yang nampaknya dipusatkan pada Menko Luhut. Namun, lagi-lagi Presiden Jokowi mempertahankan Luhut Binsar Pandjaitan di jajaran kabinetnya. Padahal Megawati yang partainya mendukung Jokowi dalam Pilpres 2019 lalu memiliki hubungan buruk dengan sosok Luhut. Akankah Jokowi segera mereshuffle kabinetnya? Kita tunggu. (*)

Tim Editorial,

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%