by

Satrio Piningit Tak Butuh Baliho

-Headline-30 views

Hari-hari ini bermunculan baliho tokoh-tokoh dari beragam partai politik. Ada yang memasang wajah dengan beragam pose, ada juga yang memainkan serangkaian slogan untuk menarik perhatian. Tujuannya tentu tak lepas dari kepentingan elektoral. Menaikkan citra dan keterkenalan (popularitas). Targetnya tentu sudah menjadi rahasia umum, kandidasi Pilpres 2024.

Banyak kalangan akademisi, masyarakat dan tokoh-tokoh senior politik meladeni sinis fenomena pemasangan baliho tokoh-tokoh partai itu. Terlebih, saat ini banyak masyarakat terjerembab dalam jurang serba kekurangan terdampak pandemi Covid-19. Masyarakat nampaknya juga kian acuh dengan akrobat baliho yang dimainkan tokoh-tokoh partai tersebut. Toh, yang dibutuhkan masyarakat saat ini bukanlah pameran slogan atau iklan muka dengan aneka editan tersebut. Pada akhirnya, masyarakat akan memilih sesiapa yang benar-benar turun ke bawah. Mencium keringat rakyat kecil. Dan berani membagikan apa yang dia punya untuk membantu kesusahan warga yang akhir-akhir ini benar terasa menyiksa. Angka pengangguran kian meningkat tajam seiring banyak perusahaan tutup warung terdampak pandemi.

Ajakan Presiden Jokowi dan petinggi Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk sama-sama gotong royong membantu warga yang kesusahan sedianya bisa dibaca oleh politisi-politisi di Indonesia. Jokowi setidaknya telah memberi sinyal, apa yang dibutuhkan masyarakat Indonesia saat ini bukanlah baliho-baliho besar yang dipajang di pinggir-pinggir jalan. Melainkan sembako dan bantuan sosial yang jumlahnya berapapun tetap akan berarti bagi masyarakat. Sebagai politisi matang, Jokowi juga telah memberi kisi-kisi kepada siapa pun yang akan melanjutkan kepemimpinannya harus bisa membaca arah dan kebutuhan rakyat hari ini. Bukan jargon, slogan atau baliho dengan beragam warna khas partai.

BACA JUGA:  Masih Available, Wika Salim Masih Jomblo Kok!

Kita tentu masih ingat fenomena booming Jokowi pada 2014 lalu. Ia tak dikenal dari spanduk. Jokowi juga tak dikenal cuap-cuap beragam slogan. Ia politisi yang lebih banyak diam dan bekerja ke bawah. Lihat saja Solo kala itu. Ia sulap menjadi kota yang begitu dikenal dunia Internasional. Dari kerja nyatanya itulah seorang Jokowi sukses mencuri perhatian publik hingga pelosok Tanah Air. Sekali lagi, bukan lewat baliho atau jargon-jargon yang terdengar basi.

Kemunculan Jokowi sebagai tokoh sipil biasa dan tergambar seperti wong cilik kala itu nyatanya memang sukses mendobrak keyakinan masyarakat akan kehadiran “Satrio Piningit”, seperti yang diramal Raja Kediri, Jayabaya. Jika ada bantahan bahwa Jokowi bukanlah Satrio Piningit pembawa kedamaian dan kemakmuran negeri, toh nyatanya hari ini banyak masyarakat Indonesia yang masih cinta dan berharap banyak pada pria Solo itu. Kalau pun Pilpres 2024 nanti ada tokoh yang tergambar seperti Satrio Piningit yang diramalkan Jayabaya tentu ia bukanlah yang hari-hari ini muncul lewat semarak baliho-baliho besar. Satrio Piningit ditafsirkan dalam filsafat Kejawen sebagai sosok ksatria pemimpin yang menjalani laku pingitan (dipingit, tak muncul berlebihan). Tokoh yang diramal Raja Jayabaya itu diyakini masyarakat sebagai sosok yang welas asih, ikhlas mengabdi dan membantu masyarakat kecil. Kapan munculnya? Benarkah 2024 akan ada tokoh yang diramal Raja Jayabaya muncul bukan lewat karbitan baliho? Kita tunggu. (*)

BACA JUGA:  Banten Tak Aman, Dikepung Zona Merah Covid-19

Tim Editorial,

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
50 %
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
50 %