by

Seni untuk Dinikmati, Bukan Alat untuk Melecehkan

Tiga hari belakangan ini, jagad politik Tanah Air dibuat geger dengan polemik mural wajah Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) di dinding terowongan inspeksi Tol Kunciran-Bandara Soekarno Hatta, tepatnya di Batuceper, Kota Tangerang, Banten. Lukisan mural yang dipulas dengan balutan caption ‘404: Not Found‘ itu bagi segenap kalangan oposisi tentu membuat girang bukan main. Lebih-lebih, mural itu kemudian diladeni dengan tindakan tegas aparat yang memburu pelaku pembuat. Seketika, isu ini digoreng bukan main oleh media-media massa dan pegiat sosial media (sosmed) yang menginginkan kerusuhan di negara ini.

Mural tersebut bagi masyarakat netral dan buta politik, sudah barang tentu dianggap melecehkan presiden sebagai kepala negara. Tak elok wajah presiden dijadikan bahan olok-olokan. Secara esensi, mural tersebut jauh dari kata seni yang tak layak untuk dinikmati. Sangat melecehkan. Kita semestinya paham batas-batas etik untuk menyampaikan kritik. Tak perlu melecehkan harkat dan martabat pejabat, apalagi pemimpin negara. Buruk baiknya pemimpin, bagus tidaknya kerja pemimpin, mestinya kita jaga, bukan kita olok-olok. Mikul dhuwur mendhem jero, begitu Filsafat Jawa menempatkan penghormatan bagi pemimpin.

Percayalah, tidak akan menjadi besar sebuah negara jika warganya tak bisa bersatu mendukung kerja keras pemerintah. Kritik memang dibutuhkan untuk mengimbangi pengawasan yang dilakukan lembaga legislatif dan peradilan (yudikatif). Namun, kritik tersebut sedianya disampaikan dengan cara-cara yang elegan, konstitusional dan disertai solusi. Presiden Jokowi dan menteri-menterinya juga tak sekali dua kali menawarkan bagi sesiapa yang memiliki ide bagus dalam penanganan pandemi, bisa menyampaikan langsung. Toh, pintu istana kepresidenan dan sosial media Presiden Jokowi sangat terbuka menerima sumbangsih saran dari warga.

BACA JUGA:  Tragis! Ketahuan Mesum sama Berondong, Wanita Diarak Keliling Kampung, Telanjang Dada...

Jika mau mengevaluasi dan mengaudit kegagalan kepala negara dalam penanganan pandemi, rasa-rasanya kurang pas jika tidak melakukan studi komparatif. Lihatlah juga negara-negara lain. Sampai hari ini, belum ada satu pun kepala negara di Dunia yang sukses menangani pandemi virus keparat ini. Amerika Serikat? Rusia? atau China? negara-negara besar ini juga buktinya jungkir balik dalam menangani pandemi hingga kini. Tak ada kepala negara yang terbukti sukses menyeimbangkan kepentingan kesehatan dan ekonomi di masa sulit pandemi sekarang ini.

Tak adil rasanya jika segala persoalan di masa-masa sulit ini dibebankan kepada seorang manusia yang bernama Jokowi. Lihat saja raut muka presiden belakangan ini. Nampak pusing, tak ada gairah, kurang tidur, tambah kurus. Politisi-politisi yang berbeda haluan juga harusnya menahan diri untuk tak memperkeruh keadaan. Jangan menjadi kompor dan meniup bara amarah warga. Media massa juga semestinya demikian. Hentikan kritik yang tak substantif. Apalagi kritik yang hanya sekedar cari sensasi, kejar klik atau panjat sosial. (*)

BACA JUGA:  Pemkab Serang "Keroyokan" Atasi Pengangguran

Tim Editorial,

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%